Karya terbaru Tere Liye hadir di tahun politik bertepatan dengan momentum Pemilu. Seperti yang dijanjikan Tere Liye di berbagai postingan medsosnya, novel kali ini mengangkat tema yang cukup serius.
Pada cover belakang novel di bagian barcode tercantum 18+, menandakan ini adalah novel dewasa. Tapi tenang saja, tidak ada “adegan-adegan dewasa” yang akan digambarkan dalam novel ini. Namun lebih kepada jalan cerita. Bahwa novel ini memberikan suatu premis yang menuntut kedewasaan berpikir dan bersikap para pembaca. Pembaca yang punya jiwa labil tidak disarankan membaca novel ini.
Tere Liye sendiri sudah mengatakan di postingannya, “Bahwa ketika tidak ada cara lagi tersisa, ketidakadilan, kezaliman, ada dimana2, maka boleh jadi solusinya sederhana: mari kita restart saja.”
Bagaimana caranya merestartnya? Itu dia plot twistnya.
Ceritanya sebenarnya cukup sederhana. Adalah sekelompok aktivis lingkungan yang menggugat konsesi tambang sebuah perusahaan besar. Awal cerita langsung berlatar di ruang sidang, dimana para aktivis yang berstatus sebagai penggugat menghadirkan saksi yang memberatkan perusahaan. Dan terjadilah adu argumen antara aktivis dan perusahaan tambang yang diwakili oleh pengacara eksentrik. Cerita kemudian berlanjut dengan aktivis terus menghadirkan saksi-saksi dengan berbagai latar belakang yang merupakan korban dari kejahatan tambang yang dilakukan oleh perusahaan. Dan tentu saja si pengacara terus mampu berkelit dari kesaksian dan bukti yang diajukan oleh aktivis.
Plot twistnya bagaimana? Tentu saja ada plot twist, tapi itu kan haram diceritakan di review ini. Bisa-bisa dapat merusak sensasi keseruan novel. Heheheh..
Tokoh-tokoh dalam cerita novel kali ini sepertinya terinspirasi dari tokoh-tokoh yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Misal di kelompok aktivis ada yang namanya Dandhy si sutradara. Tentu saja ini merujuk kepada Dandhy Laksono, jurnalis sekaligus sutradara film dokmenter yg terkenal yang baru-baru saja menyelesaikan “Ekspedisi Indonesia Baru”.
Lalu ada Ibu Sri yang mukanya rusak terkena air keras, sepertinya ini merujuk ke sosok Novel Baswedan yang merupakan eks KPK. Sosok lain ada aktivis yg merupakan seorang penulis. Kalau ini sepertinya merujuk ke Tere Liye sendiri. Hehehe..
Secara keseluruhan novel ini bisa dikatakan cukup berani mengingat isu yang diangkat merupakan isu panas belakangan ini, HILIRISASI TAMBANG. Sebuah isu yang menjadi gorengan politik tiap paslon yang bertarung di Pilpres.
Salah satu bagian yang sangat menarik menurut saya, ada di bagian akhir cerita. Dibagian itu diceritakan dengan jelas dan detail bagaimana perusahaan tambang menikmati begitu banyak keistimewaan dari pemerintah, terutama soal keuangan, transfer pricing, pajak dan ekspor-impor.

Oke, tidak perlu panjang lebar review novelnya ya, nanti jadinya spoiler. Selamat membaca. Tapi ingat jangan baca yang bajakan. Nanti di marahi Tere Liye kalau baca yang bajakan.