{"id":349,"date":"2024-06-13T03:21:53","date_gmt":"2024-06-12T20:21:53","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=349"},"modified":"2024-06-13T03:21:53","modified_gmt":"2024-06-12T20:21:53","slug":"gaya-menulis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=349","title":{"rendered":"Gaya Menulis"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya senang baca dan saya sudah membaca banyak bacaan. Untuk dikatakan hobi baca gak tau juga, soalnya kadang saya pun malas baca. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan tentu ditulis oleh seorang manusia. Kalau zaman sekarang AI juga sudah bisa nulis sih. Oke kita bicara tentang tulisan yang ditulis manusia saja dan bukan AI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari semua bacaan yang saya baca, entah itu koran, buku, majalah, media online, ataupun medsos. Dengan genre tulisan fiksi, non fiksi, opini, berita, feature, novel, roman, cerpen, dll. Saya sepertinya tipe orang yang senang dan terkagum-kagum dengan tulisan-tulisan yang lugas, tidak bertele-tele, bahasa yang cenderung sederhana, tidak terlalu intelek, menghujam nurani dan nalar, dan bisa merajut fakta, teori, dan imajinasi yang berserakan menjadi satu rangkaian tulisan yang utuh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukannya gak suka juga dengan tulisan yang mendayu-dayu atau nyastra. Saya juga suka dengan tulisan kayak gitu. Saya juga baca novelnya Andrea Hirata dan saya menikmatinya. Andrea Hirata punya kekuatan merangkai kata dengan indah, yang membuat pembacanya seperti mengawang-awang di awan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan juga buku-buku karangan Andrea Hirata sepertinya novel semua&#8211;paling tidak itu yang kutahu. Dan salah satu kekuatan tulisan fiksi adalah kedalaman merangkai kata yang indah, yang enak didengar, yang dijadikan status WA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan yang rodok intelek juga saya suka. Dan memang tulisan ini penting. Tulisan kayak gini biasanya untuk genre non fiksi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan kayak gini bisa membantu kita sering-sering buka KBBI atau Tesaurus. Dengan sering buka kamus tentu akan memperbanyak kosa kata baru. Sudah jelas menambah pengetahuan baru. Namun tulisan kayak gini biasanya bacanya gak bisa cepat. Soalnya perlu memahami maknanya juga kan. Apalagi kalau tema bahasannya memang berat. Tergantung keenceran otak lah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Saya sendiri menyukai tulisan-tulisan yang bahasanya lugas dan sederhana, mengasah nalar dan hati, dan yang paling menakjubkan adalah bagaimana penulis mampu merangkai fakta, pengetahuan, dan imajinasi menjadi satu tulisan yang utuh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sama halnya dengan musik. Saya bukanlah penggemar berat salah satu band atau penyanyi&#8211;dulu mungkin iya. Pun dengan penulis, saya bukanlah penggemar berat salah satu penulis. Bagiku, musik sama halnya dengan buku. Penghargaan terbesar kepada musik dan buku (juga kepada penyanyi, band, atau penulisnya) adalah dengan cara menikmati karyanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua karya akan menemukan penikmatnya sendiri. Ada karya yang bisa dinikmati banyak banyak orang. Ada juga karya yang mungkin hanya dinikmati oleh segelintir orang, segmented. Tidak masalah. Selama itu adalah karya orisinil, tidak ada yang perlu dipersoalkan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penulis yang sesuai dengan seleraku&#8211;tulisan juga soal selera, mirip masakan&#8211;diantaranya: Tere Liye, Dandhy Dwi Laksono, Soo Hok Gie, Dan Brown. Dan masih banyak lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelihatannya kebanyakan penulis besar ya. Iya, saya memang tidak terlalu ngulik orangnya. Kebanyakan tahunya penulis-penulis besar saja. Hehehe..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya kagum dengan produktivitas Tere Liye. Penulis penuh misteri dari Sungai Musi. Novel-novel Tere Liye memang bahasanya sederhana, khas masa kini. Makanya kebanyakan fansnya anak-anak remaja. Tapi bukan berarti beliau tidak pernah nulis yang serius. Lihat saja akun ig-nya. Isinya nyerang pemerintah semua. Tapi sampai saat ini masih lolos-lolos saja dari sergapan aparat. Padahal biasanya yang kayak gini langsung di buser deh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebenarnya kalau si Tere Liye ini mau, dia bisa jadi kolomnis tetap di salah satu koran besar. Tulisannya betul-betul bernas dan menohok. Tapi sepertinya beliau lebih senang dengan media novel menuangkan uneg-unegnya. Tidak masalah lah. Selera masing-masing orang kok.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terus ada Dandhy Dwi Laksono. Sekarang saya lagi baca bukunya yang berjudul Indonesia For Sale. Buku yang ditulis tahun 2009, zamannya pak SBY masih berkuasa. Namun masih relate sampai saat ini. Pemerintahannya gak ada perubahan berarti ya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awalnya saya tahunya beliau adalah seorang jurnalis. Yang kemudian beralih profesi menjadi sinematografer indie. Dia memproduksi sendiri film-film dokumenternya. Kalau buka youtube, coba aja mampir di channel Watchdoc Documentary dan Indonesia Baru. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tipe wartawan berani&#8211;mungkin itu alasannya gak tahan kerja di perusahaan media, mungkin loh. Channel youtube-nya berisi dengan konten-konten yang sensitif bagi aparat. Menyoroti isu yang gak banyak beredar di masyarakat namun sangat penting, karena menyangkut public interest. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal lingkungan, hukum dan keadilan, ekonomi dan kesejahteraan adalah spesialisasinya. Ditopang pengalaman bekerja di perusahaan media, membuat filmnya memang sangat membekas, mencerahkan, dan ada sisi menghibur. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*****<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti musik, tulisan itu dinikmati. Bagaimana dampaknya kepada manusia itu urusan nanti. Apalagi ditengah masyarakat yang minim literasi seperti di Indonesia. Membaca adalah sebuah gerakan yang perlu didukung dan diberi ruang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membaca akan memberikan pengetahuan baru dan kebijaksanaan. Mengasah empati dan sesekali bisa bikin quotes cantik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara terbaik untuk membiasakan membaca adalah dengan menikmatinya. Dengan menikmati, semua akan berjalan lebih mudah. Lebih mudah membaca, mudah masuk ke dalam hati, mudah menjadi empati, asalkan niat tulus selalu menyertai. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal niat ini memang urusan pertama. Ibarat registrasi. Kalau registrasinya ke arah yang salah, outputnya pun jadi salah. Kalau registrasinya ke arah yang benar, tentu akan berjalan ke arah kebenaran. Jadi salah registrasi kalo membaca ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya senang baca dan saya sudah membaca banyak bacaan. Untuk dikatakan hobi baca gak tau juga, soalnya kadang saya pun malas baca. Tulisan tentu ditulis oleh seorang manusia. Kalau zaman sekarang AI juga sudah bisa nulis sih. Oke kita bicara tentang tulisan yang ditulis manusia saja dan bukan AI. Dari semua bacaan yang saya baca, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-349","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/349","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=349"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/349\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":351,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/349\/revisions\/351"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}