Rasanya mendengar lagu Sal Priadi (terlebih Gala Bunga Matahari dan Mencintaimu), serta lagu Romeo: Bunga Terakhir, membawa gejolak rasa duka dalam diriku. Entah karena arti lirik atau nada dari lagunya, saya reflek mengingat kematian mendengar lagu tersebut.

Kematian adalah hal yang menakutkan bagi sebagian orang namun juga menjadi keinginan bagi sebagian orang. Menakutkan, jika mereka tidak ingin mati secepatnya. Mungkinkah mereka takut akan bekal yang mereka siapkan belum cukup ataukah kesenangan duniawi yang belum siap mereka akhiri. Namun bagi mereka yang sudah diterpa berbagai rasa sakit, cobaan hidup, dan perasaan tak kuat seperti manusia lain yang sespesies mereka, kematian menjadi suatu keinginan.

Saat jiwa-jiwa kembali dijemput oleh sang Maha Kuasa, saat warna tubuh yang perlahan keunguan, saat mata yang dulu terbuka kini tertutup, saat tidak ada lagi oksigen yang terhirup oleh paru-paru. Ternyata benar, tidak ada yang benar-benar abadi.

Saya sedih membayangkan nenek yang memiliki harta triliunan rupiah hanya menginginkan pelukan dari anak yang telah pergi akibat kesalahpahaman antar keluarga puluhan tahun yang lalu di ujung kehidupannya.

Namun di saat yang bersamaan, ada juga seorang paman yang meminta untuk dikubur bersama harta senilai 19 triliunnya itu.

Manusia memang memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi keinginannya kepada kematian yang semakin mendekat.

Saya kadang bertanya-tanya, mengapa setiap manusia harus memperjuangkan kehidupan? Menjalani hidup dengan belajar, bekerja, berteman, atau mungkin hutang sana sini untuk sesuap makanan jika ujung-ujungnya mereka akan mati? (Bodoh sekali pertanyaan ini, karena yang benar saja?! Siapa yang ingin tersiksa karena kelaparan?!)

Tidak mungkin mereka mau menghabiskan sisa hidupnya hanya melamun tanpa melakukan apapun sampai mereka mati. Jika begitu mengapa mereka diberi kesempatan untuk hidup? Ah, saya baru saja keliru tentang letak logis dari pertanyaanku tersebut.

Namun, meski sudah tersadar letak kebodohan dari pertanyaan tersebut, marilah kita pikirkan jawaban yang semestinya.

Dari sisi alam, manusia–dan semua makhluk hidup–memang “diprogram” untuk bertahan hidup, berkembang biak, dan melanjutkan keturunan. Itu insting dasar. Jadi perjuangan hidup itu bawaan dari naluri makhluk hidup.

Bertahan hidup, berkembang biak, dan melanjutkan keturunan adalah suatu perjalanan. Dalam perjalanan itu, kira-kira apa yang mereka lakukan untuk membuatnya lebih berarti?

Mungkinkah belajar dari kesalahan? Mencintai seseorang? Mendekatkan diri kepada sang maha kuasa? Memiliki mimpi untuk terus belajar dan bekerja keras untuk kelak mendirikan sebuah sekolah pada anak-anak kurang mampu? Memenangkan juara catur internasional? Sangat banyak. Lebih dari ini.

Oleh karena itu, buatlah kehidupan menjadi lebih berarti, selalu perjuangkan kehidupan yang baik. Selalulah berpikir, termasuk berpikir–mengapa saya harus berpikir?–jika Tuhan memberi otak kenapa kita tidak gunakan untuk berpikir? Dan kembali pada pilihan diri kita lagi, “Apakah otak ini ingin saya gunakan untuk belajar atau memikirkan strategi untuk memenangkan judi?”

Namun, saya sendiri sudah berpikir, “Mengapa hidup harus diperjuangkan?” dan saya sudah mendapatkan jawaban sementaranya.

Jika saja jawaban tersebut salah, maklumlah. Saya hanyalah anak 16 tahun yang kebanyakan mendapatkan jawaban dari pengalaman dan pikiran sendiri.

Astaga, saya berbicara sudah seperti sepuh yang sudah memahami jalan kehidupan.

-Ryuuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *