{"id":653,"date":"2024-10-09T09:05:43","date_gmt":"2024-10-09T02:05:43","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=653"},"modified":"2024-10-09T09:05:43","modified_gmt":"2024-10-09T02:05:43","slug":"review-islam-otoritarianisme-dan-ketertinggalan-karya-ahmet-t-kuru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=653","title":{"rendered":"Review Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan Karya Ahmet T. Kuru"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e-768x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-665\" style=\"width:401px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e-768x1024.jpg 768w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e-225x300.jpg 225w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e-1024x1365.jpg 1024w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-08-at-19.14.06_5d1cd37e.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah 48 hari, akhirnya tuntas menyelesaikan buku berat ini. Bukan hanya berat secara massa, namun juga berat secara bacaannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika dilihat sepintas, buku ini sepertinya buku sejarah namun ternyata bukan. Buku ini adalah buku politik namun menggunakan tinjauan komparasi sejarah dalam penulisannya. Ditulis oleh seorang dosen yang mengajar di political sciencei San Diego State Unversity. Jika menilik dari namanya, sepertinya beliau seorang muslim berkebangsaan Turki. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti yang saya jelaskan di awal tulisan bahwa buku ini memang terbilang berat dari sisi pembahasan. Daftar pustakanya saja bisa sampai 60 halaman. Berbagai sumber dan data diolah oleh penulisnya untuk melahirkan satu analisis baru yang segar. Penulisnya tidak hanya mengkritik pandangan barat kepada Islam, namun juga mengkritik pandangan dari internal Islam sendiri mengenai ketertinggalan yang dialama oleh mayoritas negara Islam. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena menggunakan pisau analisis sejarah, buku ini menghadirkan begitu banyak fakta sejarah dalam perkembangan politik di dunia Islam dari awal kelahiran sampai hari ini. Dan sangat kompleks memang pembahasannya, sampai-sampai saya juga bingung mau nulis apa terkait reviewnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku ini menjelaskan keterkaitan otoritarianisme dan ketertinggalan yang terjadi di negara-negara mayoritas muslim. Dimulai dengan pemaparan data-data kontemporer dunia Islam saat ini. Faktanya hanya ada 7 dari 56 negara Islam yang menlaksanakan demokrasi elektoral, baik itu negara sekuler ataupun negara yang menjadikan syariah sebagai sumber konstitusinya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kekerasan juga marak terjadi di dunia Islam, di mana perang terjadi 4 kali di negara mayoritas Islam dan 6 kali secara total seluruh dunia. Tingkat melek huruf yang rendah, lama masa sekolah, dan harapan hidup yang juga kalah dari rata-rata dunia. Mengapa itu bisa terjadi? Disinilah kuliah dimulai. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bab selanjutnya mengupas sejarah politik Islam berdasarkan kronologi. Mulai dari lahirnya Islam sampai runtuhnya Kesultanan Turki Usmani. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tesis utama Ahmet adalah menguatnya persekutuan ulama dan negara menyebabkan kemunduruan dunia Islam. Mengapa bisa?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Periode emas Islam dimulai dari dari abad ke 7 sampai abad ke 11. Kemudian terjadi perkembangan setara sampai abad 16. Kemudian Barat meninggalkan Islam sampai dengan hari ini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perioda awal perkambangan Islam ditandai dengan independensinya para borjuis Islam. Di mana para borjuis Islam saat itu didominasi oleh para pedagang. Kelas pedagang menjadi masyarakat kelas elit pada saat itu. Dan ulama belum memulai persekutuannya dengan negara. Bahkan persekutuan kaum agama&#8211;yang diwakili oleh ulama&#8211;dengan negara saat itu justru dipandang sebagai suatu yang tidak pantas. Kondisi itu mengakibatkan ulama banyak di danai oleh para pedagang dalam eksplorasi keilmuannya. Bisa dikatakan kaum ulama pada saat itu adalah pedagang itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena ulama mampu independen dengan penghasilannya sebagai seorang pedagang, menjadikan ulama mampu untuk mengkritisi kekuasaan yang dijalankan oleh pimpinan politik saat itu. Perlu diketahui pimpinan politik saat itu tidaklah berasal dari kalangan agamawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi iklim seperti itu akhirnya melahirkan banyak sarjana-sarjana Islam yang independen. Puncaknya tentu kita kenal sebagai trio Ibnu: Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun. Dan yang menjadi simbol tertingginya adalah Baitul Hikmah yang menjadi simbul megah keilmuan dunia Islam saat itu. Menjadi penanda bahwa ilmu sangat dihargai di dunia Islam saat itu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemegahan keilmuan dunia Islam tidak hanya berasal dari internal umat Islam sendiri melainkan juga hubungannya dengan dunia luar terutama dari dunia filsafat Yunani. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun perlahan terjadi perubahan antara hubungan antara ulama dan negara. Perubahan itu disebabkan adanya invasi dari tentara salib dan bangsa Mongol. Invasi itu menghancurkan banyak pusat-pusat keilmuan umat Islam, termasuk tindakan membakar buku-buku sumber pengetahuan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kejadian ini mengakibatkan sarjana Islam mencari perlindungan kepada negara. Setelahnya dimulailah hubungan mesra antara ulama dan negara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menguatnya persekutuan ulama dan negara akhirnya melahirkan legitimasi mutualisme diantara keduanya. Negara mencari legitimasi kekuasaan dari ulama&#8211;sebagai simbol agama&#8211;dan ulama mendapat posisi yang kuat di negara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya menjamurlah madrasah-madrasah didirikan oleh negara. Ulama dipekerkjakan oleh negara salah satunya melalui madrasah tersebut. Madrasah itu kemudian menjadi sumber doktrin ulama kepada masyarakat luas. Madrasah itu juga pada akhirnya melahirkan suatu epistemologi kaku di kalangan sarjana Islam. Menempatkan ulama sebagai satu posisi yang eksklusif yang berlangsung sampai saat ini. Di mana orang-orang dikatakan ulama jika dia telah lulus menempuh satu tradisi tertentu dalam epistemologi ulama. Epistemologi keilmuan Islam kemudian menjadi kaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak independennya ulama dalam menghasilkan pemikiran berujung mandeknya keilmuan umat Islam. Eksplorasi ilmu perlahan-lahan melambat. Situasi itu diperparah dengan konforntasi antara kelompok ulama dan sarjana Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ahmet mengambil contoh kritik yang dilakukan Imam Al Ghazali yang ditujukan kepada kaum filsafat yang dimotori Ibnu Rusyd dan Al Farabi saat itu. Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) Al Ghazali secara terang-terangan mengkritik kaum filsafat, menganggap mereka kelompok sesat dan kafir. Buku ini kemudian menjadi viral di kalangan umat Islam saat itu sebab nama Al Ghazali sendiri memang lagi naik daun. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibnu Rusyd bukannya tanpa perlawanan. Ibnu Rusyd pun juga membuat buku yang berjudul Tahafut at-Tahafut yang isinya mengkritik balik karya Al Ghazali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di abad ke-11 dunia keilmuan Islam berjalan melambat dan di sisi lain dunia barat mengejar ketertinggalannnya. Barat mengalami masa pencerahan ditandai dengan melemahnya ikatan antara gereja dan negara. Di masa ini gairah Barat terhadap ilmu pengetahuan dan seni membuncah. Melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang hari ini masih kita pelajari di bangku-bangku sekolah. Tentu kita mengenal ilmuwan barat semisal Galileo, Kepler, dan Newton.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan juga berdampak kepada ekonomi. Barat memasuki masa Revolusi Industri. Menghasilkan banyak mesin yang menggantikan kerja manusia. Dan tentu efisiensi dan produktivitas industrinya juga meningkat. Dan jangan lupakan dosa Barat paling besar juga turut andil memajukan ekonomi Barat: kolonialisme. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kolonialisme turut mengangkat ekonomi barat. Penjelajahan dan penemuan dunia baru semakin menggairahkan ekonomi barat. Seketika Barat menjadi kaya. Di sisi lain tidak ada kemajuan berarti dialami dunia Islam. Negara-negara Islam pada saat itu sangat fokus di bidang militer. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai akhirnya sama-sama kita sudah tahu, runtuhnya Turki Usmani pada tahun 1924 menutup perjalanan panjang kekuatan Islam politik di dunia. Dan hari ini Barat mengusai dunia dan meninggalkan Islam di belakang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*****<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak fakta sejarah yang disajikan di buku ini. Sebagian besar fakta itu bahkan saya sendiri tidak prnah tahu. Dan penulis mampu merajut rapi fakta sejarah itu dipadu dengan analisis berbobot. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku ini menjadi semacam tantangan kepada kelompok ulama dan Islam politik hari ini. Akan jadi semakin seru jika ada kelompok ulama dan Islam politik membahas buku ini atau juga membuat sebuah buku juga yang membalas kritikan yang ada di buku ini. Dengan itu proses dialektika terjadi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku ini wajib menjadi bacaan bagi kelompok Islam politik. Dengan mengambil tinjaun sejarah kita bisa tahu bagaimana semua ini bermula. Ketika kita tahu bagaimana bermula, kita jadi punya semacam kompas untuk membantu navisagasi perjalanan menuju masa depan yang dicita-citakan alih-alih larut dalam dongeng kejayaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah 48 hari, akhirnya tuntas menyelesaikan buku berat ini. Bukan hanya berat secara massa, namun juga berat secara bacaannya. Jika dilihat sepintas, buku ini sepertinya buku sejarah namun ternyata bukan. Buku ini adalah buku politik namun menggunakan tinjauan komparasi sejarah dalam penulisannya. Ditulis oleh seorang dosen yang mengajar di political sciencei San Diego State Unversity. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-653","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=653"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/653\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":667,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/653\/revisions\/667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}