Dulu saya sangat aktif di dunia per-FBan. Sekedar scroll, share, like, komen, ataupun posting semua saya lakukan. Baca berita, lihat perkambangan kawan lama, scroll info ataupun sekedar gosip-gosip di grup daerah. Namun akhirnya saya memutuskan rehat dari dunia sosmed wa bil khusus FB di tahun 2018.

Lama kemudian saya tidak bemain sosmed sama sekali. Saya tidak punya akun sosmed apapun, termasuk IG, twitter, messenger, dan juga tiktok yang mulai ngetren sejak masuk 2020an. Bukannya saya hidup tanpa akses ke sosmed sama sekali. Sama seperti orang lain, saya juga punya WA untuk komunikasi sehari-hari dan juga telegram yang sangat jarang saya buka–gak tau juga kenapa waktu itu saya bikin akun telegram.

Dari sisi kebutuhan, sosmed bisa digolongkan menjadi dua arus utama. Sosmed untuk kebutuhan hidup dan sosmed untuk ajang eksis. Tidak perlu nyari ini asalnya dari terori mana, sebab ini murni saya sendiri yang kategorikan.

Kebutuhan yang saya maksud di sini adalah kebutuhan dasar. Yang tanpa adanya sosmed itu maka keberlangsungan hidup sehari-hari bisa terhambat. Untuk kategori ini WA bisa kita masukkan. Tanpa WA, keberlangsungan hidup bisa terganggu. Sebab aplikasi WA sudah menggantikan fungsi telepon dan SMS yang ketika zaman internet belum merajalela sering kita gunakan. Telegram sebenarnya bisa juga di masukkan ke dalam kategori ini. Namun telegram kurang privat untuk sebuah aplikasi personal. Terlalu banyak spam di telegram. Mungkin faktor itulah yang membuat telegram kalah populer dibandingkan WA di masyarakat. Kecuali di masyarakat China tentu saja.

Yang kedua adalah sosmed untuk ajang eksis. Di kategori ini lebih banyak lagi nominasinya. Masing-masing aplikasi ada pasarnya dan apa yang ditawarkan juga beda-beda. FB misal, sebagai sosmed yang statusnya senior, kebanyakan usernya adalah orang-orang tua alias baby boomer yang cukup sering ng-share berita hoax. Twitter sebagai arena adu jempol kebanyakan usernya anak muda. Pesohor dan influencer juga banyak bermain di twitter. IG sebagai tempat berbagi informasi dalam bentuk foto dan video juga memiliki banyak pengguna. Konten-konten bermutu dan juga jualan rame di sini. Dan tiktok sosmed yang paling banyak digunakan gen alpha.

Mengapa saya berhenti main FB? Jawabannya sederhana. FB mulai menjadi aplikasi yang toksik buat saya waktu itu. Banyak waktu saya yang terbuang percuma karena main FB. Scroll sampai dasar jurang membuat waktu berlalu dengan sia-sia. Melihat keberhasilan teman-teman membuat medioker. Melihat ke dalam diri, makin menjadi-jadi mediokernya. Rasa-rasanya tidak ada yang pantas di upload di FB. Akhirnya saya putuskan untuk rehat sejenak dari FB. Aplikasinya saya uninstal. Dan sampai sekarang belum pernah lagi saya instal aplikasi FB di HP-ku.

Saya tidak sampai menghapus akun. Sayang juga kalau akun FB yang saya buat sejak tahun 2009 dihapus begitu saja. Bagaimanapun di situ banyak juga teman-teman lama. Teman main waktu kecil, teman sekolah, teman kuliah, dan secara umum banyak teman saya di Sulawesi masih cukup aktif menjadi user FB. Paling tidak kalau mau lihat kabar teman lama, lihat saja FB-nya.

Setelah rehat di FB, cukup lama saya tidak main sosmed. Saya tidak memiliki sosmed eksis. Tidak punya IG, twitter, dan tiktok–tiga sosmed yang populer saat ini. Dan yah, ada juga manfaatnya tidak memiliki semua sosmed itu. Hidup menjadi lebih tenang dan bisa lebih menikmati kehidupan dunia nyata. Suatu antitesis di mana orang hari ini sangat sibuk di dunia mayanya. Tanpa sosmed eksis saya bisa mecurahkan sepenuhnya fokus saya ke dunia nyata.

Apakah saya kekurangan hiburan dengan tidak adanya sosmed eksis? Tidak juga. Pelarian saya mencari hiburan adalah youtube. Dan ini juga menjadi hiburan utama saya karena di rumah saya tidak memiliki TV.

Yah, ada kurangnya juga tidak punya sosemd eksis. Kurangnya adalah keterlambatan menerima berita dan informasi. Karena berita justru melaju cepat di kanal sosmed eksis itu. Media sekarang ini semuanya lari ke sosmed eksis itu. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan membuat akun IG, twitter, dan tiktok.

Ternyata tidak buruk juga punya sosmed eksis. Sekarang saya tidak terlambat lagi mendapatkan informasi. Tapi penyakit lamanya kambuh lagi. HP addict dan scroll teruuuus….. aaargh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *