{"id":827,"date":"2024-12-20T16:01:13","date_gmt":"2024-12-20T09:01:13","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=827"},"modified":"2024-12-20T16:01:13","modified_gmt":"2024-12-20T09:01:13","slug":"review-dilema-pks-suara-dan-syariah-karya-burhanuddin-muhtadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=827","title":{"rendered":"Review Dilema PKS Suara dan Syariah Karya Burhanuddin Muhtadi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku yang sangat menarik. Buku yang merangkum semua perjalanan PKS mulai dari awal terbentuk sampai hari ini. Mulai dari kondisi sosial politik yang melatar belakangi, tokoh-tokohnya, pergulatan, sampai konflik internal yang membayangi. Buku ini ditulis tahun 2011. Apakah masih relevan untuk saat ini? Mari kita simak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengutip sambutan dari penulis, buku ini adalah sub-tesis Burhanuddin Muhtadi ketika menyelesaikan program master di The Australian National University (ANU), Canberra, yang berjudul &#8220;Thinking Globally, Acting Locally: Analyzing the Islamist Activism of Indonesia&#8217;s Prosperous Justice Party (PKS) from a Social Movement Theory Perspective. Sebuah analisis kritis terhadap satu partai Islam yang memiliki cukup banyak simpatisan ataupun musuh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada 8 bab di buku ini. Dan tiap babnya disusun berdasarkan alur kronologis. Mulai dari sejarah terbentuknya di akhir tahun 1970an yang hanya berupa gerakan sosial dalam bentuk jamaah tarbiya sampai ditutup dengan konflik-konflik yang dihadapai dalam proses eksistensi partai dalam kancah politik nasional. Dan ditutup dengan kesimpulan dari penulis. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana karya ilmiah pada umumnya, khusu bab 1, penulis memaparkan latar belakang peristiwa yang berkaitan dengan partai dan kondisi sosial politik yang melatarbelakangi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan PKS. Juga ada rumusan masalah, tinjauan pustaka. Dan yang terpenting pendekatan penulis dalam membahas permasalahannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis menggunakan kacamata gerakan sosial. Karena memang embrio PKS adalah gerakan sosial yang awalnya menutup diri dari hingar bingar politik. Melalui pendekatan integrasi gerakan sosial penulis menjelaska seluk beluk lahirnya PKS. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan terkahir di bab 1 adalah metode penulisan. Di mana penulis menggunakan metode analisis peristiwa protes, wawancara, observasi langsung dengan mendatangi sumber-sumber dan kantor PKS untuk medapatkan informasi akurat. Bab selanjutnya adalah kelahiran PKS.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Embrio awal PKS adalah gerakan dakwah kampus yang lahir di akhir tahun 1980an. Cerita mula sebenarnya bisa ditelusuri dari sejak pemerintahan Soekarnao. Di tahun 1960 Soekarno membubarkan Paryai Masyumi karena ingin mendirikan negara ideologi Islam. Salah satu tokoh sentral Masyumi kala itu adalah Mohammad Natsir. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masuk ke masa pemerintahan orde baru yang otoriter, Mohammad Natsir menyadari bahwa pemerintahan Soeharto yang alergi dengan Islam politik memutuskan mendirikan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). DDII awalnya didirikan untuk tujuan non politis. Namun memang dasarnya Natsir adalah politisi, tidak bisa dibantah ada juga muatan sosial politik dalam pergerakan DDII. Namun situasi dan kondisi waktu itu yang tidak memungkinkan gerakan Islam politik berkembang di masyarakat membuat masjid menjadi pilihan paling aman dalam syiar-syiar DDII. Sampai jugalah pergerakan DDII ini masuk ke masjid-masjid kampus sekuler semisal UI, ITB, IPB, UGM, dll. Bisa dikatakan DDII jugalah yang mengimpor pemikiran Islam politik khas Timur Tengah ke kampus melalui tokoh-tokoh dan pelatihan yang mereka lakukan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memasuki akhir tahun 1970an Soeharto mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan yang bertujuan melarang semua aktivitas politik mahasiswa dan menggantinya dengan Dewan Mahasiswa (DEMA). Akhirnya kegiatan politik mahasiswa pun tersalurkan ke masjid-masjid melalui kelompok-kelompok studi kecil. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelompok diskusi kecil-kecilan itu akhirnya bermetamorfosis menjadi Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Satu per satu LDK muncul di kampus-kampus sekulur milik negara. LDK itu kemudian dipersatukan dalam wadah FSLDK (Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus) yang menjadi forum pemersatu jaringan LDK antar kampus. Awalnya LDK-LDK ini hanya berkutat dengan agenda-agenda keislaman yang sifatnya non politis karena situasi politik yang tidak memungkinkan. Namun mereka menumukan momentumnya ketika pemerintahan Soeharto melemah menjelang reformasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasca pertemuan tahunan FSLDK ke-10 di Malang tahun 1998. Beberapa aktivis LDK memutuskan mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Tokoh sentralnya tentu saja Fahri Hamzah yang menjadi ketua KAMMI pertama. Antara FSLDK dan KAMMI tidak memiliki hubungan langsung. Namun hampir seluruh kader KAMMI adalah anak LDK. KAMMI bergabung dengan seluruh aktivis mahasiswa lain untuk menjatuhkan Soeharto. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soeharto kemudian lengser. Lengsernya Soeharto membawa angin segar akan kondisi sosial politik Indonesia saat itu. Situasi saat itu membuat KAMMI mempertimbangkan ide untuk membuat partai baru, maka lahirlah PK (Partai Keadilan). PK menjadi salah satu kontestan dalam Pemilu 1999 yang berakhir gagal. PK tidak mampu melewati threshold 2%. Suara PK hanya 1,36%. Kegagalan masuk parlemen memaksa PK harus merubah namanya sesuai dengan peraturan kala itu, maka lahirlah PKS. Sampai sekarang partai ini masih eksis di parlemen sampai saat ini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan yang terpenting adalah bab 7. Bab ini memaparkan dilema yang dihadapi PKS sebagai partai Islam. Apakah PKS hanya akan bermain di ceruk pasarnya&#8211;orang Islam&#8211;dengan memainkan isu-isu Islam ataukah melompat ke kolam yang lebih besar yang berisi kaum sekuler, abangan, dan nasionalis dengan memainkan isu-isu publik yang lebih umum. Karena bagaimanapun ceruk pasar sekuler, abangan, nasionalis sangat besar. Jika hanya mengandalkan orang Islam, muda, terididik, perkotaan maka kegagalan Pemilu 1999 menantin di depan mata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buku yang sangat menarik. Buku yang merangkum semua perjalanan PKS mulai dari awal terbentuk sampai hari ini. Mulai dari kondisi sosial politik yang melatar belakangi, tokoh-tokohnya, pergulatan, sampai konflik internal yang membayangi. Buku ini ditulis tahun 2011. Apakah masih relevan untuk saat ini? Mari kita simak. Mengutip sambutan dari penulis, buku ini adalah sub-tesis Burhanuddin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-827","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=827"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/827\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":848,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/827\/revisions\/848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}