{"id":241,"date":"2024-03-29T14:00:44","date_gmt":"2024-03-29T07:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=241"},"modified":"2024-03-29T14:00:44","modified_gmt":"2024-03-29T07:00:44","slug":"snmptn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=241","title":{"rendered":"SNMPTN"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun 2011 saya lulus SMA, setelahnya kemudian lanjut kuliah. Walau sempat terbersit obsesi <em>pengen<\/em> jadi tentara. Pada kenyataannya obsesi tinggallah obsesi. Paling realistis memang kuliah saja, mengingat postur saya yang segitu-gitu saja. Hahahah..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mau lanjut kuliah dimana saya setelahnya? Pertanyaan ini sudah terpikirkan sejak saya kelas X SMA. Pada saat kelas X atas saran bapak, saya diarahkan ke teknik infomartika, alasannya karena teknik informatika mempunyai masa depan cerah mengingat teknologi komputer makin hari makin canggih. Dan ternyata benar, alumni teknik informatika hari ini benar-benar menikmati masa jayanya. Namun bukan itu pilihanku. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lanjut ke kelas XI SMA, tiba-tiba saja <em>pengen <\/em>masuk teknik pertambangan, alasannya: karena bekerja di bidang pertambangan duitnya banyak. Dan memang benar, dari dulu hingga sekarang dunia pertambangan senantiasa menawarkan gaji yang tinggi. Namun bukan itu pilihanku. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kelas XII, tahun-tahun terakhir SMA mulai serius kupikirkan jurusan apa yang akan kuambil setelah lulus SMA. Setelah menimbang-nimbang dengan saksama, akhirnya kuputuskan memilih jurusan teknik elektro. Dan inilah saya hari ini, suatu keputusan yang tidak pernah kusesalkan, akhirnya saya hidup berpondasikan teknik elektro. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana kamu memilih jurusan apa yang akan kau ambil di perkuliahan nanti? Tidak sedikit siswa SMA yang terganggu dengan pertanyaan ini. Ada banyak sebab mengapa remaja tanggung galau dengan pertanyaan ini, diantara sebabnya: pertama, belum mengenali diri sendiri. Ya benar banyak orang belum mengenali dirinya sendiri. Jangankan anak SMA, orang dewasa pun masih banyak yang belum mengenali dirinya sendiri. Jika diri sendiri saja tidak kenal, bagaimana mau melangkah, kan bingung. Kedua, adanya campur tangan dari pihak luar, sehingga pertimbangan-pertimbangan menjadi bertambah dan akhirnya bingung sendiri. Campur tangan ini malahan datangnya kebanyakan dari keluarga sendiri, entah itu orang tua, kakak, atau keluarga dekat lainnya. Masukan-masukan yang banyak itu pada akhirnya membuat anak SMA jadi bingung mau pilih apa. Coba saja bayangkan, kamu masuk ke restoran dan lihat menunya yang begitu banyak. Kan bingung sendiri mau pilih apa. Justru semakin sedikit pilihan, semakin kita gampang menentukan.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kembali ke saya, <em>flashback<\/em> sejenak ke masa SMA. Bagaimana saya kemudian memilih teknik elektro sebagai petualangan berikutnya. <em>Simple<\/em> saja, apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang saya suka, dan apa yang tidak saya suka. Premis-premis itu membantu saya menemukan jawabannya. Dan beruntung, orangtua saya tidak begitu menuntut saya untuk memilih jurusan tertentu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bapak, hanya memberikan gambaran tentang jurusan-jurusan itu tanpa mengarahkan secara khusus jurusan apa yang harus saya ambil. Kalau ibu sebenarnya meminta saya untuk mengambil kedokteran sebagai pilihan pertama&#8211;yeah obsesi kebanyakan orang tua <em>pengen<\/em> punya akan dokter&#8211;namun saya sampaikan ke ibu bahwa saya tidak senang pelajaran biologi. Kalau sudah jamnya biologi, saya banyakan izin kencing, tapi sebenarnya mampir di kantin sambil <em>nungguin<\/em> pelajarannya selesai. Alhamdulillah ibu bisa mengerti alasanku. Heheheh..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi sebenarnya kamu itu mau apa Riun? Oke kita mulai analisisnya. Di tahun 2011, umumnya penerimaan mahasiswa baru di tiap kampus itu ada 3 jalur: jalur undangan, SNMPTN tulis, dan mandiri. Dua yang petama diselenggarakan secara nasional. Sedangkan jalur mandiri, pelaksanaanya diserahkan kepada kampus masing-masing. Jalur mandiri, bisanya terbagi 2 lagi, ada Jalur Non Subsidi alias JNS dan jalur prestasi&#8211;di UNHAS waktu itu namanya POSK. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Celakanya, jalur undangan hangus dengan konyol karena kebodohan dari sekolah. Ya entahlah ngapain aja guru-guru di sekolahku waktu itu. Lah kok gak diurus yang jalur undangan. Jadinya sisa 2, SNMPTN tulis dan mandiri. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Di SNMPTN tulis sendiri, ada 3 kategori peminatan: IPA, IPS dan IPC. IPC ini singkatan dari Ilmu Pengetahuan Campuran. Jadi kalau ada anak IPA mau <em>nyebrang <\/em>ke IPS atau sebaliknya, harus mengambil peminatan IPC. Keuntungannya pilihan jurusannya jadi<em> nambah <\/em>satu, yang dimana IPA dan IPS hanya boleh milih 2, IPC jadinya bisa <em>milih<\/em> 3. Namun ujian tulisnya anak IPC bertambah pelajaran lintas jurusan. Anak IPA jadi harus kerjakan soal IPS juga, dan anak IPS harus ngerjakan soal IPA juga. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan pertamaku tentu saja teknik elektro. Jadi analisisnya <em>gini, <\/em>karena saya senang sains, secara spesifik yaitu fisika dan matematika&#8211;walaupun tidak begitu pandai&#8211;dan tidak senang biologi dan kimia, maka saya carilah fakultas apa yang banyak melibatkan dua subjek itu dalam keilmuannya, tentu saja fakultas teknik. maka saya pilihlah fakultas teknik. Nah, di fakultas teknik itu masih banyak jurusan yang tersedia, maka masuklah seleksi tahap kedua: saya buruk dalam menggambar. Maka teknik sipil, arsitektur, perkapalan, planologi dicoret dari daftar. Teknik mesin gimana? Ya sempat bingung juga soal ini, mau nyoret atau tidak. Soalnya teknik mesin juga banyak melibatkan fisika dan matematika dalam keilmuannya, tapi pada akhirnya saya ciret juga karena ternyata menggambar tekniknya anak mesin memang benar-benar ribet. Hahahaha..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan akhirnya tersisa teknik elektro, informatika, dan pertambangan. Pertambangan saya coret karena pertimbangan kimia. Dalam benakku waktu itu, teknik pertambangan sepertinya akan ada pelajaran kimianya soalnya kan berkaitan dengan zat kimia bebatuan, dll. Informatika saya coret karena sepertinya minim aspek fisikanya, kebanyakan matematika dan logika. Dan jadilah teknik elektro sebagai pilihan pertama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan keduaku waktu itu pendidikan fisika. Sempat bingung juga mau ambil apa di pilihan kedua. Saya senang fisika tapi tidak mau jadi guru, pengennya bekerja di perusahaan swasta maka itu teknik elektro jadi pilihan pertama. Pilihan kedua gimana, mau ambil MIPA fisika, tapi gak tau mau ngapain kalau sudah lulus. Ya sudah, paling realistis pendidikan fisika saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan terkahir manajemen. Kalau ini yg ini sudah longgar saja milihnya. Saya pilih fakultas ekonomi, secara khusus saya memilih jurusan manajemen. Jurusan ekonomi sudah umum banget, sedangkan akuntansi sepertinya ribet. Jadi cari yang mudah-mudah saja, ambil saja manajemen. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*****<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi kalau saya ditanya sama anak SMA tips memilih jurusan, yah walaupun sepertinya gak ada juga yang bakalan nanya, maka saya cuma bisa jawab, &#8220;Maumu apa dek? Kamu mau kemana?&#8221;. Karena kehidupan setelah SMA adalah kehidupan dewasa awal. Apa yang diinginkan manusia dewasa kalau bukan kebebasan, kemerdekaan. Bebaskanlah imajinasimu, bebaskan keinginanmu. Itu adalah pertanyaan reflektif, perlu renungan sebelum menjawabnya. Tidak ada yang mengharuskanmu untuk kuliah. Jika ingin langsung kerja, ya carilah pekerjaan atau sekalian buka usaha. Mau jadi tentara, daftar TNI. Mau jadi polisi, daftar polri. Mau kembangkan skill, cari kursus. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang begitu banyak pilihan setelah SMA adik-adik sekalian. Dan tidak ada yang salah dengan semua pilihan itu. Entah kamu masuk kampus negeri atau swasta, sekali lagi tidak ada yang salah. Yang terpenting adalah membangun komunikasi, terutama dengan orang tua. Karena bagaimanapun kehidupan kita kedepannya, tetap saja ada orang tua yang selalu memantau. Apalagi kalau memang masih orang tua yang menjadi sponsor kehidupan, tentu orang tua harus diajak ngobrol terkait dengan pilihanmu itu. Kecuali kamu sudah punya uang sendir, sudah bisa mandiri, sudah punya usaha sendiri, sudah punya perusahaan sendiri seperti Steve Jobs, mungkin bisalah sombong sedikit. Hahahaha. Bercanda deh, walau bagaimanapun sombong itu gak boleh. Sombong itu sifatnya syaiton..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*****<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terakhir saya ucapkan selamat kepada yang lolos SNMPTN jalur undangan&#8211;atau apalah namanya sekarang ini. Semoga memang bukan salah jurusan (mesti saja ada yang salah jurusan). Selamat belajar di kampus impiannya. Dan yang belum lolos, ayo bangkit lagi. Dunia itu luas, cukup sedihnya. Masih banyak yang harus kamu kejar. Masih ada SNMPTN tulis menanti. Selamat berjuang semuanya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Note: Sorry ye, kalau masih pake istilah lama, SNMPTN. Yang nulis soalnya orang lama. Gak tau istilah barunya apa. Hehehe..<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahun 2011 saya lulus SMA, setelahnya kemudian lanjut kuliah. Walau sempat terbersit obsesi pengen jadi tentara. Pada kenyataannya obsesi tinggallah obsesi. Paling realistis memang kuliah saja, mengingat postur saya yang segitu-gitu saja. Hahahah.. Mau lanjut kuliah dimana saya setelahnya? Pertanyaan ini sudah terpikirkan sejak saya kelas X SMA. Pada saat kelas X atas saran bapak, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-241","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/241","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=241"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/241\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":243,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/241\/revisions\/243"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=241"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=241"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=241"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}