{"id":815,"date":"2024-12-15T16:13:38","date_gmt":"2024-12-15T09:13:38","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=815"},"modified":"2024-12-15T16:13:38","modified_gmt":"2024-12-15T09:13:38","slug":"sedikit-catatan-tentang-si-ujang-gatrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=815","title":{"rendered":"Sedikit Catatan Tentang SI UJANG GATRIK"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SI UJANG GATRIK adalah sistem informasi atau bisa juga dikatakan UI (User Interface) alias sistem antar muka dalam pengurusan Sertifikat Laik Operasi (SLO). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa itu SLO? SLO adalah semacam pengakuan atas legalitas suatu instalasi listrik dalam khazanah kelistrikan di Indonesia. &#8220;Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki sertifikat laik operasi&#8221; begitulah kutipan UU Nomor 30 Tahun 2009 pasal 44 ayat 4. Dalam turunannya&#8211;masih dalam hal kelistrikan&#8211;bukan hanya sertifikat saja yang harus dipenuhi. Ada izin untuk instalasi pembangkit itu sendiri dan SKTTK (Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan) untuk operatornya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tata cara pelaksanaan SLO secara teknis diatur dalam Peraturan Menteri (PERMEN) ESDM Nomor 12 tahun 2021. Disitu ada mata uji SLO tiap-tiap instalasi listrik. Mata uji menjelaskan secara terperinci tentang apa-apa persyaratan teknis dan dokumen yang harus dipenuhi agar instalasi listrik memiliki SLO. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak lama setelah Permen ESDM Nomor 12 tahun 2021 terbit dan pengurusan SLO dialihkan ke pusat, Kementerian ESDM juga meluncurkan aplikasi SI UJANG GATRIK (Sistem Informasi Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik). Sebuah aplikasi yang menjadi wadah pertemuan antara semua pihak yang berkepentingan untuk pengurusan SLO. Sebenarnya tidak hanya SLO saja yang diurusi. Sistem ini juga meliputi semua usaha jasa penunjang di bidang ketenagalistrikan. Selain SLO, di dalamnya juga ada sertifikasi badan usaha dan pembangunan dan pemasangan instalasi. Namun kali ini kita batasi pembahasan penggunaan aplikasi SI UJANG GATRIK untuk pengurusan SLO.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di aplikasi&#8211;yang namanya cukup panjang&#8211;ini semua pihak yang berkepentingan bisa memantau progres pekerjaan. Pemilik instalasi, Lembaga Inspeksi Teknik (LIT), dan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan a.k.a DJK (Kementrian ESDM diwakili direktorat tersebut) tahu progres pekerjaan sekarang ada di mana. Apakah masih di LIT, atau sudah ke DJK, atau mungkin masih di pemilik instalasi. Semuanya tahu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aplikasi ini juga sekaligus mewujudkan keinginan lama DJK untuk memiliki suatu sistem yang bersifat mampu telusur dalam satu wadah. Jadinya tidak repot jika ingin mencari suatu dokumen khusu sehubungan dengan SLO. Tinggal buka saja aplikasinya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan setelah menjadi user selama 3 tahun. Berikut beberapa catatan dari saya pribadi sebagai user di sisi LIT. Semoga poin-poin ini bisa menjadi perbaikan untuk SI&#8211;mang&#8211;UJANG. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Terlalu Ribet dan Makan Waktu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah masalah terbesarnya. Aplikasi ini terlalu memakan waktu buat ngisinya. Ada poin yang yang memang tidak ada Poin yang di induknya sudah NA (Not Available) seharusnya sub-subnya tidak perlu dimunculkan lagi. Untuk apa memunculkan anakan kalau induknya sudah NA? Tidak ada gunanya kan. Tapi kok masih dimunculkan juga. Inilah yang akhirnya membuat waktu terbuang percuma hanya untuk ngisi sesuatu yang tidak perlu. Andai kata yang sepeti ini dihilangkan, pengisian aplikasinya bisa lebih cepat. Gampang kok buat hilangkannya. Tinggal ngasih tahu programernya saja. Selesai masalah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"344\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1-1024x344.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-822\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1-1024x344.jpg 1024w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1-300x101.jpg 300w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1-768x258.jpg 768w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1-1536x516.jpg 1536w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/1.jpg 1755w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Salah Justifikasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini menurutku kesalahan fatal. Sistem SLO mengharuskan LIT untuk menjustifikasi instalasi apakah instalasi itu sudah sesuai dengan standar atau belum. Kalau sesuai maka justifikasinya sesuai. Kalau tidak sesuai berarti tidak sesuai. Kalau barangnya tidak ada bagaimana? Masak harus dijustifikasi sesuai atau tidak sesuai. Contohnya poin pengujian proteksi ini. Realita di lapangan, instalasi itu macam-macam model dan bentuknya. Ada instalasi yang proteksinya lengkap, ada juga yang tidak. Instalasi yang proteksinya lengkap pun belum tentu memiliki semua proteksi yang diminta SI UJANG GATRIK, apalagi instalasi genset kecil yang mungkin hanya punya proteksi arus, getaran, dan tegangan di sisi generatornya. Maka kenapa hanya disediakan jawaban sesuai\/tidak sesuai di pengisingannya. Barangnya gak ada. Jadi bingung kan ngisinya sesuai atau tidak sesuai. Padahal seharusnya NA. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang kayak-kayak gini, pihak DJK harus lebih selektif lagi mencermatinya. Mana yg harus ada pilihan NA mana yang tidak. Karena tidak ada pilihan NA akhirnya tenaga teknik milihnya sembarang saja. Amannya pilih saja sesuai. Kalau tidak sesuai nanti SLO-nya malah tidak terbit. Sudah pilih sesuai ternyata salah karena barangnya tidak ada. Tapi kok SLO-nya bisa terbit? Ya sudahlah, yang penting SLO-nya terbit dulu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"359\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2-1024x359.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-823\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2-1024x359.jpg 1024w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2-300x105.jpg 300w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2-768x269.jpg 768w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2-1536x538.jpg 1536w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/2.jpg 1817w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ngunci SKTTK Kok Pake NIK<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini juga sangat fatal: SKTKK dikunci berdasarkan NIK. Nyambungnya di mana coba? Tiap SKTTK yang terbit pasti ada nomor registrasinya. Dan perlu diingat kalau SKTTK ini adalah bentuk pengakuan atas kompetensi seseorang. Ada dua yang menjadi poin utamanya: orang dan kompetensi. Orang yang menjadi objek asesmen. Jika orang itu memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan maka orang itu dianggap kompeten. Terbitlah SKTTK. SKTTK inilah yang digunakan oleh badan usaha dalam beroperasi. Ujungnya badan usaha harus mendaftarkan tiap Tenaga Teknik (TT) di sistem SI UJANG GATRIK. Ada TT yang tercantum dalam Sertifikat Badan Usaha (SBU) ada juga tidak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">TT yang sudah didaftarkan di salah satu BU, tidak bisa lepas kecuali BU yang bersangkutan melepasnya terlebih dahulu. Bahkan ketika SKTTK sudah expired pun dan sudah ada SKTTK yang baru. Tetap saja SKTTK baru itu tidak bisa didaftarkan oleh BU kecuali yang lama dilepaskan terlebih dahulu. Itu berarti sistem mengunci NIK nya. Itulah masalahnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paling tidak masalahnya ada dua. Pertama sistem tidak menghapus SKTTK yang lama padahal SKTTK yang lama itu sudah expired. Statusnya masih saja aktif. Kan lucu, SKTTK yang sudah jelas expired kok masih bisa berstatus aktif. Seharusnya sistem langsung menghapus saja SKTTK tersebut. Selesai masalah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua SKTTK dikunci berdasarkan NIK. Inilah kejadian yang baru saja saya alami. SKTTK lama saya di BU sebelumnya masih berstatus aktif padahal sudah expired. Dan sekarang saya sudah punya SKTTK baru. Ketika SKTTK baru coba saya daftarkan di BU saya yang sekarang, ternyata tidak bisa. Alasannya karena saya masih terdaftar di BU yang lama. Lah kocak. Saya memang masih terdaftar di BU lama pakai SKTTK lama yang sudah expired. Logikanya saya sudah lepas tanggung jawab di BU lama karena SKTTK lama saya sudah expired. Tapi kok kenapa status saya masih terdaftar di BU lama? Itu berarti yang dikunci kan NIK-nya buka nomor registrasinya. Inilah masalahnya. Kembali ke poin awal. SKTTK itu bentuk pengakuan atas kompetensi seseorang. Kalau orangnya ada tapi kompetensinya kurang maka tidak lahir SKTTK. Maka esensi sebenarnya adalah kompetensi itu sendiri. Karena orang pasti ada tapi kompetensi belum tentu. Kalau kompetensi ada, pasti adalah SKTTK. Tapi kenapa kok yang dikunci malah NIK. Memangnya ini Dinas Capil?<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"461\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/WhatsApp-Image-2024-12-12-at-08.47.17_5933a3a2-1024x461.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-825\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/WhatsApp-Image-2024-12-12-at-08.47.17_5933a3a2-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/WhatsApp-Image-2024-12-12-at-08.47.17_5933a3a2-300x135.jpg 300w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/WhatsApp-Image-2024-12-12-at-08.47.17_5933a3a2-768x346.jpg 768w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/WhatsApp-Image-2024-12-12-at-08.47.17_5933a3a2.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pendaftaran Akun<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini juga yang bolak-balik jadi masalah. Pendaftaran akun berkali-kali gagal. Jika gagalnya sekali mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau gagalnya berkali-kali. Berarti ada suatu masalah yang sama yang tidak terselesaikan. Mengapa tidak terselesaikan? Gak tahu lah. Dan kalau pendaftaran akun sudah gagal maka masalah menjadi panjang. Sebab SI UJANG GATRIK tidak menyediakan alur mekanisme penyelesaian masalah di aplikasinya. Berkali-kali terjadi penyelesaian masalah pendaftaran akun gagal ini akhirnya diselesaikan melalui surat resmi ditujukan ke pejabat pemerintahan langsung. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekedar urusan teknis aplikasi saja harus melibatakan pejabat terjun langsung. Ah, repot betul birokrasi kita. Bagi kita waktu bukanlah uang. Waktu adalah cangkruk. Kalau ada waktu mari kita cangkruk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebenarnya masih banyak lagi permasalahan aplikasi ini. Tapi cukup empat itu saja dulu. Bakal panjang kalau semua masalahnya dijabarkan satu per satu. Lah empat ini saja sudah jadi tulisan panjang, apalagi seratus. Overall aplikasi ini sebernarnya sangat membantu LIT untuk menstandarisasikan laporan. Dengan adanya aplikasi juga membantu mempercepat proses penerbitan SLO. Tapi begitulah. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Faktanya aplikasi ini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Perbaiki kekurangan, tingkatkan yang sudah mantap. Selesai.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SI UJANG GATRIK adalah sistem informasi atau bisa juga dikatakan UI (User Interface) alias sistem antar muka dalam pengurusan Sertifikat Laik Operasi (SLO). Apa itu SLO? SLO adalah semacam pengakuan atas legalitas suatu instalasi listrik dalam khazanah kelistrikan di Indonesia. &#8220;Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki sertifikat laik operasi&#8221; begitulah kutipan UU Nomor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-815","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=815"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":826,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815\/revisions\/826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}