{"id":696,"date":"2024-10-23T18:28:02","date_gmt":"2024-10-23T11:28:02","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=696"},"modified":"2024-10-23T18:28:02","modified_gmt":"2024-10-23T11:28:02","slug":"gambaran-singkat-masa-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=696","title":{"rendered":"Gambaran Singkat Masa Sekolah"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebanyakan kita mungkin pasti sudah pernah menjalan masa sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan jika beruntung bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dari semua masa sekolah itu banyak momen terekam dalam ingatan. Dan kita bisa mengasosiasikan gambaran masa-masa sekolah itu. Berikut gambarannya dari sudut pandang pribadiku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>TK<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">TK adalah tingkat pendidikan yang paling pertama dirasakan oleh sebagian orang-orang. Tidak semua memang. Sebab TK memang bukan sebuah keharusan dalam sistem pendidikan bertingkat di Indonesia. Apalagi di zaman tempo doloe. Tidak semua orang tua memasukkan anaknya ke TK. Banyak macam alasannya. Bisa karena duit atau memang tidak mau saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika masuk ke TK kebanyakan anak-anak berusia sekitar 5 tahun. Masa di mana anak-anak masih senang main-main. Dan TK pun sama. TK alias Taman Kanak-Kanak adalah tamana bermain. Anak-anak bebas bermain sesuka hati semaunya. Namun tetap ada diselipkan pembelajaran. Bukan pembelajaran seperti di SD yang sudah tertata mata pelajarannya. Pelajaran TK dikemas dalam bentuk permainan. Praktis dunia anak TK adalah makan, bermain, dan belajar. Sebatas itu saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>SD<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beranjak SD, berarti naik satu anak tangga. Tingkat kesulitan juga bertambah. Jika waktu TK taunya main saja. Di SD mulai ngerti yang namanya belajar. Bukan berarti anak TK tidak belajar sama sekali ya. Anak TK juga belajar kok, cuman dikemas dengan cara bermain. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingkat SD mulai dikenalkan dengan mata pelajaran. Mata pelajarannya sudah terusun rapi. Matematika, Bahasa Indonesia, KTK, IPA, IPS, PPKN, dkk. Dan SD juga sudah mengenal yang namanya ujian. Ulangan harian, mid semester, sampai ujian semester. Otomatis anak SD juga mulai belajar. Pagi sekolah, sore sehabis pulang sekolah main, malamnya belajar. Seperti itulah siklus anak SD.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masa ini juga sudah mulai ada yang suka dengan lawan jenis. Tapi umumnya rasa suka itu hanya sebatas rasa suka saja. Dicengcengin sama teman. Kalau zamanku dulu apalagi tinggalnya di desa. Hampir tidak ada yang pacaran. Tidak tau lagi kalau di kota. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi kita bisa merangkum kehidupan anak SD adalah bermain dan belajar. Jika anak TK cuman bermain tok. Masuk ke SD sudah mulai belajar&#8211;karena besok ada ujian. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>SMP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Naik lahi ke SMP. Anak-anak SMP sudah biasa belajar. Namun yang dulunya waktu SD kebanyakan main. Mainnya juga seputaran rumahnya saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masuk SMP anak-anak sudah mulai mengenali hobinya. Di masa ini mainnya anak-anak mulai terarahkan ke hobi. Yang senang bola, biasanya sore sudah main bola. Pulang setelah radio masjid berkumandang. Di hari-hari tertentu ikut latihan di SSB (Sekolah Sepak Bola).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada yang les balet, les musik. Para orang tua sudah mulai mengarahkan anak-anaknya untuk mengembangkan potensi si anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu SD sebenarnya juga sudah mulai. Namun masuk masa SMP anak-anak mulai mengenali dirinya sendiri. Jadi yang dulunya kebanyakan main dengan teman satu kompleksnya saja. Kali ini jaringannya sudah mulai luas. Mainnya agak jauh. Dan juga jangan lupa. Masa SMP adalah masa-masa awal pubertas anak-anak. Yang waktu SD hanya sekedar suka saja. Masuk SMP mulai berani nembak cewek. Sudah mulai mengenal yang namanya pacaran. Namun belum banyak anak SMP pacaran, setidaknya waktuku masih SMP dulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>SMA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masuk deh SMA. Jadi ingat lirik lagunya Alm. Chrisye, &#8220;Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biasa sekali anak SMA pacaran. Waktu SMP belum banyak yang pacaran. Masuk SMA semua pada punya pacar. Habis pacaran, sudah itu putus. Sakit hati jadinya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masa SMA lekat dengan kisah asmara. Rasa-rasanya anak semua anak SMA seakan di mabuk asmara. Anak SMA juga sudah mulai berani berkspresi. Ketika waktu SMP dulu masih malu. Di SMA sudah tidak punya malu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan mulai terbuka. Si A pacarnya si B. Si C baru putus dengan si D. Cinta si E bertepuk sebelah tangan di si F. Ternyata si F suka dengan si G. Aah begitulah masa SMA. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun tidak bukan soal kisah asmara yang seru di masa SMA. Pengalaman berorganisasi juga di mulai di sini. Ada yang namanya OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Selain OSIS juga ada ekskul. Waktu SMP juga sebenarnya sudah ada OSIS dan ekskul. Bedanya ketika sudah SMA, anak-anak lebih bebas menjalankan organisasi itu minim campur tangan pihak guru. Bukan berarti guru lepas tangan. Namun ketika SMA anak-anak dianggap sudah mampu mengurus organisasi. Jadi guru sudah tidak terlalu ngontrol. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masa SMA juga menjadi saksi gigihnya anak-anak belajar untuk bisa masuk perguruan tinggi yang diidam-idamkannya. Masa ini anak-anak sudah mulai mengejar cita dan memikirkan masa depannya. Mau ke mana setelah tamat SMA. Kuliah, masuk tentara atau polisi, ataukah kerja. Sudah terpikir masa depan oleh anak-anak ini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan hanya gigihnya belajar. Masa SMA juga saksi puncak kebandelan seorang anak muda. Kalau anak sudah bandel, orang tua pusing mikirnya. Saking bandelnya, si anak bolak-balik pindah sekolah. Aduh jangan sampai anakku gitu deh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kuliah <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SMA adalah fase akhir remaja, masa akhir ABG. Dan kuliah adalah gerbang pertama kehidupan dewasa seorang manusia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak yang sudah tamat SMA dianggap sudah dewasa. Bisa menetukan hidupnya secara mandiri. Ada yang memilih langsung kerja setalah SMA. Ada yang menjadi taruna. Ada yang pergi merantau. Dan ada yang melanjiutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Di sini kita hanya akan bahas yang melanjutkan ke perguruan tinggi saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masuk ke perguruan tinggi mengharuskan anak-anak memilih konsentrasi keilmuan yang diinginkannya. Ada yang berhasil dengan pilihannya. Ada juga yang berakhir salah jurusan. Masing-masing orang harus bertanggung jawab dengan pilihannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Layaknya orang dewasa. Mahasiswa pun dibebaskan mengambil keputusan. Itu kenapa di jenjang perkuliahan masa studinya tidak harus 3 tahun seperti waktu SMA. Kampus hanya membatasi maksimal seorang harus sudah sarjana. Biasanya 7 tahun atau 14 semester. Dan itulah godaannya. Seberapa mampu manusia menguasai dirinya ketika diberikan kebebasan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebebasan dalam memilih juga membuat si mahasiswa mencoba berbagai macam selama perkuliahan. Organisasi pergerakan dimasukinya, semakin menggeluti hobi di UKM, belajar jadi relawan, sampai jadi pejabat kampus di BEM. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang tertarik dengan keilmuan, bisa jadi asisten dosen atau jadi asisten laboratorium. Mencoba berbagai macam percobaan di laboratorium. Menuntaskan rasa ingin tahu kepada dosennya. Mengikuti berbagai macam lomba, mengejar beasiswa, ikut demo melawan rezim, belajar berorasi. Banyak sekali yang bisa dilakukan di masa perkuliahan. Tidak jarang momen perkuliahan bisa menjadi titik balik banyak orang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang-orang yang dulunya kelihatan bodoh waktu SMA menjelma menjadi cerdas brilian begitu masuk perkuliahan. Yang dulunya gak pernah masuk organisasi sama sekali, sekarang menjadi ketua BEM. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masa perkuliahan adalah masa-masa paling produktif seseorang menghasilkan karya. Sebab kontrol orang tua semakin minim membuat si anak leluasa mengeksplor dirinya. Namun ada juga yang gagal di masa perkuliahan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena tidak ada kontrol diri membuat seseorang terlena dan berakhir dengan kuliah berantakan. Memang tidak ada jaminan yang kuliahnya berantakan akan berantakan juga seluruh kehidupannya, tidak begitu rumusnya dul. Cuman sayang saja kalau kuliahnya sampai berantakan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masa kuliah adalah gerbang awal memasuki kehidupan dewasa dalam hidup manusia. Perlu bijak menjalaninya biar tidak salah arah. Dan jangan sampai menyia-nyiakan masa ini. Karena tidak semua orang bisa diberikan kesempatan mengeksplor dunia di bangku perkuliahan. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebanyakan kita mungkin pasti sudah pernah menjalan masa sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan jika beruntung bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dari semua masa sekolah itu banyak momen terekam dalam ingatan. Dan kita bisa mengasosiasikan gambaran masa-masa sekolah itu. Berikut gambarannya dari sudut pandang pribadiku. TK TK adalah tingkat pendidikan yang paling [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-696","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=696"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":711,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions\/711"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}