Berikut ini adalah kronologi lahirnya Hana. Jam pastinya mungkin tidak tepat-tepat amat, paling tidak mendekati lah.
Kamis, 2 Desember 2021
22.00 : Hari itu saya pulang telat karena harus ngantar barang ke Perak. Sejak maghrib di area Perak sudah hujan deras disertai angin ditambah saya sendiri tidak hafal jalan di area Perak. Jadilah saya kerepotan pada saat lihat maps di hp. Akibatnya berkali-kali saya keterusan dan akhirnya harus mutar jauh. Hujan deras dan angin yang kencang juga membuat pandangan terbatas jadinya perjalanan tidak bisa di gas pool. Tiba di rumah sudah larut malam. Setelah bersih-bersih karena sudah capek langsung tidur.
23.30 : Pecah ketuban pertama. Baru tidur sebentar setalah pulang dari Perak. Istriku langsung membangunkan, memberitahu bahwa dia pecah ketuban. Karena ini adalah kehamilan pertama, kami sedikit panik. Akhirnya kami datangi bidan terdekat. Ternyata tutup. Saya pun menelepon. Karena cuman pecah ketuban tapi tidak ada kontraksi akhirnya disuruh pulang istirahat sama bidan. Kami pun pulang.
Jumat, 5 Desember 2021
00.00 : Setelah istirahat sebentar, ternyata air ketubannya tidak berhenti keluar. Kali ini keluarnya tambah banyak lagi. Saya kembali menelepon bidan dengan keluhan yang sama, pecah ketuban tapi tidak ada kontraksi. Sama bidan disuruh ke UGD RS terdekat untuk mendapatkan penanganan. Kami pun pergi ke RSUD Sidoarjo tepat tengah malam, langsung ke UGD.
00.30 : Setibanya di UGD kami langsung diminta ke ruang bersalin oleh satpam RS, waktu itu istri sempat ditawari untuk pakai kursi roda tapi karena rasanya masih gamang dan istri tidak merasakan sakit ia langsung jalan menuju lantai 2. Dilakukan swab tes dan hasilnya negatif langsung deh masuk ruang perawatan. Setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan 1.
01.00 : Setelah menunggu setengah jam di ruang perawat dan hasil swab sudah keluar negatif, istri pun dipasangkan infus untuk memasukkan obat induksi supaya bisa mulai merasakan kontraksi kemudian dipindah ke ruang bersalin. Di dalam ruang bersalin kurang lebih ada 20 ibu yang sudah siap ditangani oleh bidan. Setiap bad hanya dibatasi atau ditutup tirai, jadi jika ada ibu yang sudah pembukaan lengkap dan siap ditangani jadilah pasien disebelahnya bisa mendengar dengan jelas suara teriakan atau tangis karena kesakitan.
Saya hanya bisa menunggu di luar ruangan persalinan dengan perasaan campur aduk karena yang boleh masuk hanya pasien dan petugas rumah sakit. Bolak-balik dari ruang tunggu ke bagian administrasi untuk mengambil perlengkapan lahiran. Waktu itu saya sendiri belum kepikirian kalau istriku akan melahirkan hari itu juga. Pikirku paling nanti juga pulang setelah baikan. Mungkinkah begitu juga pikirannya bapak-bapak yang lagi menyambut kelahiran anak pertama?
08.00 : Pembukaan kedua. Seperti apa rasanya pembukaan kedua? Saya juga tidak tahu. Hanya para wanita yang bisa merasakannya. Satu yang pasti, pasti itu sangat sakit. Rasa sakitnya tidak akan pernah bisa dirasakan kecuali merasakannya secara langsung. Salut buat semua ibu-ibu yang telah berjuang menahan rasanya sakit untuk melahirkan manusia ke muka bumi.
10.00 : Pembukaan keenam. Lagi-lagi saya hanya bisa menunggu di luar. Tidak bisa menemani istri yang lagi berjuang melahirkan. Padahal inginku berada di sampingnya pas dia melahirkan. Seperti di film-film gitulah.
11.00 : Perawat keluar menginformasikan bahwa sebentar lagi istriku lahiran. Di situlah saya baru sadar kalau ternyata istriku akan melahirkan hari itu. Untung saja semua perlengkapan lengkap sudah dibawa ke RS.
12.05 : Hana lahir. Manusia yang kami tunggu sekian lama akhirnya lahir ke dunia ini. Hana lahir bertepatan dengan Shalat Jumat. Ketika orang-orang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk Shalat Jumat. Saya harus menunggu istri yang akan melahirkan di RS. Beberapa saat setelahnya perawat keluar memberitahu kelahiran hana kepadaku. Lega akhirnya semua ini bisa terlalui dengan lancar. Yang ada saat itu adalah perasaan lega. Perasaan senang karena akhirnya anakku lahir kalah dengan perasaan lega. Mengetahui kalau istriku bisa melahirkan dengan lancar dan anakku baik-baik saja itu lebih penting daripada perasaan senang karena akhirnya seorang anak datang ke rumah tangga kami.
12.30 : Sekali lagi, waktu yang saya tuliskan di sini mungkin tidak presisi amat dengan waktu aktualnya pada saat itu. Tapi lebih dan kurangnya kayak gitulah. Hana kemudian dibawa keluar untuk saya adzankan. Masih campur aduk perasaanku waktu itu. Tidak tahu mau berbuat apa-apa. Bahkan saya pun salah mengadzankannya. Seharusnya adzan di telinga kanan dan qamat di telinga kiri. Yang ada saya hanya mengadzankannya. Bahkan saya sudah lupa di telinga apa saya mengadzankannya waktu itu. Maafkan papa ya hana. Hehehe..
Saya kemudian diberikan semua baju kotor dan juga ari-ari hana dari perawat. Sorenya saya pulang ke rumah dengan perasaan lega. Momen lahiran ini sudah terlalui. Alahmdulillah semua baik-baik saja.
Saya menguburkan ari-ari hana di halaman rumah. Membuka beberapa paving kemudian menggali. Memasukkan ari-ari yang sudah di masukkan ke dalam kendi. Selain air-ari, kendinya juga berisi macam-macam. Ada alat tulis, buku saku pramuka, kain kafan, ada juga ayat-ayat quran yang sudah di kemas menjadi buku saku. Ah, lagi-lagi budaya. Untuk apa semua itu? Untuk apa alat tulis dimasukkan ke dalam kendi. Apa ari-ari itu juga akan belajar nulis? Apa ada perkemahan yang akan terjadi di lobang sekecil itu? Mbuh lah. Tapi akhirnya saya laksanakan saja. Yang penting tidak ada keyakinan apa-apa soal itu dan juga tidak melanggar syariat. Insya Allah jatuhnya bukan syirik. Semoga ya.
Habis shalat maghrib dan istirahat sebentar saya langsung kembali ke RS. Istri saya ternyata sudah dipindah ke ruang nifas. Sudah tidak di ruang bersalin lagi. Langsung saya ke ruang nifas. Dan sudah ada istriku dan Hana di ruang itu. Langsung kupeluk dan cium mereka. Air mata haru menetes di ujung mataku. Melihat istri dan anakku berhasil melalui momen berat. Yang tidak semua orang berhasil melaluinya. Bahkan tidak semua orang bisa merasakannya.