{"id":353,"date":"2024-06-13T22:31:22","date_gmt":"2024-06-13T15:31:22","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=353"},"modified":"2024-06-13T22:31:22","modified_gmt":"2024-06-13T15:31:22","slug":"seni-hidup-lambat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=353","title":{"rendered":"Seni Hidup Lambat"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di zaman modern seperti sekarang ini, kecepatan menjadi simbol superioritas. Sebab semuanya dilihat berdasarkan tolak ukur kecepatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kantor pemerintahan yang berbasis layanan, standar pelayanannya berdasarkan waktu. Ngurus dokumen ini itu semua sudah dipampang jelas berapa lama waktu pelayanannya. Semakin cepat tentu lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Swasta apalagi. Bagi swasta, kecepatan adalah salah satu aspek terpenting mengukur performance sistem ataupun personil. Semakin cepat sistem menyelesaikan tugasnya, semakin banyak pula produktifitas yang dihasilkan. Ujung-ujungnya pendapatan perusahaan meningkat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengukur performance karyawan pun bisa dilakukan dengan melihat seberapa cepat si karyawan menyelesaikan tugas yang diberikan. Semakin cepat tentu semakin baik. Menjadi nilai plus di mata atasan. Syukur-syukur kalau ada insentifnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masyarakat umum pun juga terlihat gejala yang sama. Ditunjang kecanggihan zaman, informasi lalu-lalang sebegitu cepatnya. Jika dulu hanya menggunakan media surat atau merpati pos, butuh waktu lama untuk menyampaikan berita dari ujung barat ke ujung timur dunia. Hari ini, sekali kirim berita di ujung barat, seketika berita tersebut sudah sampai di ujung timur. Dengan catatan si timur gak matikan paketan data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesemuanya itu kemudian membuat nilai-nilai sosial baru di masyarakat: yang cepatlah yang terbaik. Yang cepat lebih superior.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syukur kalau parameter kecepatan bukanlah satu-satunya yang menjadi tolak ukur. Sebab apa artinya cepat kalau ternyata salah semua. Apa artinya cepat kalau ternyata banyak gak telitinya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, biar bagaimanapun, tetap saja memang zamannya kecepatan saat ini. Kecepatan adalah nyawa dunia saat ini. Itu sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi yang makin hari makin cepat, kayak whoosh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah kemudian muncul. Karena tidak semua orang bisa ataupun senang mengikuti ritme kecepatan. Ada yang memang tertinggal dan ada juga yang ngikuti tapi tidak senang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu bergerak maju, tidak berhenti walau sedetik pun apalagi mundur. Di tambah kecepatan kemajuan zaman. Seakan-akan hari ini kita berlari tiada henti, tiada istirahat. Dan akhirnya lelah. Lelah fisik dan lelah mental. Sebab hidup terlalu mengontrol manusia. Dan manusia tidak punya daya untuk mengontrol keadaan. Akhirnya hidup berjalan tanpa ada makna. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hidup tanpa makna. Sama saja robot jadinya. Kalau baterainya mati, tinggal ganti. Kalau manusia sakit, tinggal berobat, habis itu gas lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kecepatan zaman memang tidak bisa kita kendalikan. Tapi bukan berarti kita asal ikut saja dengan zaman. Tidak! Bisa gila kalau mau ngikutin zaman. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kecepatan zaman itu ibarat ombak di lautan. Bisa membunuh. Tapi bisa juga dimanfaatkan oleh manusia sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Dijadikan surfing misal. Tergantung bagaimana kemampuan manusia bermain-main dengan ombak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Zaman pun begitu. Kita bisa tenggelam dengan kemajuan zaman. Namun di sisi lain bisa juga bermain-main dengannya. Kalau tidak mau main ombak, tinggal menepi saja di garis pantai. Melihat orang tenggelam karena ombak ataukah bermain-main dengan ombak. Di sinilah seni hidup lambat hadir. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seni hidup lambat mengajarkan kita untuk sejenak keluar dari hiruk pikuk duniawi. Melihat kembali ke diri sendiri dan lingkungan. Mengkalibrasi diri. Mencoba memahami diri sendiri. Memaknai dan mengevaluasi hal-hal yang sudah kamu lakukan selama ini. Berkontemplasi pelan-pelan sembari menerawang masa depan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat sekeliling, manusia, hewan, tumbuhan, dan alamnya. Mencoba melihat dengan hati. Mendengarkan dengan hati. Menyentuh. Mungkin akan lahir suatu pemahaman baru dari situ. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namanya juga slow living. Maka buang semua hal yang berbau cepat, cepat, dan cepat. Mari mulai hidup dengan santai. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak perlu terburu-buru. Ngapain juga terburu-buru, gak ada yang ngejar juga kok. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan hidup yang santai kau jadi lebih bisa menikmati hidup, menikmati perjalanan ini. Simpan dulu hp mu&#8211;karena itu sumber distraksi terbesar. Tinggalkan sejenak hiruk pikuk dunia maya. Jalanilah kehidupanmu dengan sungguh-sungguh dunia nyata. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gak moto dong? Ya, dokumentasi memang perlu. Tapi tidak semua juga perlu didokumentasikan. Iya kan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ngobrol dengan teman lama tanpa megang hp bisa lebih bermakna daripada nanya kabar sebentar, sudah itu balik ke hp masing-masing. Haduuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Slow living juga bisa membantu untuk lebih mengenal diri sendiri lebih dalam. Apa yang sebenarnya yang menjadi keinginanmu selama ini. Tujuan hidupmu, prioritas-prioritas dalam hidupmu, komitmen untuk hidup disiplin. Karena slow living menuntut manusia untuk merenung. Merenungi apa yang dilakukan selama ini dan apa yang mau dia lakukan kedepannya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kau sudah mengenali dirimu sendiri. Maka mudah bagimu untuk melangkah. Kau telah mengetahui arah dan tujuannmu. Kau juga tahu apa yang harus kau lakukan untuk menuju ke arah tujuan. Slow living akan membantumu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ingat slow living bukan berarti malas-malasan. Slow living adalah media kontemplasi untuk recharging energi yang sudah habis. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kau siap, kapan pun kau bisa masuk kembali ke arena mengikuti kecepatan dunia. Dan sekarang kau ingat bahwa kau punya rem yang bernama sow living.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di zaman modern seperti sekarang ini, kecepatan menjadi simbol superioritas. Sebab semuanya dilihat berdasarkan tolak ukur kecepatan. Di kantor pemerintahan yang berbasis layanan, standar pelayanannya berdasarkan waktu. Ngurus dokumen ini itu semua sudah dipampang jelas berapa lama waktu pelayanannya. Semakin cepat tentu lebih baik. Swasta apalagi. Bagi swasta, kecepatan adalah salah satu aspek terpenting mengukur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-353","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=353"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":356,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/353\/revisions\/356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}