{"id":1098,"date":"2025-10-16T14:13:56","date_gmt":"2025-10-16T07:13:56","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1098"},"modified":"2025-10-16T14:13:56","modified_gmt":"2025-10-16T07:13:56","slug":"slo-yang-sudah-bergeser-dari-khittahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1098","title":{"rendered":"SLO yang Sudah Bergeser dari Khittahnya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sertifikat Laik Operasi (SLO) saat ini sudah jauh berbeda dengan ketika pertama kali saya masuk 2016. SLO 2016 adalah memverifikasi dan menjustifikasi hasil komisioning. Sedangkan SLO 2025, selain pekerjaan yang saya sebutkan barusan, kini juga harus melakukan komisioning itu sendiri. Tentu itu mengkhianati cita-cita dan gagasan kenapa SLO hadir di bumi pertiwi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan penuturan dari para sepuh kelistrikan nasional regional, SLO hadir karena adanya kebutuhan suatu lembaga independen berkompeten yang menilai dan menjustifikasi hasil komisioning yang dilakukan tim komisioning. Lembaga independen ini dalam melakukan pekerjaanya akan berpedoman pada mata uji SLO. Kini kita mengenal lembaga independen ini sebagai Lembaga Inspeksi Teknik (LIT). LIT ini berada di bawah naungan Kementrian ESDM. Kasarnya mereka adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam mengawal regulasi dan&#8211;harapannya&#8211;bisa mengurangi kecelakaan kerja dan kegagalan instalasi <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi cerita awalnya, tugas LIT bukanlah melakukan komisioning tapi MENILAI DAN MENJUSTIFIKASI hasil komisioning. Tapi apa yang terjadi hari ini sudah jauh melenceng dengan tujuan awal. Hari ini LIT juga dituntut untuk melakukan komisioning jika tidak ada hasil pengujian seperti yang dipersyaratkan oleh mata uji. Apa artinya dong dengan kata independen kalo gitu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan paradigma ini membawa implikasi yang besar sekali, karena dunia komisioning dan SLO jelas-jelas berbeda. Dan yang kena dampaknya sudah pasti LIT. Bertahun-tahun LIT hanya menilai dan menjustifikasi hasil komisioning, mereka kini dituntut harus melakukan komisioning juga. Itu dua hal sangat jauh berbeda. Kompetensi personil dan peralatan yang digunakan jelas jauh berbeda. SLO hanya mengecek hasil komisioning. Memastikan metode pengukuran dan alat yang digunakan sudah benar. Dan hasil komisioning memenuhi standar yang berlaku. Justifikasi oke. Mereka sejatinya tidak perlu alat yang super duper lengkap. Karena pekerjaanya memang base on document. Jauh beda dengan komisioning.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang komisioning sudah pasti alatnya jauh lebih lengkap dan mahal tentu saja. Karena alatnya mahal dan pekerjaanya tidak hanya base on document, sudah pasti harga jasanya juga mahal dong. Dan ingat, kompetensi orangnya pun juga berbeda karena perbedaan pekerjaan SLO. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemandangan ini kontras dengan SLO yang harganya murah karena memang pekerjaannya tidak berat. Cuman ngecek dokumen, kan. Ada yang tidak sesuai standar? Kembalikan ke tim komisioning. Nanti tim komisioning akan melakukan pengecekan ulang dan jika perlu melakukan pengujian ulang agar hasilnya memenuhi standar. Jadi memang wajar jika SLO harganya murah karena dalam seluruh rangkaian prosesnya, selama dokumennya lengkap dan memenuhi standar yang berlaku, maka SLO tidak memerlukan tindakan apapun terhadap instalasi. Paling cuman kunjungan site dan pemeriksaan visual. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi sekarang berbeda. LIT juga dituntut\/diperbolehkan melakukan pekerjaan komisioning jika tidak ada datanya. Dalam praktiknya, mata uji yang menjadi pedoman SLO yang dibuat oleh pemerintah itu kelewat idealis. Dan pengalamanku selama hampir 9 tahun berkecimpung di dunia SLO, tidak pernah ada satupun instalasi yang memenuhi 100% ketentuan mata uji. Itu berarti sudah pasti LIT harus melakukan komisioning jika ingin melengkapi 100% mata uji SLO. Sedangkan harga SLO berapa? Murah bangeeet. Harga fix SLO genset 600 kVA adalah Rp. 13.500.000. Dengan harga segitu harus include pengujian fire fighting, pengujian proteksi, interlock, pengukuran konsumsi bahan bakar, dan masih banyak lagi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mana mungkin dengan harga segitu mendapat servis premium. Tidak mungkin, kan. Makanya harga SLO murah karena memang pekerjaannya base on document. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi sekarang maunya pemerintah apa? SLO tetap pada khittahnya sebagai finisher dan memastikan instalasi listrik yang terpasang telah memenuhi semua ketentuan dan standar yang berlaku ataukah LIT juga dituntut harus melakukan pekerjaan komisioning. Kalau memang maunya LIT juga harus melakukan pekerjaan komisioning, maka buat saja aturannya bahwa pekerjaan komisioning harus dilakukan oleh perusahaan di bawah naungan Kementerian ESDM. Itu berarti LIT akan bertransformasi besar-besaran menjadikan semua personilnya kompeten untuk melakukan pekerjaan komisioning dan juga melengkapi perlatan kerjanya. Dan sebaliknya kontraktor komisioning bertransformasi menjadi LIT. Memenuhi segala aturan main menjadi LIT. Cuman ya gitu. Masalah kayak gini sepertinya tidak pernah menjadi perhatiannya pemerintah. Entah kapan akan diperhatikan. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sertifikat Laik Operasi (SLO) saat ini sudah jauh berbeda dengan ketika pertama kali saya masuk 2016. SLO 2016 adalah memverifikasi dan menjustifikasi hasil komisioning. Sedangkan SLO 2025, selain pekerjaan yang saya sebutkan barusan, kini juga harus melakukan komisioning itu sendiri. Tentu itu mengkhianati cita-cita dan gagasan kenapa SLO hadir di bumi pertiwi. Berdasarkan penuturan dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1098","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1098"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1099,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1098\/revisions\/1099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}