{"id":879,"date":"2025-01-20T13:30:01","date_gmt":"2025-01-20T06:30:01","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=879"},"modified":"2025-01-20T13:30:01","modified_gmt":"2025-01-20T06:30:01","slug":"review-uang-panai-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=879","title":{"rendered":"Review Uang Panai 2"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah sukses dengan Uang Panai (2016), sineas Makassar kembali menghadirkan film lokal dengan tema yang sama, uang panai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ancha yang berhasil menikahi Risna dan kini telah memiliki anak. Terinspirasi dari perjuangannya mengumpulkan uang panai, Ancha memutuskan mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang konsultasi jasa uang panai bersama dengan Tumming dan Abu yang dinamakan Pattumbu, akronim dari Perusahaan Ancha, Tumming, dan Abu. Pattumbu menyediakan jasa konsultasi untuk mengumpulkan uang panai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Iccang adalah klien pertama Pattumbu. Seorang manajer di sebuah perusahaan swasta di Makassar. Iccang punya kekasih yang namanya Icha&#8211;dari pemilihan nama saja, Makassar-nya sudah sangat berasa. Icha berprofesi sebagai seorang dokter sekaligus pemilik klinik kesehatan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Iccang dan Icha, pasangan dengan usia yang matang dan penghasilan yang ganteng, sudah bersiap melangkah ke jenjang yang lebih serius: pernikahan. Tanpa ngomong dulu ke Icha, Iccang memberanikan diri datang menemui orang tua Icha di rumahnya langsung. Iccang sebenarnya mempunyai maksud terselubung yaitu untuk mencari tahu berapa uang panai Icha. Adapun usulan silaturahim ke rumah Icha adalah usulan dari Tumming dan Abu sebagai konsultan uang panai. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari pertemuan itu Iccang mengetahui kalau uang panai Icha sekitar 200 juta. Tumming dan Abu menyarankan agar Iccang melakukan penghematan sekaligus menabung sebab Iccang terkenal suka hidup boros dan bahkan tidak punya tabungan. Tantangan lain yang dihadapi Iccang adalah kurang setujunya ibu Icha dengan hubungan mereka. Ibu Icha ingin menjodohkan Icha dengan anak teman sosialitanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mulailah Iccang bergerilya untuk mengumpulkan uang panai dan juga meluluhkan hati orang tua Icha. Dan tentu dibantu Tumming dan Abu sebagai konsultannya uang panainya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konflik yang dibangun dalam konflik ini tidaklah berat dan terkesan. Jadi mudah saja penonton untuk memahami jalan ceritanya. Jualan utamanya adalah lokalitas Makassar. Eksploitasi kelokalan Makassar sangat kental salam cerita ini. Diksi dan gaya bahasanya full menggunakan bahasa dan logat Makassar. Bahkan guyonannya pun sangat kental aroma Makassar. Seperti Mellong yang memanggil Sherly dengan sebutan &#8220;Sherlycu&#8221;. Ah, itu sangat Makassar sekali kawan. Jadi buat kalian yang ingin tahu bagaimana kehidupan masyarakat Makassar seperti apa. Film ini sedikit-sedikit bisa memberikan gambarannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Film ini juga menghadirkan artis dan tokoh nasional sebagai Cameo. Ada Das&#8217;ad Latif, Sandiaga Uno, dan juga Fadly Padi. Dan tentu saja dibalut dengan humor yang renyah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Film ini sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata Sulawesi Selatan. Karena salah satu tempat yang dijadikan lokasi syuting adalah Pantai Bira di Bulukumba. Kebetulan pak Sandiaga Uno masih menjabat Menteri Pariwisata saat film ini tayang di bioskop.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imdb sendiri memberi rating 7,7 dari 10 untuk film ini. Mengalahkan film uang panai 1 yang hanya 7,1. Sebuah pencapain yang cukup membanggakan untuk ukuran film lokal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang sedikit menjadi catatan adalah akting pemainnya yang kurang smooth dan agak kaku. Gak tau juga sih, apakah itu adalah kritik atau hanya bias personal saya saja karena kebanyakan nonton film nasional dan jarang nonton film lokal. Ataukah memang inilah tujuan film ini dibuat: mengenalkan kebudayaan lokal Sulawesi Selatan kepada khalayak luas. Sebab semua pemainnya memang asli orang Sulawesi Selatan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Film lokal dengan talent lokal memang harus berani tampil ke panggung nasional. Film bisa menjadi salah satu media yang tepat untuk memperkanalkan budaya, tempat, sekaligus orangnya kepada orang. Ini adalah cara keren agar kita bisa saling mengenal budaya dan manusia tiap daerah satu sama lain. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah sukses dengan Uang Panai (2016), sineas Makassar kembali menghadirkan film lokal dengan tema yang sama, uang panai. Ancha yang berhasil menikahi Risna dan kini telah memiliki anak. Terinspirasi dari perjuangannya mengumpulkan uang panai, Ancha memutuskan mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang konsultasi jasa uang panai bersama dengan Tumming dan Abu yang dinamakan Pattumbu, akronim dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-879","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=879"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":910,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/879\/revisions\/910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}