Setelah tulisan kemarin, kepalaku rasanya lebih ringan. Seperti batu kali paling besar yang ada di sungai Meli hanyut tersapu banjir bandang. Kini ada ruang bagiku untuk sedikit berpikir jernih. Tidak ada yang kuharapkan selain: semoga diriku tidak menuruti setan pemalas itu. Kali ini kucoba menulis kembali, tulisan kedua di tahun ini. Mari kita lihat, seberapa mampu saya menyelesaikan tulisan ini. Sampaikah 600 kata? Markicob.
Sudah lama saya ingin menuliskan ini. Tetapi seperti yang kalian tahu. Aku lebih senang menjadi budak setan pemalas yang menemaniku dari hari ke hari dan setiap saat.
Perhatikanlah bagaimana negara ini bekerja dalam mengurus rakyatnya. Masalah stunting diselesaikan dengan MBG. Sumpeknya ibu kota diselesaikan dengan membangun IKN. Transportasi massal diselesaikan dengan kereta cepat. Ketahanan pangan diselesaikan dengan food estate. Apa kesamaan dari semuanya? Proyek. Betul sekali. Masalah diselesaikan dengan proyek. Jika melihat struktur pejabat di pemerintahan, mau itu eksekutif dan legislatif, sama-sama menampung banyak pengusaha. Dan sinonim pengusaha tidak lain tidak bukan adalah untung, laba, duit. Dari mana mendapatkan duit itu. Apa lagi kalau bukan proyek.
Mereka pengusaha. Tetapi entah kenapa, ketika mereka menggunakan seragam aparat, mereka tidak tahu bagaimana caranya mencari uang untuk negara. Tahu mereka hanya menghambur-hamburkan uang negara. Ataukah sebenarnya mereka memang tidak lupa bagaimana caranya memanen duit. Hanya saja duitnya lari ke mana, mungkin hanya tikus yang tahu.
Tengoklah MBG, program utama dan janji paripurna Prabowo ketika kampanye. Pondasi dasar kenapa MBG harus ada masalah stunting. Menjadi agak laen ketika MBG yang tujuan asalnya adalah mengatasi stunting diberikan kepada anak sekolah. Lah, kok isok? Entah siapa yang kasih ide. Ini tentu ide konyol. Kalau mau hapus permanen stunting tentu yang perlu diperhatikan adalah ibu hamil dan anak yang baru lahir kan. Karena disitulah momen emas pemenuhan gizi bagi anak agar tidak tumbuh jadi manusia busung lapar. Nah ini kok jadinya dikasih ke anak sekolah? Sudah telat bos. Jadi tujuannya dikasih ke anak sekolah apa?
Anggaran untuk program MBG ini tidak main-main. Tahun 2026 targetnya adalah 335 triliun. Bayangkan uang sebanyak itu hanya digunakan untuk makan tok beserta tetek bengeknya. Gila. Sekarang duit itu lari ke mana? Ke dapur SPPG dong. Yang punya SPPG siapa? Tentu saja orang berduit, satu. Yang berikutnya adalah konco. Kemarin yang masuk dalam tim pemenangan ayo semuanya masuk. Langsung ACC kok.
Bayangkan betapa besarnya duit 335 triliun dihamburkan hanya untuk kasih makan orang. Kalau memang uang itu untuk perbaikan pendidikan. Kenapa tidak digunakan untuk menaikkan gaji guru, memperbaiki kualitas guru, renovasi sekolah, penambahan saran dan prasarana. Ini ibarat peribahasa, “lain gatal, lain digaruk”. Yang gatal mana, yang digaruk mana. Dibilang IKN adalah program paling kacau ternyata ada juga program yang tidak kalah kacau. Jadi penasaran kenapa kok prabowo negebet sekali dengan MBG ini. Entah siapa yang kompori, yang bisiki siapa. Yang jelas orang ini jagolah. Masalah yang sebegitu kompleks bisa diselesaikan dengan sebuah ide yang tidak perlu ongkos berpikir banyak. Rispek deh pokoknya.
Proyek di kolong langit ini selau identik dengan korupsi. Dan itu sudah berlangsung sejak dahulu kala, masuk chapter reformasi hingga zaman medsos, watak proyek selalu sama: korupsi. Bukan berarti saya anti proyek. Tentu saja tidak. Pembangunan jembatan, sekolah, dan rumah sakit tentulah juga proyek. Dan itu kita butuhkan. Tapi memproyekkan semua program kerja apa itu tidak berlebihan menurutmu? Apa tidak keblinger? Sebermanfaatnya proyek dan output yang dihasilkannya. Tetap saja yang menikmati uang itu adalah orang tertentu. Melihat watak kapitalis di negeri ini, sudah jelas yang mendapatkan potongan terbanyak adalah orang-orang pemilik perusahaan itu.
Entah sampai kapan pejabat-pejabat itu akan menyadari dan berhenti dari pembangunan ekonomi yang bersifat proyek. Bisakah kita menyiapkan bibit-bibit pejabat otak encer dan hati jujur di kemudian hari dengan kondisi pendidikan yang carut marut hari ini? Semoga ada keajaiban di masa depan.