Baru selesai nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tadi malam. Ya memang saya tidak terbiasa FOMO dengan yang seperti ini. Film ini sendiri tayang premierenya tahun 2013, sudah 11 tahun sejak tayang perdana baru saya nonton. Lumayan lama juga. Hahahaah..
Apa yang bisa saya komentarin dari film ini? Tidak banyak sih, saya sendiri bukan kritikus film juga. Jadi ya sekenanya saja.
SINOPSIS
Berlatar tahun 1930-an, filmnya sendiri menceritakan tentang Zainuddin (Herjunot Ali) pemuda kelahiran Makassar yang mempunyai keterunan Padang berlayar menuju ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh. Setiba di Batipuh, Zainuddin jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Hayati (Pevita Pearce). Gayung bersambut, Hayati pun jatuh cinta dengan Zainuddin. Namun cinta muda-mudi terbentur oleh tembok besar, adat.
Adat Minang menganut sistem matrilinealitas, yang dimana mengatur alur keturunan bersal dari pihak ibu. Zainuddin pun tidak dianggap sebagai orang Minang oleh masyarakat sekitar. Merasa terkucilkan, Zainuddin memutuskan pindah ke Padang Panjang. Di sisi yang lain, seorang pemuda mapan dengan pergaulan dan pendidikan Eropa bernama Aziz (Reza Rahadian), juga telah melamar Hayati.
Setelah diadakan rapat keluarga, diputuskan lamaran Aziz lah yang diterima. Zainuddiin yang patah hati memutuskan pergi ke Batavia bersama Bang Muluk (Randi Nidji).
Di Batavia, Zainuddin menemui peruntunganya. Zainuddin menjadi penulis roman terkenal, bukunya tersebar ke seluruh negeri dengan ribuan pembaca.
Peruntungan Zainuddin ternyata belum selesai. Seorang rekan bisnis memintanya mengurus penerbitan koran yang akan bangkrut di Surabaya. Tangan emas Zainuddin kembali bekerja, penerbitan koran menjadi berkembang pesat dan Zainuddin bertambah mahsyur dengan kehormatan dan kekayaannya.
Tidak dinyana, Zainuddin bertemu kembali dengan Hayati yang kala itu datang bersama dengan Aziz di sebuah pertunjukan opera yang diadakan di rumah Zainuddin. Kenangan masa lalu kembali muncul antara Zainuddin dan Hayati. Pada akhirnya hubungan Zainuddin dan Hayati kembali menemui jalan terjal ketika Hayati akhirnya pulang ke Batipuh, setelah peristiwa tragis menimpanya.
ULASAN
Ada beberapa yang menjadi catatan saya setelah menonton film drama ini. Film ini sendiri berlatar di Padang dan juga mengangkat sedikit tentang budaya masyarakat Minang di sekitar tahun 1930an. Makanya dialognya banyak menggunakan bahasa daerah. Bagi yang bukan masyarakat daerah setempat tentu sebaiknya pakai subtitel untuk lebih mudah paham. Dan uniknya juga, begitu banyak ungkapan-ungkapan yang sifatnya rodok nyastara yang dijadikan dialog. Apa mungkin seperti itu keseharian orang Minang ya? Saya juga tidak begitu tahu.
Akting Herjunot Ali sebagai orang makassar sudah cukup bagus, cuman masih agak kaku bagi saya yang orang Makassar. Ada juga scene tenggelamnya kapal yang kelihatan sekali editingnya, editingnya kasar. Entah mungkin begian itu memang disengaja seperti itu. Dan juga visualisasi tempo doloenya menurut saya sudah cukup bagus. Overall, film ini bisa menjadi rekomendasi untuk genre drama.