{"id":1106,"date":"2025-11-06T15:39:47","date_gmt":"2025-11-06T08:39:47","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1106"},"modified":"2025-11-06T15:39:47","modified_gmt":"2025-11-06T08:39:47","slug":"dunia-kapitalis-di-mana-mana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1106","title":{"rendered":"Dunia Kapitalis di Mana-Mana"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kapitalisme telah keluar sebagai pemenang tunggal dalam ajang perang dingin melawan musuh bebuyutannya Komunis Sosialis. Faktanya sangat terang benderang: runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya negara komunis paling berkuasa saat itu, Uni Soviet. Tidak hanya menang, tapi menang gemilang, ibarat pertandingan Brasil melawan Jerman pada Piala Dunia 2014. Brasil yang raksasa sepak bola justru kalah tragis 0-7 melawan Jerman yang juga raksasa sepak bola. Tidak hanya itu. Kemenangan kapitalis tidak berhenti pada saat Uni Soviet bubar pada 1991, melainkan berlanjut sampai hari ini. Kapitalis hari ini telah masuk ke dalam urat nadi manusia, mengalir dalam darah, merasuki pikiran, dan juga menjadi alat gerak manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keracunan kapitalis ini akhirnya membuat hidup kita semuanya hancur&#8211;tentu saja mengecualikan orang-orang yang punya kapital. Si proletar melarat, orang miskin, atau mungkin yang setengah miskin ataukah setengah kaya, kembang kempis dadanya ambekan tiap hari. Menjalani hari-hari dengan hantu kapitalis di sisi kiri-kanannya, menemani malaikat Raqib dan Atid yang saban hari mencatat amal manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lihatlah sepak bola hari ini. Jadwal padat menumpuk sepanjang tahun. Kita ambil contoh negeri yang paling maju sepak bolanya: Eropa. Bayangkan saja, hampir satu tahun penuh seorang pemain memainkan paling tidak tiga kompetisi: liga domestik, piala, dan kompetisi konfederasi (UCL, UEL, Conference). Belum lagi jika klub tersebut main di Piala Dunia antar Klub, Piala Super Domestik dan juga Piala Super UEFA. Apa gak modar tuh dengkulnya pemain. Belum lagi di sela-sela akhir pekan ada FIFA Matchday. Ya, main lagi dong. Otomatis istirahatnya pemain hanya pada saat libur Natal saja 1-2 minggu. Pas kompetisi sudah selesai, ternyata sudah Piala Dunia. Main lagi deh. Secara, Piala Dunia pasti dambaan semua pesepakbola profesional. Ya, kecuali bang Dodo aja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadwal yang sudah sepadat itu, nyatanya masih mau ditambahi lagi sama opa Florentino Perez dengan ide Liga Super Eropa. Motifnya tidak lain tidak bukan adalah fulus. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitulah kapitalis mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menjalani hidup yang parpipurna versi mereka. Muda foya-fuya, tua kaya raya, mati masuk surga. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di depan seluruh umat manusia di segala penjuru dunia, dengan lantang kapitalis menyampaikan khotbahnya, bahwa ekonomi, uang, modal, materi adalah segala-galanya dalam hidup. Mencari keuntungan yang besar dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya adalah jalan hidup yang harus diambil oleh manusia bahkan tikus sekalipun. Ini adalah pedoman hidup yang menjadi kompas kehidupan manusia. Begitu kurang lebih sabdanya di podium. Dan semua manusia dan tikus yang hadir hari itu mengamininya. Jadilah kita semuanya rakus dan oportunis, memandang segala sesuatu hanya menggunakan kacamata ekonomi semata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat hanya dengan menggunakan kacamata ekonomi membuat manusia menjadi binatang. Rakus dan oportunis. Eh, tidak. Saya salah. Binatang masih lebih mulia, sebab masih memiliki perasaan. Hari ini manusia sudah tidak memiliki itu. Entah di mana mereka menyimpannya. Manusia hari ini kayak benda mati, seperti batu di jalan. Tidak bisa bergerak. Bergerak jika hanya ada dorongan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan saudara jadi rusak juga karena kerasukan setan kapitalis. Orang tua meninggal, punya 4 anak. Ada satu orang anak yang ingin menguasai sebagian besar harta orang tuanya. Dengan tega dia singkirkan semua saudaranya. Dia buat skenario canggih bagaimana supaya saudaranya tidak mendapatkan harta warisan dan dia menguasai harta wariusan itu seorang diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kapitalis juga adalah dalang kemiskinan hari ini. Ketimpangan kekayaan dan distribusi kekayaan yang tidak merata. 1% manusia menguasai 60% kekayaan. Rumah dan tanah yang seharusnya menjadi ruang hidup justru menjadi instrumen investasi. Dan tidak ada yang peduli dengan itu. Siapa juga yang peduli. Bukankah pejabat kita adalah kapitalis itu sendiri kan. Presidennya saja pengusaha kok. Pengusaha sudah pasti gaulnya sama pengusaha. Maka sudah pasti menterinya juga pengusaha. Pembisiknya pengusaha. Maka jangan heran jika kebijakan yang dibuat selalu menguntungkan pengusaha. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Racun kapitalis. Wabah kapitalis. Pandemi kapitalis. Setan kapitalis. Entah bagaimana menyebutnya lagi. Yang pasti dunia sudah rusak dan hancur lebur demi kapitalis. Salam kapitalis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapitalisme telah keluar sebagai pemenang tunggal dalam ajang perang dingin melawan musuh bebuyutannya Komunis Sosialis. Faktanya sangat terang benderang: runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya negara komunis paling berkuasa saat itu, Uni Soviet. Tidak hanya menang, tapi menang gemilang, ibarat pertandingan Brasil melawan Jerman pada Piala Dunia 2014. Brasil yang raksasa sepak bola justru kalah tragis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1106","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1106","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1106"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1106\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1110,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1106\/revisions\/1110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}