Adakah partai revolusioner di Indonesia saat ini? Atau pernahkah Indonesia mempunyai partai revolusioner? Apakah PKI adalah partai revolusioner yang dimaksud oleh Tan Malaka? Mengingat sengitnya pertentangan Tan Malaka sendiri dengan PKI bahkan dengan Komunis Internasional (Komintern).
Saya bukan orang yang tepat untuk membicarakan perkara-perkara revolusioner. Hidup saya bahkan sangatlah jauh dari hal-hal yang seperti itu. Anggap saja ini semacam hipotesis pribadiku setelah membaca Aksi Massa-nya Tan Malaka, yang tentu banyak cacat di sana-sini dan sangat bisa diperdebatkan.
Partai politik erat kaitannya dengan penghimpunan massa secara masif dan besar-besaran untuk bergerak bersama mewujudkan tujuan partai. Itu berarti, partai akan bisa mewujudkan tujuannya dan mengefektifkan program kerja partai manakala partai bisa memusatkan sekumpulan massa dalam suatu wadah partai politik. Semakin besar massa yang berhimpun semakin besar pula kekuatan partai.
Aksi massa menurut Tan Malaka berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka. Dari sini kita bisa paham bahwa massa hanya akan datang, berkumpul, dan mengerumuni suatu partai manakala partai itu berhasil menafsirkan kehendak ekonomi dan politik massa ke dalam program kerja partai.
Partai politik haruslah revolusioner. Itu sudah jadi harga mati buat Tan Malaka. Partai revolusioner menuntut sikap berani dan disiplin kuat. Dan memperjuangkan kebutuhan dan kepentingan ekonomi politik masyarakat.
Tercatat Indonesia pernah punya Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satu partai fenomenal pada masanya. PKI dikenal karena agitasinya yang kuat. Agitasinya ternyata cukup mampu menarik massa menjadi simpatisan ataupun anggota PKI. Apakah PKI adalah partai yang revolusioner seperti yang dimaksud Tan Malaka? Tidak tahu juga lah. Mengingat Tan Malaka sendiri pernah berselisih paham dengan PKI. Bahkan keluar dari PKI dan mendirikan partai baru.
Melihat lanskap politik hari ini, sulit untuk menyebut satu partai yang betul-betul revolusioner. PDIP yang katanya partai wong cilik pun–yang bolak-balik dituduh antek PKI–nyatanya tidak bisa membawa wong cilik keluar dari jurang kemiskinan bahkan ketika mereka bisa menguasai eksekutif dan legislatif. Program kerja mereka bukanlah program kerja yang diinginkan oleh wong cilik yang menaikkan mereka ke tampuk kekuasaan. Mereka layaknya tukang putch, yang bergerak hanya menurut kehendak mereka sendiri tanpa memperhatikan kehendak rakyat.
Partai lain bagaimana? Hampir sama saja. Hanya tukang putch yang berusaha menarik simpati rakyat 5 tahun sekali. Sesaat setelah kontestasi selesai. Sesaat setelah mereka dilantik. Mereka kembali sebagai tukang putch. Sibuk dengan ide-ide mereka sendiri dan menutup telinga mereka dari teriakan dan rintihan rakyat.
Hari ini partai politik sudah terkotak-kotakkan dengan corak dan ideologinya masing-masing. Kiri, tengah, dan kanan. Liberal, nasionalis, dan agama. Spektrum besarnya seperti itu. Mereka memancing di kolam mereka masing-masing. Tentu tidak masalah bagi mereka jika mendapatkan ikan dari kolam tetangga. Entah ikan itu lompat sendiri ke kolammnya atau karena memasang umpan di kolam sebelahnya. Narasi mereka dalah narasi kelompok. Tidak menyentuh persoalan materil rakyat. Kalaupun mereka berkuasa. Politik akomodatif dijalankan oleh penguasa. Merangkul yang kalah dengan memberikannya kue kekuasaan. Legislatif menjadi stempel eksekutif. Dan rakyat menjadi oposisi tunggal di luar sistem.
Selain persoalan sistem politik, negeri ini juga dikacaukan dengan kekuatan oligarki. Oligarki itu ibarat sebuah robot yang mirip gurita lengkap dengan tentakelnya. Tentakelnya sebenarnya tidak banyak. Tapi tentakelnya mencengkram erat kekuasaan-kekuasaan politik di negeri ini. Ekonomi dan politik itu ibarat dua sisi mata koin yang saling menempel. Tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Atau bisa juga dibayangkan sebagai dua sisi yang saling tarik menarik. Entah yg mana sebab, yang mana akibat. Apakah politik yang menjadi sebab dan ekonomi menjadi akibat ataukah sebaliknya.
Oligarki ini lahir sebagai kekuatan ekonomi. Untuk menguatkan ekonominya, dia butuh kekuatan politik. Begitulah ceritanya kenapa oligarki ini juga masuk ke dunia politik. Dengan menguasai politik berarti juga memperlancar aliran ekonominya. Jadi politik kita sebenarnya sudah dikuasai oleh oligarki-oligarki ini. Siapa saja sih sebenarnya oligarki itu? Gampangnya, mereka adalah kaum pengusaha, alias kapitalis, alias borjuis.
Itulah alasannya kenapa kebijakan pemerintah jarang berpihak kepada rakyat kebanyakan. Karena pemerintah memang isinya kebanyakan pengusaha-pengusaha. Kalaupun mereka bukan pengusaha, mereka adala elit politik yang cita-citanya juga elitis. Mereka bilang ini adalah kehendak rakyat, tapi tidak. Itu adalah kehendak mereka sendiri. Kepada merekalah Tan Malaka menyebutnya tukang putch.