Ada sedikit kesamaan antara dunia kepenulisan dan stand up comedy. Keduanya lahir dari keresahan. Keresahan personal dari seorang penulis dan komika yang kemudian melahirkan karya dengan medium yang berbeda.
Komika goalnya adalah komedi. Bagaimana caranya apa yang ditampilkan oleh seorang komika kemudian pecah diatas panggung. Entah harus jungkir balik atau jualan kopi, yang jelas penonton tertawa. Makanya itu dalam banyak materi komika, sebelum di tampilkan, terlebih dahulu materi tersebut ditulis.
Kalau penulis tentunya lebih beragam lagi. Tidak harus lucu-lucuan. Karena memang genre kepenulisan itu banyak bukan. Bisa fiksi atau non fiksi. Novel, cerpen. Atau tulisan berat semisal politik dan sejarah pasti ada penulisnya kan.
Jadi keduanya memang lahir dari satu kegiatan yang menuntut otak untuk berpikir: menulis. Itu alasannya saya juga senang mengikuti perkembangan stand up comedy di Indonesia, walalupun bukan fans fanatik juga.
Bagaimana kemudian tulisan itu lahir? Keresahan jawabannya. Karena ada keresahan jadilah tulisan. Komika menuliskan keresahannya. Penulis pun menuliskan keresahannya.
Tentu tiap komika atau penulis pasti mempunya trik tersendiri untuk membuat karya mereka menarik perhatian banyak pihak–saya sendiri tidak begitu paham trik-trik kepenulisan di stand up comedy. Tapi hanya satu yang menjadi tujuan mereka ketika menulis: hanya ingin menumpahkan keresahan mereka menjadi sebuah karya. Supaya keresahan itu tidak mengganggu lagi di dalam otak. Syukur kalau karyanya kemudian berbuah menjadi finansial.
Keresahan ini bisa macam-macam kan. Bisa tentang keresahan sehari-hari atau pengalaan reflektif. Mulai dari urusan dengan tetangga sampai urusan dengan kepala negara. Persolan sepele ataupun persoalan kompleks. Semua bisa menjadi karya bagi komika maupun penulis.
Dan keresahan ini sejatinya lahir dari sebuah perenungan yang mendalam. Perenungan yang mendalam menuntut otak untuk berpikir dan hati yang kontemplatif. Tanpa bersenyawanya kedua unsur ini tidak akan ada yang namanya karya murni.
Otak membantu menganalisis persoalan. Menemukan di mana ada lubang yang bisa di masuki. Di mana ada lekuk yang bisa dikembangkan menjadi ide liar.
Otak membantu menemukan semua itu. Dan mengeksploitasi celah itu untuk melahirkan dan mengembangkan ide-ide liar yang menantang.
Sedangkan hati akan melakukan peran kontemplatif. Hati akan merenung. Memikirkannya menggunakan hati. Melihatnya dari sudut pandang rasa. Mencoba membangun empati. Merasakan bagaimana keresahan itu bekerja dan mengelilingi alam imajinasi. Dari situ akan lahir sebuah pencerahan atakuah mungkin sudut pandang yang baru, yang samal sekali berbeda dengan sebelumnya.
Begitulah kerja otak dan hati ketika melahirkan sebuah karya. Kerja-kerja sepeti itu jelas menuntut kejujuran personal. Kejujuran seorang insani. Kejujuran yang lahir dari otak dan hati. Tanpa adanya kejujuran, mustahil menghasilkan karya. Kalaupun menghasilkan karya namun akibat distorsi, ya apalah arti.
Iya, bisa saja laku. Sebab laku atau tidak itu sudah bukan urusan otak dan hati lagi. Tapi itu sudah urusan pasar, urusannya orang marketing. Tergantung bagaimana mengemasnya.
Namun semua itu akan ketahuan ketika publik mulai melihat karyanya. Apakah karya ini lahir dari sebuah kejujuran ataukah manipulasi.