{"id":579,"date":"2024-09-13T19:42:47","date_gmt":"2024-09-13T12:42:47","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=579"},"modified":"2024-09-13T19:42:47","modified_gmt":"2024-09-13T12:42:47","slug":"menjadi-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=579","title":{"rendered":"Menjadi Tua"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjadi tua adalah suratan takdir. Tidak perlu di jemput akan datang dengan sendirinya seiring waktu yang terus berjalan maju ke depan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keriput, tubuh ringkih, dan kesepian selalu menemani Pak Tua. Sesuatu yang tak pernah Pak Tua pikirkan waktu Pak Tua masih muda. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika sudah tua pikiran melayang kemana-mana. Menebak-nebak masa depan dan merenungi masa lalu.  Ada kebanggan di masa lalu waktu Pak Tua masih jaya. Tidak sedikit juga ada penyesalan terbersit. Ingin mengulangi masa lalu namun apa daya hidup bukanlah sebuah karya fiksi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Pak Tua melihat raga dan kulitnya. Ingatlah dia dulu bahwa inilah raga paling kuat seantero raya. Kuat menampung beban hidup, menjadi tulang punggung keluarga, kecintaan istri, dan kebanggan anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahwa inilah raga yang begitu kencang berlari. Begitu kuat mengangkat beban. Otot-otonya begitu aduhai. Hampir saja ikut kontes binaraga, namun apa daya telat ambil formulir. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini sudah terlambat. Pak Tua tidak mungkin lagi ikut kontes binaraga. Bukan soal tampang tua dan tahun lahirnya yang sudah jauh tertinggal. Tapi otot Pak Tua sudah tidak kayak dulu lagi. Otot Pak Tua sudah kempis. Malulah sama yang muda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesepian adalah teman setia Pak Tua. Selalu membersamainya ke mana pun Pak Tua melangkah. Masuk kamar mandi pun kesepian selalu menemani&#8211;memangnya mau mandi bareng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu berjalan maju. Umur tak bisa ditahan. Bertambah dan terus bertambah. Dulu masih kepala satu. Kemudian berganti jadi dua, tiga, empat&#8230; tak terasa Pak Tua sekarang kepala 6. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua kepala 6 semakin sepi. Kabar kematian datang silih berganti bagaikan adzan maghrib di negeri 1001 masjid, saling sahut-sahutan. Belum selesai berkabung atas kematian teman SMP-nya, Iwan. Baru saja HPnya berdering memberi kabar maut yang baru. Kali ini Rudi, teman kuliahnya baru saja pergi menghadap kepada yang maha kekal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua menjadi begitu akrab dengan kabar kematian. Sampai Pak Tua berpikir &#8220;giliranku mati kapan ya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua kadang juga membayangkan. Bagaimana rasanya kalau kabar maut itu datangnya dari dia sendiri. Bagaimana kira-kira perasaan temannya? Bagaimana perasaan keluarganya, anaknya, cucunya, menantunya, dan orang-orang terdekatnya? Adakah air mata berlinang mengiringi kepergiannya? Berapa lama keluarganya akan berkabung? Sedihkah mereka kutinggalkan? Atau justru mereka senang? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aah tidak tau lah. Pak Tua makin overthingking.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini Pak Tua semakin religius, semakin dekat dengan Illahi. Sebab Pak Tua tahu tidak ada manusia yang abadi. Berapa usia maksimal manusia hidup? Berbilang. Itu berarti tidak ada yang kekal. Semua akan meninggalkan dunia yang kejam ini. Pak Tua pun begitu. Pak Tua akan mati, itu pasti. Namun kapan masih menjadi misteri.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua sendiri di rumah. Rumah yang dulu ramai suara kehobohan anak-anaknya kini hanya terdengar suara pompa air yang bunyi sekali-sekali. TV? Pak Tua sudah bosan nonton TV. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anaknya telah pergi semua. Ada yang pergi dan tak akan kembali lagi. Satu anaknya telah mati, pergi mendahuluinya, anak keduanya. Anaknya kini ada empat. Sudah besar semua dan juga sudah berkeluarga. Pak Tua punya 9 cucu. Masing-masing 3 dari 3 anaknya. Anak terakhirnya baru saja menikah sebulan yang lalu. Kini bungsunya tinggal di negeri kincir angin, tinggal bersama suaminya yang bekerja di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Anakakku bukan anakku. Anakku adalah manusia merdeka.&#8221; Pak Tua makin tertampar dengan pepatah bijak itu. Dia memang anakku, namun anakku adalah manusia merdeka. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua tahu dengan jelas keinginan dan cita-cita anaknya. Anaknya ingin pergi ke luar negeri. Entah akan melanjutkan kuliah ataukah sekedar pergi saja melancong. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berat buatnya melepas anaknya, tapi dia sadar akan kalimat itu &#8220;anakku bukan anakku. Anakku adalah manusia merdeka,&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia belajar meresapi kalimat itu. Dia tahu bahwa manusia akan diuji dengan ucapannya. Hari inilah ujian itu. Dan semakin berat sebab anak bungsunya adalah anak yang paling lama menamaninya, paling lama bersamanya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia akan menghadapi ujian itu. Dia akan menerimanya. Entah apa hasilnya hari esok dia akan menghadapinya hari ini. Dia siap akan segala resikonya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan akhirnya Pak Tua tinggal sendiri di rumah. Melakukan semua pekerjaan rumahnya sendiri. Memang tidak begitu berat. Dia punya mesin cuci canggih. Mencuci bukanlah pekerjaan berat, kecuali menjemur pakaian. Punggungnya mulai keok kalau membawa cucian terlalu berat. Tapi itu tidak jadi masalah. Sebabnya Pak Tua orangnya rajin. Sekali atau dua hari sekali Pak Tua mencuci pakaian. Jadi cuciannya tidka mungki berat-berat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua juga pandai memasak. Itu berarti logistik bukan menjadi masalah. Pak Tua selalu hampir tiap hari memasak. Bukan hanya untuk bertahan hidup. Pak Tua juga memasak untuk mengusir kesepian. Tidak ada kesepian bagi orang yang selalu penuh aktivitas. Pak Tua memegang teguh perkataan dari rimba raya itu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu kenapa Pak Tua masih segar bugar walaupun usia sudah semakin senja dan raga sudah semakin ringkih. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ringkih bukan kata yang tepat untuk Pak Tua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua memang tua&#8211;namanya saja Pak Tua. Tapi dia tidak ringkih kawan. Salah besar kalau kau mengira Pak Tua jalannya sudah lambat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jalan Pak Tua masih cepat. Pak Tua juga bisa berlari, berenang, berkuda, naik motoran jauh, bahkan triatlon pun Pak Tua bisa kalau Pak Tua mau. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fisik Pak Tua masih tangguh untuk ukuran orang seusianya. Di masa muda Pak Tua sangat senang berolahraga. Di masa tuanya pun Pak Tua masih rajin berolahraga, intensitasnya saja yang berbeda&#8211;usia tidak bisa bohong. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini Pak Tua memanen buah yang dia tanam sejak lama. Kebiasaanya berolahraga di masa muda memberikan fisik yang sehat dan tangguh bagi Pak Tua di masa tua. Itulah salah satu keputusan masa lalu Pak Tua yang tidak pernah dia sesali. Bahkan menjadi kebanggaannya hari ini jika dia bercerita kemana-mana. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap anak muda yang bertemunya selalu kagum dengan fisik kuat di raga tuanya. Dan Pak Tau selalu senang berbagi cerita kenapa fisiknya bisa kuat padahal tulang sudah tua. Pak Tua memang senang cerita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain fisik yang kuat, finansial Pak Tua juga tidak kalah kuat. Pak Tua adalah salah satu orang yang masuk dalam kategori sandwich generation&#8211;khas generasi di masanya. Waktu masih muda dan Pak Tua sudah berpenghasilan dan hidup mandiri. Pak mau tidak mau karena keadaan memaksa. Pak Tua harus membantu membiayai sekolah adiknya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua bisa paham. Walaupun berat Pak Tua akhirnya menyisahkan sebagian penghasilannya untuk biaya sekolah adiknya. Hingga akhirnya mengorbankan Pak Tua sendiri. Pak Tua&#8211;katanya&#8211;terlambat menikah. Pak Tua menikah di usia 37 tahun. Setelah semua adik-adiknya mandiri baru Pak Tua memutuskan menikah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua tahu bagaimana susahnya hidup menjadi sandwich generation. Itu yang tidak ingin dia wariskan kepada anaknya. Maka dari muda, pembagian penghasilan Pak Tua sudah jelas: biaya hidup Pak Tua sendiri, investasi, tabungan, dan untuk keluarga (biaya sekolah saudara dan untuk orang tuanya). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syukurlah penghasilan Pak Tua cukup untuk dibagi ke tiap pos itu. Walau itu berarti Pak Tua juga harus mencari penghasilan tambahan selain kerjaan utamanya sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua dikerjakan Pak Tua. Mulai dari makelaran jasa, jualan makanan, usaha warkop, reparasi elektronik, buka warung, toko buku kecil-kecilan, hampir semua dikerjakan Pak Tua selama itu halal dan thoyyib.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peningkatan penghasilan Pak Tua tidak membuat Pak Tua besar kepala dan menjadi sombong. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua masih Pak Tua yang dulu. Walaupun penghasilannya bertambah gaya hidupnya tetap saja seperti sederhana. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">HP nya ganti hanya ketika HP nya betul-betul sudah rusak dan layak ganti. Walaupun teknologi baru bermunculan HP Pak Tua masih itu-itu saja. Ketika sudah rusak baru Pak Tua ganti. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gantinya pun yang biasa-biasa saja. Pak Tua membeli perangkat sesuai dengan kebutuhannya, bukan keinginannya. Karena Pak Tua sadar kebutuhan itu terbatasa tapi keinginan tanpa batas. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal Pak Tua sendiri melek teknologi loh. Pak Tua selalu mengikuti perkembangan teknologi. Makanya Pak Tua bisa reparasi elektronik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun Pak Tua lebih tahu kebutuhan dirinya sendiri. Dan dia lebih memilih mengikuti kebutuhannya saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini Pak Tua memanen lagi apa yang ditanamnya di masa muda. Investasi, kebiasaan menabung, gaya hidup, dan sikap tidak serakahnya di masa muda membawanya menjadi orang yang merdeka finansial di masa tua. Sesuatu yang didamba-dambakan generasinya hari ini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua tidak kaya&#8211;tergantung definisi kekayaanmu seperti apa&#8211;tidak juga miskin. Pak Tua kini hanya punya 1 rumah, 1 mobil, 1 motor, dan sepetak kebun untuk dia bercocok tanam. Dan dia tidak bergantung kepada anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua investor handal. Pak Tua tidak punya uang pensiunan kayak PNS atau karyawan BUMN&#8211;siapa juga yang butuh itu . <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian besar investasi Pak Tua adalah saham. Dan sekarang Pak Tua hidup dari passive income investasinya itu. Terutama dari deviden saham.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">40 tahun Pak Tua investasi. Mulai saham, reksadana, deposito, emas, dan properti. Bayangkan besarnya passive income yang didapatkan Pak Tua dari investasi saham yang dia lakukan selama 40 tahun. Dari deviden saja sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya selama setahun. Bahkan sebagiannya masih bisa dia sisihkan untuk diputar kembali di saham-saham yang menarik. Untuk keinginan, tinggal dia ambil saja dari investasi yang lain. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah yang dinamakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjuangan dan kerja keras Pak Tua di masa muda terbayar di masa tua. Di hari tuanya, tanpa kerja pun Pak Tua bisa mencukupi kehidupannya tanpa membebani anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun Pak Tua tidak bisa tidak bekerja. Pak Tua harus bekerja. Entah apa yang harus dikerjakan. Entah menghasilkan atau tidak. Yang jelas Pak Tua harus bekerja. Itu motto hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan bekerja Pak Tua masih bisa hidup waras. Sebab tanpa kerja, tanpa memiliki kesibukan apa-apa. Pikun tambah menjadi-jadi. Dan yang lebih parah pikiran justru menjadi stres. Dan stres adalah sumber segala penyakit badan. Penyakit justru lebih mudah datang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu yang Pak Tua rasakan ketika awal-awal menjalani masa pensiun. Dan akhirnya Pak Tua sadar, walaupun sudah pensiun, bekerja tetap harus dilakukan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bekerja tidaklah mesti menghasilkan materi. Jika menghasilkan materi, syukur. Yang terpenting adalah Pak Tua harus bekerja. Dengan bekerja, pikiran dan badannya menjadi aktif dan stres hilang. Bekerja juga bisa mengusir kesepian&#8211;paling tidak untuk sementara waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan Pak Tua pun melakukan semua pekerjaan yang bisa dia kerjakan di usia tuanya. Utamanya pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di kebun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua sendiri mengelola kebunnya dibantu dengan 2 orang pekerjanya. Di kebun Pak Tua menananm buah dan sayur. Mencari bibit, nandur, merawat, memupuk, panen, transportasi, sampai penjualan dilakukan Pak Tua bersama 2 orang pekerjanya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pekerjaan di kebun cukup menyita waktunya. Kalau ada waktu kosong kadang juga Pak Tua menerima perbaikan elektronik tetangganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Segala usaha dilakukannya. Namun Pak Tua tetaplah Pak Tua pada umumnya. Kesepian adalah teman setia. Kesepian seperti telah merasuk kedalam jiwa dan raganya. Menyatu dengan dirinya. Kesepian adalah dirinya sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia tidak bisa melepas kesepian dari dirinya. Dia tidak pernah lepas dari kesepian. Kesepian adalah bayangannya sendiri. Mau kemana pun dia pergi. Kesepian selalu menyertai. Siang ataupun malam. Gelap atau terang kesepian selalu menyertai. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kadang dia menangis bersama kesepian. Kadang dia juga tertawa. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesepian menemaninya berkontemplasi. Merenungi seluruh perjalanan hidupnya dari sejak dia mulai bisa mengingat sampai hari ini. Dia tahu pasti, ada kesalahan yang dilakukannya di masa lalu&#8211;siapa sih yang tidak punya kesalahan. Dia menyesali kesealahannya itu dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa depan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentang kebaikannya di masa lalu, dia hanya berharap kebaikannya itu tidak membuat dirinya menjadi sombong dan tetap membumi. Dia tidak mengharap apa-apa dari kebaikannya itu. Dia melakukan kebaikan karena merasa memang itu yang perlu dia lakukan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak semuanya bersih dan tulus dari hati, kadang-kadang juga ada ada udang di balik batu&#8211;aah kita juga memiliki sifat munafik kan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua mengutuk dirinya atas kemunafikanya sambari mengucap istigfar. Pak Tua tidak ingin munafik lagi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesepian yang menemani tidak jarang juga mengyusutkan semangat hidupnya. Ada kalanya Pak Tua tidak semangat dengan kehidupannya saat ini. Saking seringnya mendengar kabar maut, Pak Tua berandai-andai bagaimana kalau dirinya yang mati. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana reaksi anak dan cucunya? Bagaimana perasaan orang-orang yang mengenalnya? Akankah ada kesedihan? Berapa lama kesedihan itu berlangsung? Seminggu kah? Sudah itu apa? Rebutan warisan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Tua overthinking. Ah sudahlah. &#8220;bagianku cukup sampai sini saja&#8221; apa yang terjadi, terjadilah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malam ini Pak Tua tidur memeluk kesepian dengan hati kalut dan senyum yang tersimpul. Jiwanya damai.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"452\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Pak-Tua-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-587\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Pak-Tua-1.jpg 640w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Pak-Tua-1-300x212.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi tua adalah suratan takdir. Tidak perlu di jemput akan datang dengan sendirinya seiring waktu yang terus berjalan maju ke depan. Keriput, tubuh ringkih, dan kesepian selalu menemani Pak Tua. Sesuatu yang tak pernah Pak Tua pikirkan waktu Pak Tua masih muda. Ketika sudah tua pikiran melayang kemana-mana. Menebak-nebak masa depan dan merenungi masa lalu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-579","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=579"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":588,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/579\/revisions\/588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=579"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=579"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=579"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}