Sirkulasi elit politik di Bumi Lamaranginang mulai memanaskan mesin politik menjelang penetapan calon kontestan pemilihan kepala daerah. Bukan hanya itu, praktek memoles kontestan sesuai dengan sosok dan figur politik yang diinginkan masyarakat luas secara trus menurus dan masif dilakukan, hal Ini menjadi permulaan awal politik simulacra terjadi.
Dalam sirkulasi elit di Bumi Lamaranginang, mulai ramai citra paslon dibangun dan dipoles mulai dari figur merakyat, figur yang jujur, visioner dan amanah, figur dengan “logistik tambun” sampai pada figur “asse’tambuk” atau Welas Asih. Hal ini semua dilakukan sebagai upaya dalam membangun presepsi publik terhadap citra pasangan calon. Tepat kemudiaan jika Chanakya Mahaguru dari Candragupta Maurya mengatakan “Sekalipun ular itu tidak berbisa, ia harus berpura-pura berbisa.”
Imagologi Politik ialah seni dalam membangun presepsi publik, sehingga partai dan simpatisan dalam kurun waktu dua bulan terakhir harus menyiapkan “toko serba ada” semua yang diinginkan pemilih ada pada figur yang diperjuangkan atau yang dicitrakan. Inilah yang sedang dibangun dalam proses komunikasi politik di Bumi Lamaranginang saat ini, di mana figur yang diusung sedang dipersepsikan sebagai “semacam kebutuhan” atau jawaban dari problematika yang dihadapi pada saat ini.
Chanakya juga pernah berpesan tentang karakter sejati seseorang kepada Candragupta Maurya, ia mengatakan “Uji kemurnian emas dilakukan dengan cara menggosok, memanaskan, memukul, dan memotong. Begitu pula, karakter sejati seseorang terungkap saat menghadapi masalah besar. Sikap, suara, dan tindakannya akan mengungkapkan banyak hal tentang dirinya.”
Oleh karenanya, pada tataran realitas, tidak semua orang yang dipersepsikan sebagai “orang baik” oleh publik adalah orang yang benar-benar baik secara realitas. Bisa jadi, ini adalah bagian dari keberhasilan menciptakan persepsi publik atas dirinya yang dicitrakan sebagai “orang baik”. Begitu pula dengan orang yang dipersepsikan negatif oleh publik, mungkin juga tidak sepenuhnya negatif. Inilah yang disebut dengan menipulasi realitas, sifat yang sesungguhnya dimiliki bisa jadi berbeda dengan karakter yang dicitrakan atau yang wara wiri disosial media selama ini.
Oleh karenanya, Chankya pernah berpesan kepada Candragupta Maurya dalam mempersiapkan dirinya menjadi raja India bersatu, bahwa “Dharma adalah hukum dalam arti yang paling luas—spiritual, moral, etika, dan duniawi. Setiap individu, baik penguasa maupun yang diperintah, diatur oleh dharma-nya sendiri. Sejauh masyarakat menghormati dharma, masyarakat melindungi dirinya sendiri; sejauh masyarakat menyinggungnya, masyarakat merusaknya”.

Penulis : Penggemar Dhurdara.