Orde Baru yang dipimpin Soeharto dibangun atas teror ketakutan pada rakyatnya. Ketakutan itu terutama mewujud dalam sosok hantu Komunis.

Jujur saja, saya jelas bukan kamerad merah sejati. Dan Komunis bukanlah ideologi tanpa celah. Komunis sama saja dengan ideologi yang lain. Ada keuntungan dan resiko. Ada sisi baik dan buruknya juga. Namun bagaimana Soeharto memperlakukan Komunis sedemikian rupa di masa lalu jelas adalah suatu kejahatan sejarah.

Mari kita mulai dari tahun 1965, ketika peristiwa malam berdarah terjadi, G30S. Melompat jauh 60 tahun setelahnya di tahun 2025. Sampai saat ini, bahkan bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi pada malam berdarah itu belum ada kejelasan. Memang benar pemerintah saat itu melalui rezim Soeharto telah mengklaim secara resmi bahwa pemberontakan G30S didalangi oleh tokoh-tokoh PKI. Tentu saja klaim tersebut berdasarkan fakta-fakta yang sahih oleh penguasa. Namun ada juga sumber lain yang bukan berasal dari pemerintahan yang mengklaim sebaliknya. Justru Angkatan Darat-lah yang sebenarnya melakukan kudeta. Terbukti, setalah peristiwa G30S terjadi, Soeharto yang berasal dari matra AD dengan mulus naik menjadi Presiden Indonesia kedua menggantikan Soekarno.

Yang selanjutnya terjadi adalah penangkapan orang-orang PKI beserta antek-anteknya. Dengan tangan besi, rezim Soeharto menangkap dan memenjarakan mereka tanpa melalui proses peradilan. Yang perempuannya nasibnya lebih pahit lagi, mengalami pelecahan seksual.

Tidak puas dengan menangkap. Mereka pun difitnah. Orang Komunis dikatakan adalah orang yang anti agama, anti tuhan, dan ateis. Oleh karena itu mereka bertentangan dengan Pancasila. Kita jadi lupa–atau mungkin tidak pernah tahu–bahwa ideologi Komunis awal-awal dibawa oleh orang-orang yang bisa dikatakan Islam taat yang tergabung dalam Sarekat Islam cabang Semarang.

Yang perempuan juga tidak kalah parah. Mereka dikatakan gila seks dan lacur. Merekalah yang dituduh melakukan penyiksaan terhadap Jenderal-Jenderal di Lubang Buaya. Mereka dituduh memotong kelamin Jenderal-Jenderal itu. Namun sekarang kita tahu itu semuanya hanyalah kebohongan yang bersumber dari media Angkatan Darat.

Untuk melegitimasi ketakutan ini, negara bahkan membuatkan satu aturan khusus yang melarang paham Komunis beredar di Indonesia. Maka resmilah Komunis menjadi musuh negara.

Komunis dengan revolusinya memang gerakan yang mengancam buat seluruh penguasa di dunia. Karena revolusi akan mengambil paksa kursi empuk yang menjadi singgasana penguasa. Namun bagaimana hubungan Komunis dengan Indonesia di masa lalu–yang berimbas sampai hari ini–penuh dengan propaganda, fitnah, dan diskriminasi.

Tapol-tapol yang sudah dilepaskan ke masyrakat tidak lagi menjadi manusia merdeka. Meraka yang sudah lepas dari status tapol menjadi masyarakat tersingkirkan di lingkungannya. Perlakukan diskriminatif diterimanya, KTP mereka dibubuhi cap ET (Eks Tapol). Ditambah dengan adanya ketentuan bersih lingkungan, membuat akses mereka terhadap fasilitas-fasilitas negara menjadi terbatas. Ketersingkiran mereka menjadi semakin tragis mana kala keluarga “memutus” hubungannya dengan Eks Tapol agar menghindari perlakuan diskriminatif ikut menyeret anggota keluarga Eks Tapol tersebut.

Bisa dikatakan orde baru berhasil membangun ketakutan imajiner dalam benak masyarakat Indonesia. Ketakutan itu direkonstruksi sedemikian rupa demi kepentingan penguasa orde baru saat itu yang anti komunis. Terbukti hari ini ketakutan kita terhadap komunis masih ada, terutama lagi di lapisan masyarakat paling bawah. Padahal sejarah membuktikan bahwa Komunis telah kalah melawan musuh bebuyutannya, Kapitalis. Negara Komunis paling besar dalam sejarah umat manusia, Uni Soviet, hanya bisa dikenal melalui buku sejarah oleh anak-anak sekarang. Hari ini China menggantikan Uni Soviet sebagai negara Komunis terbesar di dunia. Namun dengan sistem ekonomi pasar China sekarang ini, apakah masih pantas China mengakui diri sebagai negara Komunis?

Struktur ekonomi saat ini–yang mana dikuasai oleh kaum Kapitalis–telah menyingkirkan ke pinggir-pinggir semua negara Komunis yang ada. Kecuali tentu saja Korea Utara. Namun apa ada orang waras saat ini yang ingin hidup di Korea Utara? di mana potongan rambut saja diatur oleh negara.

Komunis hari ini telah kalah. Jasadnya telah terkubur. Namun masyarakat kita terus-terusan ditakuti oleh hantu komunis sampai kita lupa bahwa musuh terbesar kita hari ini adalah sistem politik yang rusak, pemimpin korup, premanisme ormas, harga kebutuhan pokok yang semakin menggila, oligarki yang mencekik, tambang yang merusak lingkungan, tokoh agama yang hanya bisa menjadi stempel kekuasaan. Dan masih banyak lagi. Tidak akan selesai tulisan ini kalau manu menulis semua masalah di Republik ini.

Jadi mari lupakan hantu Komunis itu kawan. Hantu hanya akan mengusik perasaan takut dalam dirimu dan tidak akan membuatmu mati kelaparan. Takutlah ketika semua harga kebutuhan pokok naik serentak sementara upahmu hanya segitu-gitu saja. Dan percayalah, hantu Komunis akan lenyap seketika tanpa sisa mana kala hukum di negara ini ditegakkan seadil-adilnya dan masyarakat bisa hidup sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *