Kita sering kali membayangkan pernikahan yang indah bak cerita dongeng. Ada Cinderella yang dijemput pangeran dengan penuh khidmat. Mereka kemudian menikah dan menjalani kehidupannya yang indah di istana yang megah. Begitulah dongengnya. Tapi sekali lagi, itu cerita dongeng, kawan. Dooo.. ngeng. Tidak lebih tidak kurang.
Kenyataannya tidaklah seperti itu. Realitanya pernikahan tidaklah seindah cerita dongeng Cinderella. Ada bagian mencari nafkah ditengah badai PHK massal. Memenuhi kebutuhan hidup saat harga-harga melambung tinggi. Dan juga ada hubungan manusia, sepasang suami-istri, yang tidak selalu berjalan mulus. Tinggal bersama, menjalin hubungan baru dalam ikatan rumah tangga dan mempertahankannya tidaklah semudah yang dibayangkan ketika dulu hendak melamar pasangan. Butuh usaha keras dan sungguh-sungguh. Bahaya senantiasa mengintai dan siap menerkam. Mau itu bahaya dari dalam atau dari luar.
Tetapi ternyata, pernikahan juga tidak seseram yang dibayangkan anak-anak zaman sekarang, sampai menunda-nunda nikah karena takut belum bisa memberikan nafkah yang layak kepada pasangan. Takut belum bisa memberikan pendidikan yang layak kepada anak. Ketakutan itu wajar dan logis dan sudah seharusnya begitu. Itu menandakan dirimu adalah orang yang bertanggung jawab. Tapi percayalah, ketika kau sudah menjalaninya tidak akan seseram yang kau bayangkan. Selama mau berusaha pasti akan ada jalan.
Pernikahan itu tidak jauh beda dengan pilihan hidup yang lain. Ada keuntungan dan resiko. Mau kamu nikahnya cepat atau lambat. Tetap saja ada resiko yang harus dihadapi dan ada keuntungan yang bisa disyukuri.
Sekarang coba kita praktis saja. Ada orang yang menikah cepat. Lelaki usia 23 tahun, baru selesai kuliah, kerja setahun kemudian menikah. Dalam masyarakat kita usia segini bisa dikatakan cepat menikah–entah mereka membandingkannnya dengan apa sehingga dikatakan cepat.
Apa keuntungan yang didapatkan dari lelaki 23 tahun menikah? Tentu saja yang pertama, hasrat seksualnya terselurkan di jalan yang benar. Menutup beberapa pintu dosa dalam hubungan lawan jenis (syarat dan ketentuan berlaku, ya). Dan yang paling praktis adalah memangkas jarak usia orang tua dengan anak. Bagi saya ini cukup penting menjadi pertimbangan saat mengambil keputusan menikah. Usia tidak bisa bohong. Kemampuan fisik pasti ada penurunan. Bahkan atlet yang sudah pasti menjaga fisik dengan baik juga akan kalah oleh umur. Lihatlah Messi yang mulai sering cedera belakangan ini. Ronaldo yang kabur ke Liga Arab. Modric pun juga sudah mulai berbagi tempat dengan juniornya di Real Madrid.
Pendeknya jarak usia antara orang tua dengan anak, bisa memberikan kesempatan yang lebih panjang kepada orang tua untuk bisa membersamai anak dalam fisik yang prima–apa artinya momen kebersamaan tapi sakit-sakitan. Karena membersamai anak adalah momen yang sangat berarti bagi orang tua yang tidak bisa digantikan dengan apapun di dunia ini.
Di sisi lain, pernikahan cepat juga mengharuskanmu menjadi dewasa lebih cepat.
Tidak.. tidak. Bukan maksudku yang lambat menikah itu berarti dewasanya terlambat. Bukan begitu, kawan. Tetapi ada tuntutan lebih yang mengharuskan kau menjadi dewasa dalam pernikahan. Apalagi kalau bukan pasanganmu. Kau sudah tidak bisa lagi nongkrong semaunya kalau sudah menikah. Ada anak dan istri yang menunggu di rumah. Kalau katanya mas Agus Magelangan, “pernikahan itu memang membatasimu tetapi itu sebanding kenikmatan-kenikmatan baru yang dapatkan dalam pernikahan”. Itu yang dimaksud dengan keuntungan dan resiko. Pilihan hidup akan selalu membawa kita ke dua sisi ini secara bersama.
Bagaimana kita menimbang-nimbang antara keuntungan dan resiko itu? Bagi saya pribadi, fokuslah pada resikonya. Resiko mana yang kira-kira bisa kau hadapi. Abaikan sejenak benefit yang kau dapatkan. Karena semua orang akan selalu siap dengan benefit dan sisi-sisi positif itu. Tapi tidak semua orang siap dengan resikonya. Menikah cepat atau lambat, keduanya punya resiko yang harus dipikirkan dan direnungkan. Bukan sekedar gaya-gayaan untuk pamer ke orang-orang tentang nilai hidupmu.
Saya bukanlah orang yang gembar-gembor dengan keutamaan nikah muda. Tapi bukan juga orang menunda pernikahan dengan alasan menunggu mapan dulu. Pernikahan itu sama saja dengan pilihan hidup yang lain dalam hidupmu. Semuanya mengandung resiko dan keuntungan yang perlu dipikirkan dan butuh kontemplasi. Tetapi juga jangan kebanyakan mikir, jatuhnya overthinking. Karena terkadang sesuatu itu tak seindah yang kau bayangkan, juga tak seseram yang kau bayangkan.