{"id":452,"date":"2024-07-12T14:59:00","date_gmt":"2024-07-12T07:59:00","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=452"},"modified":"2024-07-12T14:59:00","modified_gmt":"2024-07-12T07:59:00","slug":"kebutuhan-dan-keinginan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=452","title":{"rendered":"Kebutuhan dan Keinginan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya sudah jelas. Kebutuhan adalah butuh. Artinya hal-hal yang kau butuhkan untuk bertahan hidup dengan layak. Sedangkan keinginan adalah ingin. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan sifatnya terbatas. Sepanjang itu menyangkut hajat hidupmu, ya itulah kebutuhan. Artinya segala sesuatu yang menyangkut eksistensi hidupmu. Misal makan. Jika tidak makan dalam jangka waktu tertentu bisa mati kelaparan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh lain pakaian. Malu dong jika keluar rumah gak pakai pakaian sama sekali. Rumah juga begitu. Namanya manusia pasti butuh hunian untuk tempat dia tinggal bersama keluarganya. Tidak perlu mewah banget. Rumah sederhana pun cukup. Asal dia bisa terlindung dari panas dan hujan, tidur lelap, merasa aman. Maka kebutuhannya akan sebuah tempat tercukupi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu kebutuhan primer. Kebutuhan yang lain masih banyak lagi. Kendaraan untuk bepergian, HP untuk komunikasi, laptop untuk kerja, sapu untuk bersihkan rumah, dkk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai kebutuhan tidak terletak pada barangnya. Melainkan manfaat yang diberikan dari sebuah barang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak harus motor harley davidson untuk bepergian, Supra Fit saja cukup. Tidak perlu iPhone untuk komunikasi, Xiami pun cukup. Tidak perlu pakaian mahal untuk pergi kerja, kemeja ratusan ribu pun cukup. Rumah tidak harus beli, kontrakan pun tidak apa-apa asal layak untuk dijadikan tempat tinggal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena nilai kebutuhan melekat pada asas manfaat, maka harga atas sebuah kebutuhan relatif tidak mahal. Asal manfaatnya tercapai, maka kebutuhan terpenuhi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mudah saja untuk mengetahui sesuatu itu masuk dalam kategori kebutuhan atau tidak: jika tanpa sesuatu itu hidupmu susah, maka itulah kebutuhan. Kebutuhan bersifat tetap dan rigid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lain halnya dengan keinginan. Keinginan lahirnya dari dalam diri manusia. Dan cenderung melekat pada barangnya, bukan pada manfaat. Jika kebutuhan bersifat tetap, maka keinginan bersifat bebas tak terbatas. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan komunikasi bisa dipenuhi cukup dengan HP yang mungkin harganya murah saja. Namun keinginan manusia tekait perangkat komunikasi bisa beragam macamnya. Ada yang senang iPhone, Samsung, Xiaomi, Huawei. Speksifikasinya pun macam-macam, RAM, layar, prosessor, dan masih banyak lagi. Yang semua itu berasal dari keinginan dalam diri manusia. Sebuah keinginan yang tak terbatas. Punya istri satu, mau dua. Sudah punya dua, mau tiga. Maunya nambah terus.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang begitu sunnatullahnya keinginan. Kalau mau terus-terusan nurutin keinginan bisa habis sendiri. Karena ya itu sifatnya yang tidak terbatas. Kalau sumber dayamu tidak terbatas, tidak jadi masalah. Tapi kalau cuman ngandelin gaji karyawan kasta sudra sebagai pemasukan. Habis sendiri kalau mau nurutin keinginan terus. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang salah kalau punya keinginan? Bukankah keinginan bisa memacu kita menjadi lebih semangat dalam bekerja? Tidak salah memiliki keinginan. Tidak salah juga jika kita berhasil mewujudkan keinginan&#8211;asal dengan cara yang benar loh. Semua sah-sah saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun sampai kapan anda mau terus-terusan disetir oleh keinginan? Keinginan jika tidak dikendalikan malah bisa merusak jadinya. Katakanlah anda sudah berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkan keinginan untuk beli iPhone 15 Pro Max baru. Apa daya uang yang terkumpul belum seberapa. Padahal keinginan menggenggam iPhone 15 Pro Max sudah di ubun-ubun. Sudah kebelet banget. Akhirnya diambillah jalan pintas: pinjol. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berhasil dapat dana dari pinjol, dibelilah si iPhone yang cantik jelita. Dipandangnya tiap malam. Di lap-lap terus takut kegores. Persis kayak orang jatuh cinta, di mabuk kepayang. Melayang-layang sampai ke langit ke tujuh. Sampai akhirnya sadar. Disadarkan oleh rentenir gara-gara utangnya yang gak dibayar. Haduuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu salah satu contoh saja. Diluar masih banyak contoh-contoh yang lain. Tetanggamu sendiri mungkin salah satu pelakunya. Atau mungkin kamu sendiri? Atau jangan-jangan saya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keinginan memang perlu dibatasi teman-teman. Masa sih tiap hari mau ngikutin maunya keinginan terus. Jadi budak hawa nafsu kan jadinya. Hidup terbuang percuma. Sampai lupa banyak hal-hal bermanfaat yang bisa dilakukan jika sejenak meredam keinginan. Ketimbang beli iPhone 15 Pro Max baru, beli saja Samsung A55 baru. Selisihnya masih banyak. Bisa dibuat usaha atau sedekah ke saya juga bisa. Huehuehue..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan membatasi keinginan berarti juga membatasi gengsi. Benar keinginan selalu seirama dengan tingkat gengsi. Semakin tinggi gengsi, semakin tinggi pula keinginan. Semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan untuk penuhin gengsi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gengsi itu datangnya dari luar. Selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, naiklah gengsi. Di tengah zaman yang semakin canggih, gengsi juga ikutan canggih. Anak pake iPhone, ortunya pake android. Padahal yang berpenghasilan adalah bapaknya. Akhirnya habis duit bapaknya karena beli iPhone. Karena sudah tidak punya duti, jadi anaknya dikasih makan iPhone. Huuh..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*****<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya rasa hampir semua orang sudah tahu perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Secara teori begitu. Namun dalam praktiknya banyak orang yang lossdol alias kebablasan jika sudah berkaitan dengan keinginan terutama dalam masalah keuangan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak perlu jauh-jauh, saya salah satu pelakunya. Saya pun kadang kalap. Lupa yang mana kebutuhan, yang mana keinginan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi itu tidak bisa dijadikan pembenaran. Evaluasi harus terus dilakukan berulang-ulang. Batin harus terus disadarkan. Tidak apa-apa kalau kebablasan sekali-sekali. Keseringan pun juga tidak apa-apa, asal uangmu juga tak terbatas. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya sudah jelas. Kebutuhan adalah butuh. Artinya hal-hal yang kau butuhkan untuk bertahan hidup dengan layak. Sedangkan keinginan adalah ingin. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali. Kebutuhan sifatnya terbatas. Sepanjang itu menyangkut hajat hidupmu, ya itulah kebutuhan. Artinya segala sesuatu yang menyangkut eksistensi hidupmu. Misal makan. Jika tidak makan dalam jangka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-452","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/452","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=452"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/452\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":453,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/452\/revisions\/453"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=452"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=452"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=452"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}