
Film Upstream yang dibintangi dan disutradarai sendiri oleh aktor China Xu Zheng mengangkat isu sosial yang menarik dan sangat relateble dengan kehidupan kita hari ini: ketenagakerjaan.
Sinopsisnya sederhana. Gao Zhilei, seorang programer paruh baya yang dipecat oleh perusahaan tempatnya bekerja karena usianya yang sudah tua–parahnya, perusahaannya memecatnya berdasarkan masukan dari aplikasi optimalisasi karyawan yang dibuatnya sendiri bersama timnya. Gao yang dipecat akhirnya mengirimkan lamaran kerja ke berbagai macam perusahaan namun tidak satupun menerimanya. Dalam salah satu scene, Gao sudah sempat akan melakukan wawancara namun gagal karena terganjal usia.
Gao yang mulai putus asa akhirnya memutuskan kerja di jasa pengantaran makanan daring. Kerjaan yang awalnya dipikirnya gampang ternyata tidak semudah itu. Gao harus berpacu melawan waktu untuk meengantarkan makanan tepat waktu. Karena driver akan dinilai berdasarkan ketepatannya mengantarkan makanan. Belum lagi pemberian rating buruk oleh pelanggan. Yang namanya pekerjaan jasa tentu saja sangat memperhatikan kenyamanan pelanggan. Selanjutnya kita diajak menyelami lika-liku kehidupan baru Gao setelah dipecat.
Apa yang dialami Gao adalah sama dengan apa yang kita alami hari ini. Dalam konteks kehidupan di Indonesia seluruh cerita masih relate apalagi di Indonesia.
Salah satu scene yang melekat adalah ketika Gao ditolak oleh perusahaan karena usianya yang sudah tua. Itu sangat relate sekali dengan kehidupan hari ini. Sudah hal biasa bagi perusahaan memberikan syarat batasan usia pelamar. Syarat ini tentu saja membatasi aksesbilitas lapangan kerja bagi orang-orang dengan usia tertentu. Apalagi ditengah kondisi pasar kerja yang terancam dengan semakin canggihnya teknologi. Yang mana badai PHK menjadi berita yang datang tidak kenal henti–entah PHK karena perusahaannya gagal melakukan inovasi ataukah karena dalih efisiensi yang dikarenakan dampak perkembangan teknologi.
Film ini juga menyoroti masalah ketatnya persaingan usaha di bidang jasa layanan pesan antar makanan. Dan tentu saja yang jadi korban adalah driver sendiri. Driver yang memegang peran menjadi ujung tombak perusahaan adalah yang juga memegang peran pesakitan dengan menanggung denda keterlambatan pesanan. Peran yang sangat ironis.
Perlindungan terhadap pekerja memang hal klasik di dunia ini. Pekerja yang seharusnya dilindungi adalah pekerja yang juga dijadikan tumbal. Di mata kapitalis memang seperti itu. Profit yang utama. Apapun siap dikorbankan demi profit terus meningkat termasuk jika harus mengorbankan pekerjanya sendiri. Sekalipun orang itu adalah orang yang mempunyai peran besar dalam perusahaan. Seperti apa yang dialami oleh Gao.
Film ini seperti memberi tahu kepada kita semua untuk selalu bersiap dengan ketidakpastian masa depan. Ketidakpastian adalah masa depan itu sendiri, tidak ada sama sekali yang pasti dari masa depan. Untuk itulah kita harus selalu siap dan waspada menghadapi masa depan. Kesiapan itu bisa dilakukan dengan melakukan perencanaan keuangan yang matang dan terukur. Dan jangan lupa selalu punya dana darurat. Agar jika terjadi sesuatu yang sifatnya mendadak bisa ter-cover.
Yang tidak kalah penting adalah terus mengasah skill. Karena skill inilah yang menjadi nilai tambah kita di pasar kerja. Gao, walaupun kerja jadi pengantar makanan namun juga tetap mengasa skill programernya dengan membuat peta rute untuk mempermudah driver mencari alamat. Aplikasi itu ternyata membuat salah satu perusahaan tertarik untuk merekrut menjadi programer. Mungkin inilah yang disebut “rejeki emang gak ketuker”
Ah, film ini betul-betul menampar saya dengan hantaman yang sangat keras. Sayapun harus juga berusaha keras seperti Gao.