Bagi anak PKS Kembara itu bukan berarti pergi ke mana-mana tanpa tujuan jelas seperti yang disabdakan KBBI. Kembara alias Mukhayyam (nama dulunya) adalah salah satu perangkat kaderisasi sekaligus perangkat tarbiyah bagi para anggota PKS. Di mana pesertanya melakukan perkemahan dalam waktu 2-3 hari. Kurang lebih sama dengan perkemahannya anak pramuka. Karena Kembara adalah kegiatan perkemahan sekaligus kaderisasi, peserta Kembara nantinya tidak hanya membawa perlengkapan perkemahan saja. Tapi juga perlengkapan tambahan yang diminta oleh panitia sesuai dengan agenda acara.
Bedanya dengan rihlah apa? Secara kata rihlah itu perjalanan. Misal kamu pergi wisata ke suatu tempat itu adalah rihlah. Perjalanan dari rumah ke kantor juga rihlah. Atu cuman jalan-jalan sore habis mandi juga bisa disebut rihlah. Jadi perlengkapan bawaanya tidak akan sebanyak dan seribet Kembara. Beda lagi kalau kamu rihlah bersama dengan Ibnu Batutah keliling dunia naik kapal.
Jadi pertanyaan, apakah Kembara ini semacam hak atau kewajiban bagi anggota PKS? Suatu waktu pembimbingku pernah mengatakan kalau kembara ini adalah hak anggota. Tapi di waktu yang lain juga mengatakan Kembara ini adalah kewajiban. Jadi mana yang benar, hak atau kewajiban? Ataukah Kembara ini adalah hak dan kewajiban secara bersamaan?
Jika melihat dari esensi dan penekanan terhadap kegiatan ini, saya berpendapat bahwa Kembara ini adalah kewajiban. Bukan hak dan juga bukan hak dan kewajiban. Tapi kewajiban.
Jika memang itu hak, maka keputusan mengikut Kembara adalah hak prerogatif individu. Mau ikut atau tidak itu terserah dari individu masing-masing. Ikut ya syukur. Tidak ikut juga tidak jadi masalah. Tapi di Kembara, kita akan selalu ditekankan harus mengikuti kegiatan tersebut. Setiap orang harus meluangkan waktu, mengosongkan waktu untuk agenda itu. Kembara harus menjadi prioritas utama atau agenda utama jika ingin membuat lingkar merah di kalender. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti Kembara. Yang berkerja harus menyiapkan waktu cuti untuk kegiatan Kembara tersebut.
Kenapa Kembara menjadi begitu penting dan bersifat fardu ain oleh anggota?
Kembara adalah sarana penguatan fisik, mental, dan ukhuwah antara ikhwan. Fisik akan dilatih melalui serangkaian kegiatan long march, mendaki, lari, senam, dll. Berada di alam liar–ya gak liar-liar amat, sih–dan situasi sulit akan memperlihatkan seperti apa mental seseorang. Apakah di seorang pengeluh dan menjadi beban bagi temannya yang lain. Ataukah dia seorang pasukan berani mati takut lapar. Semua akan terbuka jika mendaki bersama. Dan menanggung kesulitan bersama-sama tentunya akan menjadi semacam tali pengikat yang kuat.
Tapi yang membuat Kembara menjadi wajib. Yang mengharuskan kita meninggalkan semua agenda demi ikut Kembara, seakan-akan semuanya adalah tentang Kembara, yang seakan besok terjadi kiamat jika tidaki kut Kembara, tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia adalah perangkat kaderisasi itu sendiri. Kembara adalah kaderisasi. Sesederhana itu saja.
PKS adalah partai politik. Dan kader adalah nyawa parpol. Kaderisasi itu berarti menghidupkan nyawa parpol. Begitu doang.
Tapi karena PKS itu adalah partai Islam aka partai dakwah. Nilai-nilai nulur keislaman jamak berkelindan dengan pragmatisme politik praktis. Membua kabur dan susah mengenali apakah itu sesuatu itu adalah nilai keislaman ataukah hanya perintah partai saja.
Karena berada dalam dua sisi yang berbeda, maka sangat penting mengenali dua sisi tersebut. Agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan bagi anggota PKS sendiri. Karena konsekuensinya jelas. Konsekuensi agama berurusan denggan sang khalik. Konsekuensi politik berhubungan dengan partai. Berurusan dengan partai buruk-buruknya dipecat dari partai. Berurusan dengan Allah buruk-buruknya nyawa dicabut. Minimal berdosa deh. Jadi pandai-pandai saja melihatnya dan gak usah terlalu serius.
Saya sendiri akan berusaha meluangkan waktu untuk mengikuti Kembara. Bukan karena saya itu adalah proses kaderisasi. Jujur saja saya tidak terlalu memikirkan hal itu. Saya meluangkan waktu ikut Kembara karena memang saya senang dengan kegiatan outdoor. Berkemah dan berolahraga di alam terbuka. Berinteraksi dengan orang baru dari berbagai macam budaya dan latar belakang adalah hal menyenangkan. Jadi sebisa mungkin saya akan menyempatkan untuk ikut. Tapi jika pun memang tidak bisa ikut karena bertabrakan dengan jadwal yang lebih penting dan mendesak. Ya tidak apa-apa tidak ikut Kembara. Tidak ikut Kembara bukan berarti dosa. Walaupun ultimatum dari pembimbing datang bertubi-tubi. Ya sudah abaikan saja. Bodoh amat gitu. Selama alasannya memang valid dan tidak dibuat-buat loh.
Tapi saranku, ikut saja lah. Ini bukan demi partai. Bukan demi PKS. Ini demi dirimu sendiri. Apa tidak bosan berurusan dengan tugas kantor tiap hari? Keluarlah sebentar. Tinggalkan sejenak rutinitasmu. Mungkin akan ada energi tambahan sepulangmu dari Kembara. See you.