{"id":706,"date":"2024-10-22T15:50:25","date_gmt":"2024-10-22T08:50:25","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=706"},"modified":"2024-10-24T13:25:52","modified_gmt":"2024-10-24T06:25:52","slug":"pentingkah-rekonsiliasi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=706","title":{"rendered":"Pentingkah Rekonsiliasi Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam masa kampenye Pipres 2024 kemarin. Salah seorang kawan saya dalam status WA-nya pernah membeberkan alasannya memilih Prabowo-Gibran. Salah satu alasannya adalah Prbowo-Gibran merupakan simbol rekonsiliasi dua kekuatan besar politik Indonesia. Tentu yang dimaksud adalah Jokowi dan Prabowo. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masyarakat Indonesia sudah lama terpolarisasi. Mula-mulanya dari pilihan politik. Namun akhirnya terus merambat sampai ke kehidupan sosial. Bibitnya sebenarnya sudah mulai tercium pada Pilpres 2014 ketika Jokowi head to head pertama kali dengan Prabowo. Dan terus berlanjut samapai paling parah pada momentum Pilkada Jakarta 2017. Sampai ada satu kelompok masyarakat yang tidak ingin menyalatkan orang-orang yang menjadi pendukung salah satu calon saat itu. Kita semua tentu tahu calon itu adalah Ahok. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Khusus Pilkada Jakarta 2017. Isu agama memang kencang pada saat itu. Beberapa pemuka agama khususnya agama Islam menyerukan agar memilih calon yang seagama. Waktu itu ada Anies dan AHY yang beragama Islam. Isu ini terus berkembang makin hari makin kencang. Daan.. tersulutlah Ahok. Ahok keceplosan ngomong. Offside. Sudah keluar batas. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ahok mengutip Q.S Al Maidah: 51 yang kurang lebih Ahok menyampaikan &#8220;jangan mau dibohongi pake Surat Al Maidah ayat 51&#8221;. Kurang lebih begitulah. Sampai di sini massa marah. Tercatat 14 laporan soal penodaan agama dilayangkan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya memang offside sih. Seharusnya Ahok tidak perlu tersulut dengan isu agama ini. Kalau Ahok sedikit pandai berpolitik. Justru ini bisa menjadi peluang untuk melakukan serangan balik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan seperti yang kita tahu. Ujung dari kasus itu Ahok divonis penjara selama 2 tahun. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilkada 2017 adalah proksi Pilpres 2014. Dua kekuatan utama bertarung, Jokowi VS Prabowo. Mereka kembali bertarung di Pilpres 2019. Lagi-lagi hanya 2 pasang calon yang maju. Semua kekuatan politik berkumpul di kedua pasangan calon. Dan hasilnya lagi-lagi Prabowo kalah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan yang mengejutkan. Jokowi mengajak Prabowo gabung ke kabinetnya. Gayung bersambut, Prabowo menyetujui. Resmi Prabowo jadi bawahan Jokowi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan mesra itu terus berlanjut sampai di tahun 2024. Dan ikatan itu semakin erat manakala Prabowo memilih Gibran untuk menjadi wakilnya bertarung di Pilpres. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Merunut waktu ke belakang. Jika dikatakan rekonsiliasi nasional adalah fusinya kekuatan politik Jokowi dan Prabowo. Maka bangsa kita resmi telah mencapai tahapan rekonsiliasi nasional pada tanggal 23 Oktober 2019 ketika Jokowi resmi melantik Prabowo sebagai Menteri Pertahanannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini, 24 Oktober 2024. Tepat 5 tahun 1 hari rekonsiliasi nasional terjadi. Apa manfaat yang sudah kita rasakan selama 5 tahun rekonsiliasi nasional? Ekonomi meningkat? Keadilan ditegakkan? Persoalan HAM masa lalu tuntas? Konflik agraria sudah benar-benar habis? Kerusakan alam sudah pulih? Apa kabar nasib buruh, petani, dan guru? Sudah sejahtera kah nasibnya? Kriminalisasi aktivis dan pers sudah tidak ada? Pembubaran diskusi sudah tidak ada? Banyak kan pertanyaannya. Itu belum semua. Masalah di bangsa kita masih lebih banyak lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nyatanya kehidupan kita tidak menjadi lebih baik dengan adanya rekonsiliasi nasional. UMR naik kayak orang kecirit. Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Mau diskusi dibubarkan. Harga-harga pada naik. Minya goreng naik tidak mau turun. Harga pesawat domestik tetap dingin di pucuk. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rekonsiliasi nasional tidak lebih sebagai bersatunya kekuatan elit politik. Tidak memberi dampak apa-apa ke masyarakat. Dampak hanya dirasakan orang gedean. Paling tidak bisa turut mencicipi kue jabatan. Lagi-lagi politik transaksional. Ketika orang di bawah susahnya cari kerja bukan main. Orang-orang atas nyari kerja mengandalkan koneksi dengan penguasa saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oke kehidupan sosial kita memang sudah tidak sepanas dulu. Maksudnya pilihan politik tidak sampai memecah belah. Sudah tidak ada tuh yang orang-orang yang gak mau mandiin tetangganya yang mati hanya karena beda pilihan politik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi hey.. Jujur juga dong lihat kondisinya. Kejadian 2017 itu ada pemicunya. Tidak serta merta meletus begitu saja. Dan memang pemicunya fatal. Oke memang masyarakat kita terlalu berlebihan meresponnya. Saya pun tidak sepakat kalau ada orang yang gak mau nyolatkan tetangganya yang hanya karena beda pilihan politik. Tindakan itu pun sama-sama melampaui batas. Tanpa membela atau menormalisasi. Lahirnya tindakan itu bisa dipahami: ada pihak yang mengganggu ranah privat seseorang. Agama adalah ruang privasi. Tidak perlu masuk ke privasi seseorang apalagi jika anda berbeda agama. Iya kan..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rekonsiliasi nasional adalah fusinya kekuatan elit politik. Sudah. Itu saja. Rakyat tidak dapat apa-apa sama sekali. Toh kita tahu tabiat asli politisi kita seperti apa. Pada saat pemilihan ngomongnya wakil rakyat. Pas sudah naik malah ternyata yang dia wakili adalah kelompoknya sendiri. Masih ingat kan ketika DPR buru-buru buat sidang untuk melawan keputusan MK yang menurunkan angka threshold pencalonan kepala daerah. Rakyat sudah bersorak ketika MK menurunkan angka threshold. Itu berarti pencalonan kepala daerah menjadi mudah. Tapi DPR dengan muka tebalnya mengadakan sidang untuk membatalkan keputusan MK. Lah kepentingan siapa yang dia bawa ke sidang itu. Akhirnya di demo kan. Kapok kon.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau definisi rekonsiliasi nasional adalah seperti yang dijelaskan diatas, maka rekonsiliasi nasional tidak perlu ada. Bersatunya kekuatan politik malah membuat demokrasi rusak. Oposisi hilang dan tidak ada check and balance. Sebenarnya yang harusnya menjadi oposisi adalah DPR. Tapi begitulah. DPR hanya menjadi stempel pemerintah. Semua sudah disepakati sebelum mulai sidang. Sidang hanya untuk mengesahkan apa-apa yang sudah disepakati. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau definisi rekonsiliasi nasional berarti berkawannya kekuatan politik. Maka tidak usah ada yang namanya rekonsiliasi nasional. Biar saja elit-elit politik itu pada gontok-gontokan daripada rakyatnya yang gontok-gontokan cuman karena urusan perut.  <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam masa kampenye Pipres 2024 kemarin. Salah seorang kawan saya dalam status WA-nya pernah membeberkan alasannya memilih Prabowo-Gibran. Salah satu alasannya adalah Prbowo-Gibran merupakan simbol rekonsiliasi dua kekuatan besar politik Indonesia. Tentu yang dimaksud adalah Jokowi dan Prabowo. Masyarakat Indonesia sudah lama terpolarisasi. Mula-mulanya dari pilihan politik. Namun akhirnya terus merambat sampai ke kehidupan sosial. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-706","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=706"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/706\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":716,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/706\/revisions\/716"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}