Watak manusia di hadapan uang sama saja. Setidaknya begitu saya meyakini ketika saya melihat diri sendiri dan orang lain.
Semakin besar nominal uang, semakin besar pula pengaruhnya kepada perubahan watak manusia. Dan ini hampir berlaku bagi semua manusia tanpa terkecuali. Menegasikan jabatan dan status sosial.
Tidak semuanya tentunya. Salah juga kalau meng-generalisir. Akan selalu ada pengecualian. Namun saking kuatnya bagaimana uang bekerja dalam kehidupan manusia, sampai-sampai orang-orang yang tidak berubah wataknya karena uang sangat sedikit spesiesnya.
Tidak perlu jauh-jauh melihat orang lain. Lihatlah dirimu sendiri. Misal kau punya uang 1 juta rupiah, sedekahkanlah 2,5%, jadinya 25 ribu rupiah. Gampang.
Sekarang nominalnya kita naikkan jadi 100 juta rupiah. Dengan potongan yang sama 2,5%, didapatlah angka 2.5 juta rupiah. Masih mudah? Oke.
Kita naikkan lagi nominalnya menjadi 100 miliar rupiah. Masih dengan potongan yang sama 2,5%. Kali ini potongannya tentu menjadi lebih besar dong, 2,5 miliar rupiah. Masih mudah tidak sedekahkan secara cuma-cuma uang 2,5 miliar rupiah? Saya yakin kebanyakan orang akan merasa sulit menyedekahkan uang 2,5 miliar secara cuma-cuma. Kalau ada impact baliknya mungkin gampang.
*****
Ya begitulah realita cara kerja uang. Semakin besar nominalnya semakin besar pula tarikannya. Dan butuh usaha ekstra jika ingin lepas dari tarikan gravitasi uang. Jika tidak ingin menjadi hamba uang, hamba dunia.
Apa mata uang yang universal bagi seluruh manusia? Apakah USD seperti banyak orang pakai di transaksi di dunia saat ini? Ataukah saingannya Yuan Tiongkok? Ataukah Euro mata uangnya orang Eropa? Atau mungkin GBP mata uangnnya orang Inggris?
Semuanya salah. Mata uang yang paling universal bagi manusia adalah uang itu sendiri. Kalau anda punya uang, di mana pun anda semua akan menjadi mudah.
Hari ini memang zaman serba sulit. Semuanya, segala hal hanya dilihat berdasarkan parameter materi. Sana-sini bayar semua. Kalau kau punya kelebihan uang tentu jadi mudah. Apalagi hidup di Indonesia. Mau ngambil uang saja harus bayar pakai uang. Lihat saja itu parkiran di atm.
Beginilah sistem ekonomi kapitalis yang kita rasakan. Di mana yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin. Jurang perbedaan antara si kaya dan miskin semakin hari semakin dalam dan lebar perbedaannya.
Kalau ekonomi sosialis kira-kira rasanya gimana ya?