Sidoarjo adalah kota yang tempatku tinggal selama 8 tahun terakhir–sekarang malah sudah masuk tahun ke-9. Menjadi kota terlama kedua yang sempat kutinggali, melebihi Makassar yang pernah kutinggali waktu jadi mahasiswa selama 5 tahun.

Saya mulai tinggal di Sidoarjo pada paro kedua tahun 2016, tepatnya Juli 2016 saya pertama kali menjadi warga tidak resmi Sidoarjo. Dan sekarang telah resmi menjadi warga Sidoarjo dengan bukti nyata KTP.

Setidaknya ada dua yang menjadi kota satelit Surabaya sebagai ibu kota provinsi. Sidoarjo adalah salah satunya. Satu yang lain adalah Sidoarjo.

Layaknya kota satelit pada umumnya. Kedua kota ini juga memerankan peran yang sama menjadi tetangga yang baik untuk kota besar dan menunjang aktivitas utama kota besar.

Sekarang kita tinggalkan sejenak pembahasan sola Gresik. Kini kita fokus membahas soal Sidoarjo.

Sidoarjo telah menjalankan perannya sebagai kota satelit Surabaya dengan cukup baik. Itu terbukti dengan letak bandara dan terminal bus utama berada di pinggiran Kota Surabaya. Dua ikon yang menjadi hub jalur keluar-masuknya manusia menuju Surabaya–pelabuhan gak sekalian dipindah ke Sidoarjo juga tah cak.

Jadi orang yang mau ke Surabaya via darat dan udara setidaknya bisa harus memberikan salam hormat dulu ke warga Sidoarjo–sebagai pemilik lahan–sebelum masuk ke Surabaya.

Karena memainkan fungsi sebagai kota satelit. Maka cukup banyak dan menjadi biasa kita temukan orang-orang yang kerjanya di Surabaya tapi rumahnya di Sidoarjo. Itu kenapa jalur pagi dari Sidoarjo ke Surabaya dan jalur sore dari Surabaya ke Sidorajo dipastikan selalu rame. Kalau lagi seru malah bisa adu kencangan klakson.

Saya salah satu orangnya. Kantor di Surabaya namun rumah di Sidoarjo.

Namun sekarang setelah resign dari kantor lama. Saya tidak perlu lagi menguji kesabaran di perempatan gedangan yang terkenal ramai.

Dibanding Gresik, Sidoarjo memang lebih nyaman dijadikan tempat tinggal orang-orang kantoran Surabaya–setidaknya berdasarkan pendapat subjektif saya.

Pertama tentu karena lokasi bandara dan terminal utama yang letaknya di Sidoarjo, memudahkan orang-orang rantauan seperti saya untuk urusan transportasi.

Perantau lokal Jawa Timuran dan interlokal Jawa Timur tentu dimudahkan kalau rumahnya di Sidoarjo. Mereka mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk biaya taksi ke rumahnya jika baru pulang dari mudik.

Bahkan banyak juga penitipan motor harian atau mingguan di sekitar Terminal Bungurasih. Biasanya orang-orang ini adalah perantau lokal Jawa Timuran yang bekerja di Surabaya atau Sidoarjo, yang tiap sabtu-minggunya pulang family time. Barangkali pikirnya daripada capek-capek motoran ke kampung, lebih baik naik bus saja. Toh harga bus juga terjangkau.

Letak bandara juga menjadi nilai positif sidoarjo bagi perantau luar pulau. Tinggal di Sidoarjo itu berarti akomodasi dari dan ke bandara menjadi lebih bersahabat.

Bagi orang yang sering ke luar pulau karena urusan kantor pun juga menjadi lebih mudah jika tinggal di Sidoarjo. Tidak butuh waktu lama sudah sampai di bandara. Dengan adanya jalan tol tengah kota juga membantu mobilisasi orang-orang untuk ke bandara.

Selain urusan bandara dan terminal. Sidoarjo juga menjadi pilihan yang nyaman untuk dijadikan hunian.

Bagi orang-orang yang bekerja di kota metropolitan seperti Surabaya namun tidak ingin mencicipi budaya urbannya. Sidoarjo jelas pilihan paling menarik dibanding Gresik–sekali lagi.

Selain statusnya sebagai kota satelit, kehidupan di Sidoarjo juga lebih ndeso daripada Surabaya. Itu tentu menjadi pilihan yang mantap bagi perantau-perantau desa senang dengan budaya desa alih-alih mencicipi budaya urban khas masyarakat kota.

Kalau urusan ndeso, Gresik dalam pengamatanku juga tidak jauh beda. Namun yang membuat Sidoarjo unggul untuk dijadikan hunian adalah kedekatan Sidoarjo dengan destinasi wisata wilayah arek.

Stres adalah teman akrab masyarakat urban. Oleh karenanya masyarakat urban juga butuh rekreasi untuk melepas ketegangan pikiran. Dan kebanyakan lokasi wisata di wilayah arek letaknya di area Mojokerto, Malang, dan Batu. Dan ketiga lokasi itu lebih dekat dari Sidoarjo ketimbang Gresik. Otomatis Arek Gresik harus membeli bensin lebih banyak daripada Arek Sidoarjo hanya untuk pergi wisata.

Keunggulan Gresik barangkali dari sisi industrialisasi. Itu dibuktikan dengan banyaknya kawasan industri besar di Gresik. Ada kawasan industri Manyar, Maspion, dan yang paling baru adalah JIIPE yang menjadi lokasi smelter milik Freeport.

Cukup banyak pabrik-pabrik besar di Gresik. Tidak jauh beda sih dengan Sidoarjo. Makanya UMKnya pun tidak jauh beda. Sama-sama 4,6 juta, beda di ekornya saja. Ekornya Gresik lebih banyak.

Kemenangan Sidoarjo dari sisi hunian membawa dampak lain: harga properti menjadi naik.

Harga rumah tipe 36 dengan dua kamar di Kecamatan Candi bisa berkisar 350-400an jt. Candi itu lokasinya lebih dekat ke Kabupaten Pasuruan daripada ke Kota Surabaya. Bayangkan sendiri harga rumah di daerah Waru yang notabenenya lebih dekat Surabaya.

Untuk pekerja gaji UMR anak 2 dan istri sebagai ibu rumah tangga entah nunggu waktu berapa tahun untuk bisa membeli rumah dengan skema kontan.

UMR naik gak seberapa, inflasi naiknya gila-gilaan. Belum gaji dipotong ini itu untuk proyeknya pemerintah. Aah gelap masa depan–mending jadi babi ngepet aja gak sih.

Hal yang gak enak lain–mungkin bagi sebagian orang–adalah hegemoni NU terlalu kebangetan di daerah ini.

Jawa Timur secara keseluruhan dan Sidoarjo khususnya memang kandangnya NU. Ketimbang kakaknya, MU, NU lebih mendarah daging di kehidupan masyarakat Sidoarjo. Kultur NU sangat kuat di Sidoarjo.

Di mana-mana tahlilan dan yasinan pasti ada. Mau skala kecil semisal RT, sampai masjid gedenya tahlilan adalah menu wajib–ora nahlil, ora penak. Dan beragam kultur khas NU yang lain semisal megengan, acara sunatan, dll.

Karena Sidoarjo sudah menjadi rumahnya NU, makanya banyak hajatan NU di-nampani sama Pemkot Sidoarjo. Setiap ada acara di alun-alun bisa dipastikan spanduknya warna hijau punya NU.

Overall saya sendiri sudah kerasan tinggal di sini. Sidoarjo memang tempat yang pas untuk dijadikan hunian orang-orang urban Surabaya. Terlepas dari sisi gelap Sidoarjo seperti apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *