Keterbukaan adalah salah satu kunci yang bisa membuat langgeng dan harmonisnya suatu hubungan. Bukan faktor tunggal memang, ada juga faktor lain. Tulisan kali ini hanya membahas sebatas hubungan dari perspektif sikap terbuka.

Dalam menjalin hubungan apa pun itu, sikap terbuka masing-masing pihak menjadi penting karena sikap terbuka bisa memadamkan api dalam sekam juga mematikan bom waktu.

Sikap terbuka antara masing-masing pihak bisa menghilangkan prasangka yang bergejolak dalam hati da kepala. Terbuka menyampaikan apa-apa yang memang peru diketahui oleh masing-masing pihak. Keluhan, kegelisahan, kritik, rasa tidak suka, dan semua hal-hal yang mengganggu. Karena semua perasaan itu perlu dikonfirmasi mengenai benar tidaknya. Didudukkan sesuai dengan tempatnya. Karena jika tidak dikonfirmasi, gejolak-gejolak itulah yang nantinya menjadi api dalam sekam, menjadi bom waktu. Yang hanya tinggal menunggu waktu saja untuk meledak.

Sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi maka lebih baik memadamkan apinya lebih dulu. Sebab jika bomnya sudah meledak biasanya efek yang ditimbulkan bisa sangat merusak. Efek yang paling merusak tentunya putusnya hubungan itu. Suami dan istri bisa cerai. Bocil-bocil yang pacaran bisa putus dan patah hati, persahabatan bisa rusak, kelompok menjadi bubar. Hanya gara-gara prasangka yang tidak terkonfirmasi.

Terus memendam dalam hati. Minghimpun rasa kecewa dan sakit hati. Memendam dan terus memendam, gak mau ngomong. Berharap dimengerti. Yang satunya gak peka. Akhirnya meledaklah bom waktu.

Ngomong saja. Utarakan semua kegelisahan dan keluh kesahmu. Semua prasangka yang kau pendam mungkin saja benar. Itu berarti ada kemungkinan salah juga bersanding di sisinya. Bagaimanapun, kau harus terbuka menyampaikan keluh kesahmu. Dari situ kau akan mendapatkan jawabannya. Jika prasangkamu salah maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika prasangkamu benar, langkah selanjutnya adalah perbaikan. Apa yang perlu diperbaiki. Mungkin dia yang perlu memperbaiki, mungkin juga kau. Atau keduanyalah yang harus memperbaiki diri.

Ngomong saja atau cari warkop, dan pergilah ngopi. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan marah-marah dan adu argumen. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan konfrontasi fisik. Mungkin masalahnya memang berat. Tapi semua itu bisa diselesaikan dengan ngobrol. Ngobrol dengan kepala dingin dan hati yang sejuk. Mencoba mengerti itulah tugasmu. Yah, memang kadang ada saja manusia-manusia bebal tidak mau mengerti. Kalau begini memang susah jadinya. Yang satu mencoba mengerti, yang satu ogah. Susah jadi deal-dealnya kalo gini. Kalau akhirnya tidak ada deal. Ya sudah. Tugasmu memutuskan mau apa. Kau masih ingin bertahan dalam hubungan ini atau kau sudahi saja hubungan ini. Terserah padamu. Yang penting kau paham jika semua keputusan pasti ada resikonya.

Begitulah manusia. Manusia adalah makhluk sosial. Jika eksakta adalah ilmu pasti. Semua menjadi pasti. Pelajari bagaimana polanya. Bagaimana cara kerjanya. Kita bisa memprediksi apa yang terjadi kedepannya.

Beda dengan ilmu sosial. Dalam ilmu sosial objek kajian utamanya adalah manusia itu sendiri. Makhluk yang tidak pasti. Sen kiri malah belok kanan. Pagi bisa senang, malam marah. Manusia memang kompleks maka tidak ada yang pasti dari manusia. Disitulah kita bertaruh: dalam alam raya ketidakpastian.

Karena tidak pasti maka kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi dengan hubungan itu kedepannya. Hubungan dengan anak istri, keluarga, tetangga, rekan kerja di kantor, komunitas, sahabat dan semua hubungan-hubungan yang lain. Semua itu serba tidak pasti. Solusinya cuman ngobrol dan mengerti. Sesederhana itu tapi sesulit itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *