{"id":547,"date":"2024-09-06T14:32:33","date_gmt":"2024-09-06T07:32:33","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=547"},"modified":"2024-09-14T16:47:05","modified_gmt":"2024-09-14T09:47:05","slug":"timnasku-oh-timnasku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=547","title":{"rendered":"Timnasku, Oh Timnasku"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Entah harus senang atau sedih setelah pertandingan Arab Saudi VS Indonesia tadi malam. Seharusnya saya senang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang sejak dilatih STY permainan Indonesia melonjak drastis. Game play mulai jelas. Passing oke. Visi bermain mulai jelas. Dan yang paling terpenting menurutku adalah stamina pemain mulai meningkat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum-sebelumnya, permainan Timnas Indonesia cukup gahar di menit-menit awal sampai pertengahan. Namun pas sudah masuk menit akhir terlihat sangat jelas stamina pemain Indonesia mulai terkuras habis. Sudah tidak bisa lari lagi. Kalang kabut dengan bola-bola lawan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Datanglah STY. Dan jangan lupa Erick Thohir menjabat ketum PSSI. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di bawah kendali dua orang ini&#8211;jangan lupa dengan Iwan Bule juga dong. Tidak bisa disangkal, permainan Timnas Indonesia mulai membaik. Selaras dengan kemenangan-kemenangan yang diraih oleh Timnas Indonesia&#8211;walaupun belum ada gelar juara yang diraih oleh Timnas Senior. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil-hasil positif yang didapatkan di lapangan juga menular ke luar lapangan. Euforia dan rasa percaya diri dirasakan begitu kuat oleh suporter timnas. Baik yang tua maupun yang muda. Anak kecil sampai orang dewasa, semua percaya bahwa inilah generasi timnas yang ditunggu-tunggu. Generasi inilah yang membawa garuda terbang tinggi diantara bintan-bintang di langit. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peringkat FIFA timnas pun meroket. Dari 175 sebelum STY datang, kini sudah di angka 133. Melonjak 42 peringkat. Luar biasa!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun sejujurnya ada perasaan berjarak antara kemenangan itu dengan diriku. Anggap saja ini unpopular opinion. Opini oposisi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Faktanya, timnas Indonesia memainkan 9 pemain naturalisasi dalam starting line up. Menyisakan 2 pemain saja yang non naturalisasi, Witan Sulaeman dan Rizky Ridho.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di bawah komando Erick Thohir, PSSI memang gencar melakukan naturalisasi pemain. Teranyar adalah Maarten Paes, yang baru saja melakukan debutnya pada pertandingan melawan Arab Saudi barusan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terbukti dengan 9 pemain naturalisasi di starting line up, Indonesia mampu menahan imbang Arab Saudi yang notabenenya sudah pemain rutin di gelaran Piala Dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang belum bisa menang. Namun imbang bukan hasil yang pantas untuk diremehkan. Apalagi melawan tim sekelas Arab Saudi. Tim yang berhasil mengalahkan Argentina, sang juara dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi naturalisasi bisa dibaca sebagai strategi jangka pendek PSSI untuk meraih prestasi. Timnas senior memang sudah lama tidak meraih gelar juara dalam kompetisi yang di bawah naungan FIFA. Bahkan untuk sekelas Piala AFF yang cakupannya ASEAN saja timnas senior belum pernah sekalipun memenangkannya. Paling mentok 6 kali runner up. Apalagi Piala Asia, apalagi Piala Dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pribadi tidak menyalahkan program naturalisasi. Selama itu legal tentu tidak ada yang salah. Semua sah-sah saja kalau itu legal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun jujur ada perasaan berjarak ketika melihat pemain-pemain Indonesia menggunakan bahasa Belanda atau Inggris dalam interaksinya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya bisa paham kalau mereka memang belum fasih berbahasa Indonesia dan saya yakin mereka pun sedang dalam proses belajar bahasa Indonesia. Dan memang ini adalah sebuah konsekuensi dari kebijakan yang diambil PSSI. Inilah resikonya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun tidak salah juga kalau ada perasaan berjarak dengan pemain-pemain naturalisasi itu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang mereka sudah sah menjadi WNI. Namun fakta bahwa mereka menjadi WNI karena ada proses yang &#8220;dipaksakan&#8221;. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari berandai-andai. Bayangkan itu dirimu. Jika saja mereka dipanggil oleh negara tempat mereka lahir&#8211;kebanyakan lahirnya di Belanda. Kira-kira mereka masih mau di naturalisasi sama Indonesia tidak? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Andaikan itu saya. Kemungkinan besar saya tidak akan mau dinaturalisasi. Toh Timnas Belanda lebih top dibanding Timnas Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maafkan saya kalau mungkin ini terdengar merendahkan. Tapi cobalah jujur kepada diri sendiri. Memang faktanya seperti itu. Itulah sebabnya kenapa program naturalisasi ini hanyalah program instan dari PSSI untuk meraih prestasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Publik Indonesia puasa cukup lama dengan sepakbola Indonesia. Dahaganya sudah bertahun-tahun. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bertahun-tahun kita menunggu gairah sepakbola timnas. Seluruh pemain dari Sabang sampai Merauke sudah didatangkan. Namun toh belum ada prestasi apa-apa yang kita dapatkan. Ajang sekaliber ASEAN saja kita belum pernah juara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malah lebih buruk. Dalam kurun waktu itu kita malah lebih akrab dengan targedi. Dualisme kepengurusan, batal jadi tuan rumah Piala Dunia U20, bahkan yang lebih parah adalah tragedi kanjuruhan. Tragedi yang menewaskan 131 orang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sepakbola nasional benar-benar dalam keterpurukan. Seperti tidak ada lagi harapan yang ditautkan kepada sepakbola kita.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai akhirnya kita dapatkan jurus baru untuk menggairahkan kembali sepakbola Indonesia: naturalisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terbukti program naturalisasi membawa gairah baru sepakbola Indonesia. Kita kembali semangat membahas sepakbola. Apalagi kalau timnas main. Ajang nobar menjamur di warkop-warkop. Padahal zaman dulu, mana ada yang mau nonton timnas rame-rame kalau cuman ajang kualifikasi. Sekarang biar sekedar uji coba, acara nobar sudah banyak berserakan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gairah dalam lapangan pun juga sama. Secara teknis permainan timnas membaik. Aliran bola, startegi bermain, passing, dan stamina semua meningkat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu semua terbantu berkat pemain-pemain naturalisasi yang semuanya bermain di Eropa. Benua yang terkenal karena konstruksi sepakbolanya yang sudah solid. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau mau berkembang memang harus melihat contoh dari yang terbaik. Dalam hal ini adalah sepakbola Eropa. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemain non naturalisasi pun harus memanfaatkan kesempatan ini untuk berlajar dan berguru kepada pemain-pemain naturalisasi tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun PSSI harus ingat bahwa naturalisasi ini hanyalah program instan. Sebagaimana hal-hal instan. Instan datangnya, perginya pun instan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PSSI tidak bisa terus-terusan mengandalkan strategi ini sampai kemudian lupa permasalahan sesungguhnya kenapa sepakbola Indonesia tidak kunjung meraih prestasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permasalahan sesungguhnya sepakbola Indonesia adalah persoalan internal. Kualitas liga yang buruk, pengelolaan klub yang tidak profesional, pembinaan pemain muda, kericuhan suporter, dan yang paling memuakkan adalah sepakbola dijadikan propaganda politik oleh segelintir elit-elit politik, dll. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu semua yang merusak sepakbola Indonesia. Hampir semua adalah persoalan internal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka kalau PSSI memang berniat membangkitkan sepakbola Indonesia. Semua masalah tersebut haruslah segera diatasi. Tanpa mengatasi semua masalah itu dan terus menerus mengandalkan jurus naturalisasi. Selama itu pula kita akan menikmati kemenangan semu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa-bisa semua pemain timnas nantinya pemain naturalisasi semua. Dari pemain inti sampai cadangan semua muka bule. Bahasa pergaulan yang dipakai bahasa Belanda atau bahasa Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan jangan lupa sampai saat ini jurus naturalisasi belum meraih hasil apa-apa. Untuk juara Piala AFF saja jurus naturalisasi belum mampu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita hanya terus-terusan mabuk menikmati euforia meningkatnya peringkat FIFA timnas. Tanpa ada timbal balik berupa gelar juara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau hanya sekedar jago-jagoan meningkatnya peringkat FIFA, skuad generasi emas Belgia jelas lebih jago. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun coba tanyakan kepada De Bruyne, Lukaku, Hazard, Courtois, dan teman-temannya, bagaimana rasanya berada di puncak peringkat FIFA selama empat tahun tanpa mendapatkan gelar juara walaupun sebiji? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bodoh&#8221; kata De Bruyne. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Entah harus senang atau sedih setelah pertandingan Arab Saudi VS Indonesia tadi malam. Seharusnya saya senang. Memang sejak dilatih STY permainan Indonesia melonjak drastis. Game play mulai jelas. Passing oke. Visi bermain mulai jelas. Dan yang paling terpenting menurutku adalah stamina pemain mulai meningkat. Sebelum-sebelumnya, permainan Timnas Indonesia cukup gahar di menit-menit awal sampai pertengahan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-547","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/547","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=547"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/547\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":553,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/547\/revisions\/553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=547"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=547"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=547"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}