Maaf aku baru saja menulis lagi, kawan. Iya, aku memang payah. Aku kalah sama keadaan.
Dua bulan kemarin sangat berat buat jiwaku yang kecil ini. Juli dan Agustus kemarin aku disibukkan dengan segala macam tetek bengek mengurusi kegiatan tujuh belasan di lingkunganku. Aku menjadi ketua panitia kegiatan peringatan tujuh belasan. Ini adalah kali kedua aku menjadi ketua panitia setelah zaman kuliah dulu jadi ketua panitia ERD (Electrical Research and Development)–hebat juga masih ingat nama kegiatannya. Ada persamaan diantara keduanya: sama-sama capek.
Kegiatan itu menyita sebagian besar ruang pikir di otakku. Membuat stres sepanjang hari apalagi menjelang akhir pekan. Karena di akhir pekanlah acaranya. Semua rangkaian kegiatan dilaksanakan di akhir pekan. Lomba olahraga, acara ibu-ibu PKK, dan gebyar, semuanya dilaksanakan akhir pekan. Ditambah lagi jalan sehat dari kelurahan yang mengharuskan semua RT turut berpartisipasi. Aku sebenarnya tidak mau ikut jalan sehat dari kelurahan itu. Tapi ya sudah ikut saja. Sudah kepalang tanggung.
Memang berat bulan Juli dan Agustus itu. Tapi tidak salah juga kalau kau ingin menyebutku pecundang sejati. Karena memang kegiatan tujuh belasan itu hanyalah alibiku untuk tidak menulis. Aku bisa saja menulis kalau aku mau. Kan tidak mungkin juga waktuku 7 X 24 jam hanya untuk memikirkan dan mengurusi kegiatan tujuh belasan.
Artikel terakhirku terbit 30 Agustus 2025. Yang berisi sambutan yang aku sampaikan pada saat kegiatan gebyar kemarin. Hehehehe. Yang sebelumnya lagi terbit tanggal 7 Juli 2025. Cukup lama, kan. Dua bulan lebih sampai hari ini. Dan aku sekarang mencoba menulis lagi. Aduuh, susahnya minta ampun.
Sebenarnya aku ingin menulis tentang demo Jakarta yang akhir Agustus kemarin. Tapi mengingat aku sudah cukup lama tidak menulis. Aku yakin tulisanku bakal kac. Karena jari-jariku kaku dan pikiranku beku. Aku tidak tau bagaimana caranya mencairkan pikiran beku itu dan mengalirkannya ke tuts keyboard. Sulit untuk menuliskannya. Jadi kuurungakn niatku menuliskannya. Maka inilah yang kutulis. Aku menulis keresahannku.
Dua bulan ini bacaanku juga macet. Aku menghabiskan waktu hampir 2 bulan untuk menyelesaikan Atomic Habits. Kalian harusnya tahu buku ini. Buku ini best seller dan sudah banyak mengulasnya. Dan memang Atomic Habits sebagus itu. Bukunya bagus karena si penulis tidak hanya memberikan teori buta tanpa kita tahu bagaimana caranya dan kapan waktu yang tepat mempraktikkan semua teori itu.
James Clear menarasikannya dengan storytelling yang cukup memuaskan. Dia menceritakan bagaimana pengalaman orang-orang menerapkan jurusnya itu–atau mungkin jurusnya itu terinspirasi dari orang-orang hebat itu. Dengan dua penjelasan ini (teori dan pengalaman), kita pembaca akhirnya mengerti jalan kerja teori ini seperti apa. Dan juga tahu, kapan harus menggunakan teori ini dalam praktiknya.
Sebenarnya teorinya biasa saja dan saya yakin kita semua pernah memikirkannya. Tapi itulah hebatnya tulisan. Dengan adanya tulisan kita akhirnya tahu bahwa selama ini kita sudah berada di jalan yang benar. Hanya karena tidak sadar saja, kita menjadi lupa dan meninggalkan jalan yang benar itu.
Salah satu keunggulan buku ini adalah kepraktisannya. Buku ini ibarat Instruksi Kerja (IK) atau SOP dalam dalam melalukan sesuatu. Jadi yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti langkah-langkahnya saja. Karena semua teori itu telah dijabarkan dalam suatu bentuk praktis. Kau bahkan bisa langsung menuju ke halaman akhir. Karena di halaman akhirlah kau akan dihadiahi SOP membangun kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk. Tapi tentu kau tidak melakukannya kan?
Memang benar petunjuk-petunjuk itu akan tersedia di halaman akhir. Tapi bagaimana cara kerja dan arah petunjuk itu tidak kau dapatkan di lembaran akhir. Kau harus membaca sejak salaman pertama. Tapi, ya terserah kau sajalah. Mana-mana saja suka-sukamu. Yang penting kau tidak beli buku bajakan saja, deh.
Tulisan ini akhirnya gak jelas arahnya. Dari awal bahas, jarang nulis, terus bahas tujuh belasan akhirnya malah bahas buku. Tapi tidak apa deh. Setidaknya tujuannya tercapai menulis lagi dan mencairkan pikiran beku.