Anakku lahir kurang lebih 3,5 tahun sejak saya mengucap akad kepada ibunya. Tak pelak berkembang biak memang sifat alamiah makhluk hidup. Begitupun kami. Tanpa berkembang biak, tentu tidak akan ada tulisan ini.
Dan kami memang tipe pasangan tradisional. Memiliki keturunan adalah salah satu keinginan kami. Bahkan mungkin ada di urutan pertama. Namun apa daya kami tidak langsung diberikan keturunan, harus menunggu beberapa saat.
Ada beban yang terasa dalam penantian itu. Kalau di posisiku sebagai suami mungkin tidak seberapa. Namun posisi istriku yang lebih rentan.
Ya, dimana-mana kondisi seperti ini memang menjadi beban bagi kebanyakan perempuan. Apalagi ditengah kultur masyarakat yang patriarki, posisi perempuan semakin terhimpit.
Namun kami sedikit tertolong karena tinggal jauh dari orang tua dan juga berada dalam lingkuangan perumahan. Jauh dari orang tua membuat kami tidak begitu terganggu dengan komentar orang terdekat terkait dengan kondisi kami yang belum memiliki anak–ya, walaupun orang tua dan saudara kami juga tidak banyak komentar pada dasarnya.
Dan berada di lingkungan perumahan membuat privasi kami juga sedikit lebih berjarak karena tipikal masyarakat perumahan yang sedikit individualis.
Ditambah watak kami yang memang tidak begitu senang nongkrong di luar. Saya dan istri lebih senang menghabiskan waktu dalam rumah. Bercengkrama bersama, menonton, makan bersama, cerita ngalor-ngidul, dan segalanya hanya berdua.
Dalam masa-masa penantian yang 3,5 tahun itu, setelah saya renungkan dengan jernih setelah saya memiliki anak. Saya coba bandingkan kondisi antara sebelum dan setelah punya anak. Ada hikmah yang bisa saya pahami hari ini.
“Ooh berarti masih disuruh pacaran dulu kalau begitu”. Diantara sekian omongan orang-orang ketika belum mempunyai anak, kata-kata inilah yang tepat menggambarkan kondisi kami.
Betul-betul kami menikmati masa pacaran yang 3,5 tahun itu. Karena setelah memiliki anak, ternyata rasanya sudah beda.
Perhatian, kasih sayang, dan energi yang begitu besar mau tidak mau tersedot ke anak kami. Sampai terkadang perhatian ke pasangan menjadi berkurang. Apalagi kami tinggal hanya berdua, jauh dari keluarga utama.
Orang tua tidak bisa dimintai tolong menjaga anak. Saudara dan keponakan juga tidak bisa dititipi anak walaupun cuma sebentar. Kondisi ini mengharuskan kami berdua mengurus anak kami sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan istriku pun berkorban dengan berhenti bekerja sebagai guru dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.
Dengan kehadiran anak otomatis bertambah pula tanggung jawabku sebagai manusia. Jika sebelumnya hanya berperan sebagai suami, kini mendapat peran tambahan sebagai bapak.
Bertambah lagi satu mulut yang harus kuhidupi sebagai kepala rumah tangga. Ditengah-tengah biaya hidup yang terus melambung, tentu peran ini menjadi lebih sulit dan menantang.
Namun itu jelas konsekuensi logis dari keinginan memiliki anak. Keinginan memiliki anak juga dibarengi dengan kesiapan menerima beban yang lebih. Baik beban materi maupun imateri.
Sebuah kehidupan yang jauh berbeda ketika dulu belum miliki anak. Kami bebas mau pergi kemanapun yang kami suka tanpa perlu khawatir membawa barang yang banyak. Tanpa perlu khawatir pulang kemalaman. Tanpa perlu khawatir kondisi iklim dan cuaca tempat yang kami datangi.
Dari sisi pendapatan kami pun juga lebih leluasa–leluasa terhadap pilihan keuangan–namun anehnya ketika kami mempunyai anak, pendapatan/rejeki kami malah bertambah. Paling tidak saya bisa rutin nabung dan invest tiap bulan. Yang entah kenapa tidak kami lakukan ketika belum memiliki anak.
Dan yang terpenting, (semoga) kami telah menghabiskan pertengkaran-pertengkaran besar. Pertengkaran-pertengkaran yang harus terjadi dalam upaya menyinkronkan dua manusia dalam sebuah hubungan rumah tangga.
Menyinkronkan sebagai pasangan suami istri dan mematangkan kondisi fisik dan psikis untuk bersiap menjadi orang tua.
Pahit manisnya masa awal pernikahan sekaligus masa penantian kehadiran anak membuat kami sedikit demi sedikit bisa saling memahami. Menjadi bahan evaluasi di masa depan untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan tindakan.
Juga membantu saya menjadi lebih memahami diri sendiri dan juga membangun empati kepada pasangan. Ujungnya kami menjadi lebih siap secara fisik dan psikis ketika anak kami lahir.
Ya walaupun pertengkaran-pertengakaran tetap saja masih ada. Namanya juga rumah tangga. Rumah tangga yang tidak ada pertengkaran justru lebih mengkhawatirkan.