Pernikahan adalah ibadah seumur hidup, ibadah panjang. Jika pun kamu tidak berpikir pernikahan adalah ibadah, banyak orang menginginkan pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidupnya, hingga maut memisahkan. Setidaknya begitu janji yang diucapkan tiap pasangan ketika melakukan akad nikah.
Karena pernikahan adalah perjalanan panjang. Tentu mencari pasangannya pun tidak boleh sembarangan. Harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang sebelum akhirnya memutuskan. Bukan asal suka saja. Namun segalanya harus dipikirkan baik buruknya. Keuntungan dan resiko semua harus sudah dipikirkan di depan sebelum mengambil keputusan.
Banyak orang kemudian memutuskan berpacaran dengan alasan supaya bisa mengenal pasangan lebih dalam. Namun fakta menunjukkan, durasi pacaran tidak selalu linear dengan lamanya pernikahan.
Ada orang yang pacaran lama namun pernikahannya hanya seumur jagung. Tengok saja selebritis-selebritis.
Sebaliknya ada juga orang yang bahkan tidak pernah pacaran namun pernikahannya bisa awet sampai tua. Kenapa bisa?
Karena ikatan pacaran tidak memiliki konsekuensi hukum dan sosial apa-apa kepada pelakunya. Karena tidak adanya konsekuensi, maka pelaku pacaran pun bebas melakukan apapun. Termasuk putus-nyambung jadi hal yang lumrah. Ketika orang pacaran kemudian putus, tidak ada yang berubah dengan dunianya. Paling cuman sakit hati saja. Orang-orang bahkan cuman berkata “oh putus.”
Beda dengan pernikahan. Pernikahan hubungan yang lebih intim dan lebih intens. Ketika terjadi perceraian, maka konsekuensi hukum dan sosial akan menimpa pasangan yang bercerai. Itu kenapa banyak orang yang masih kukuh mempertahankan ikatan pernikahannya walaupun rumah tangganya sudah begitu kacau, karena tidak siap menimpa konsekuensinya.
Makanya penting mencari pasangan yang benar-benar bisa dijadikan partner dalam berumah tangga. Pasangan yang bisa saling menerima kekurangan. Pasangan yang bisa membawa perubahan menjadi lebih baik. Pasangan yang bisa membuat masing-masing pribadi menjadi lebih produktif. Pasangan yang mau sama-sama belajar bagaimana mengurus rumah tangga bersama. Pasangan yang sama-sama mau berjuang untuk cita-citanya.
Jadi bagaimana mencari pasangan yang cocok?
Tidak ada rumus baku bagaimana mencari pasangan yang cocok. Kalau menurut falsafah Jawa, lihatlah bibit, bobot, bebetnya. Kalau ketiganya baik, itulah pasangan yang pas. Pertanyaannya pas untuk siapa? Pas untuk kamu atau pas untuk orang tuamu?
Saya tidak begitu menganut falsafah Jawa, jadi saya juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan di atas.
Dalam pengalaman dan renunganku. Ada satu prinsip yang bisa dijadikan pegangan dalam mencari pasangan: cari yang sekufu.
Kufu atau kafa’ah dalam bahasa Arab berarti kesetaraan, sepadan, atau sebanding. Mencari yang sekufu berarti mencari yang setara dengan dirimu. Atau mencari yang selevel dengan dirimu. Setara dalam hal apa? Dalam semua hal.
Dalam status ekonomi dan sosial, dalam hal pendidikan dan pengetahuan, penghasilan, kebiasaan, kerupawanan, kesukaan, dll.
Dengan memilih pasangan yang setara, akan memudahkan proses adaptasi ketika sudah menjadi pasangan suami istri.
Karena pernikahan dalah seni memahami kekasih–kayak bukunya Agus Mulyadi gak ya.
Melakukan sinkronisasi dengan pasangan yang setara atau gapnya kecil tentu lebih mudah daripada dengan pasangan yang gapnya sangat jauh berbeda dengan kita.
Karena disparitasnya kecil, maka potensi konflik pun kecil. Karena konfliknya kecil apinya lebih mudah dipadamkan.
Sebaliknya, jika disparitasnya besar, maka potensi konflik pun besar. Konflik besar, apinya pun besar. Api besar lebih sulit dipadamkan daripada api kecil.
Tidak bisa dipungkiri, tidak ada pernikahan tanpa masalah. Sebab pernikahan adalah tanggung jawab. Dan tidak pantas orang menganggap remeh tanggung jawab. Tanggung jawab jelas adalah perkara serius.
Maka ketika orang memutuskan menikah pun orang harus serius. Sama seriusnya ketika orang tersebut memutuskan berpisah. Ketika kamu punya 1000 alasan untuk menikahi seseorang, pastikan kamu punya 1001 alasan untuk melepaskan orang itu.
Satu-satunya cara untuk mendapatkan jodoh terbaik dan langgeng sampai akhir hayat adalah dengan cara memperbaiki diri sendiri. Karena jodoh adalah cerminan diri.
Jika ingin dapat pasangan spek tinggi, kamu sendiri pun harus meninggikan spekmu sendiri. Itu satu-satunya cara. Kamu gak mau kan pernikahanmu karam dalam waktu singkat.
Pernikahan juga menuntut kematangan emosi dan jiwa. Tanpa adanya kematangan emosi dan jiwa, yah, seperti yang kamu tahu sendiri. Suami menganiaya anak, istri bunuh suami, pasangan yang selingkuh. Aah banyak lah masalah rumah tangga kalau mau disebut satu-satu. Gak bakalan cukup dalam satu tulisan.
Dan terakhir, satu nasihat yang tidak kalah penting: berhentilah mencari pasangan yang sempurna. Sebab kau sendiri pun tidak sempurna. Andaipun benar kata ada orang yang sempurna tanpa cela hidup di dunia ini. Kira-kira si perfect itu mau tidak nikah dengan kamu yang masak pun gak bisa? Ngimpi kali ye..
Kalau masih tetap ngotot nyari yang sampurna, maka terimalah nasib gak nikah-nikah sampai lebaran monyet.