{"id":1076,"date":"2025-09-16T12:48:15","date_gmt":"2025-09-16T05:48:15","guid":{"rendered":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1076"},"modified":"2025-09-16T12:48:15","modified_gmt":"2025-09-16T05:48:15","slug":"cermin-tua-yang-masih-berguna-hari-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/riunmunir.com\/?p=1076","title":{"rendered":"Cermin Tua yang Masih Berguna Hari Ini"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksi Massa ditulis oleh Tan Malaka pada 1926 ketika berada di Singapura dan dalam status buron pemerintah kolonial. Ditengah himpitan hidup dan kesendirian, dia mampu melahirkan sebuah karya yang luar biasa. Dan apa yang ditulisnya hari itu, masih relate dengan kehidupan global hari ini wabil khusus kehidupan ekonomi dan politik Indonesia. <\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM-768x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1078\" style=\"width:556px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM-225x300.jpeg 225w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM-1152x1536.jpeg 1152w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM-1024x1365.jpeg 1024w, https:\/\/riunmunir.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-16-at-9.29.19-AM.jpeg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mencengangkan dan menohok. Itulah tanggapanku ketika membaca buku ini. Ya, cukup memalukan sebenarnya. Di usia hampir 32 tahun baru membaca tulisannya sang tokoh revolusioner, Tan Malaka. Tapi ya, gimana lagi. Mending memulai kan daripada tidak sama sekali. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua sepakat, Kapitalisme keluar menjadi pemenang setelah melalui perang dingin panjang melawan Komunis. Buktinya jelas: Uni Soviet terkubur dan Amerika Serikat menjadi negara adidaya&#8211;dan mengangkangi dunia dengan segala macam standar ganda dan hak veto yang omong kosong itu. Dan kini hanya tersisa lima negara yang menganut paham Komunisme: Tiongkok, Kuba, Laos, Vietnam, dan tentu saja negara paman Kim Jong Un, Korea Utara. Bahkan Tiongkok&#8211;yang kini menjadi lawan sepadan Amerika&#8211;tidak sepenuhnya Komunis lagi, kan? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya jadi teringat dengan potongan video pendek yang pernah saya temukan di Instagram. Saya lupa siapa yang ngomong, tapi kurang lebih maksud omongannya begini: &#8220;Tidak ada suatu negara yang ujug-ujug menjadi sosialis\/komunis. Karena menjadi sosialis berarti membagi kekayaan negara sama rata sama adil kepada semua warga negara. Sedangkan dari mana negara sosialis itu mendapatkan kekayaannya kalau bukan melalui sistem kapitalisme&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi memang terbukti menjadi kapitalis bisa mendatangkan kekayaan. Tapi dosa besar kapitalis juga tidak main-main. Menjadi kapitalis akan membuatmu menjadi manusia rakus dan oportunis. Dan semua hal: tenaga kerja dan alat produksi hanya dipandang tidak lebih dari seonggok benda yang tidak punya makna. Tenaga kerja dan alat produksi hanyalaha sebatas angka di atas kertas. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sistem kapitalis, kita mengenal dua kelas yang saling tarik menarik untuk mewujudkan tujuan kapitaslis: borjuis dan proletar. Borjuis adalah kelas yang menguasi modal: bisa berupa tanah, alat dan sistem produksi, dan mempekerjakan buruh dalam tujuan produksinya. Sedangkan proletar adalah kelas yang tidak mempunyai apa-apa kecuali tenaga yang hanya bisa dia jual kepada kaum borjuis&#8211;karena semua modal dikuasai borjuis&#8211;untuk medapatkan upah. Di mana upah yang dia dapatkan hanya cukup untuk mempertahankan hidupnya sampai tanggal gajian berikutnya. Kenapa upah buruh menjadi rendah? Karena buruh sendiri sudah menjadi komoditas dagang di pasar bebas tenaga kerja. Buruh dengan harga murahlah yang akan dipakai, sedangkan buruh yang harganya tinggi tentu saja tidak dipakai. Akibatnya pasar tenaga kerja buruh banting harga gila-gilaan. Upah buruh terus tertekan karena sistem kapitalis menginginkan seperti itu: modal sedikit tapi untung gede.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, kaum buruh juga akan menghadapi kenaikan harga hajat hidupnya. Sandang, pangan, papan, semua harganya naik&#8211;karena semua komoditas itu diproduksi oleh si kapitalis. Daya beli buruh menjadi lemah. Maka apa yang bisa dilakukan oleh buruh? Mereka hanya bisa terus bekerja dengan jam kerja lebih panjang. Itu berarti keuntungan di pihak kapitalis karena. Si kapitalis tidur nyenyak, dan buruh bekerja bagaikan sapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan sistem seperti itulah jurang perbedaan antara pemilik modal dan buruh akan semakin lebar dan dalam. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Itu berarti jurang perbedaan antara kapitalis dan buruh akan semakin lebar dan semakin dalam. Dan ini akan menjadi bom waktu. Seperti bisul besar yang siap pecah. Ketika bisul itu itu pecah, meletuslah revolusi. Adapun revolusi yang dimaksudkan Tan Malaka adalah &#8220;Aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan politik mereka&#8230;&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kembali kuingatkan kepada kalian bahwa buku ini ditulis tahun 1926, ketika Indonsia masih menjadi koloni Belanda. Pada saat itu kaum kapitalis diperankan oleh Belanda dan kaum buruh diperankan oleh rakyat Indonesia kebanyakan. Zaman di mana masyarakat kita melarat dan miskin. Bangsa Indonesia bahkan tidak memiliki kaum kapitalis sama sekali karena semua pabrik dikuasai oleh Belanda. Dan tambah miskinlah masyarakat Indonesia karena semua keuntungan hasil industri itu mengalir dengan lancar ke negeri kincir angin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan, hey! Apa yang terjadi hari ini? Rasa-rasanya kehidupan kita hari ini tidak jauh beda dengan kehidupan kita yang dibicarakan Tan Malaka, kan. Ya, ampuun! Sudah ada delapan presiden dan kehidupan kita masih sama saja dengan ketika masih dijajah Belanda. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, dan Prabowo. Dan hari ini kita masih dikuasai kaum kapitalis. 50% kekayaan dikuasai oleh 1% orang. Artinya apa? Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Oligarki yang hanya sekelompok kecil orang menguasai sebagian besar kekayaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehidupan rakyat kecil semakin susah sebab tentakel-tentakel oligarki juga ada di pemerintahan itu sendiri. Dan ya, sudah menjadi rahasia umum kalau oligarkilah yang membiayai pejabat-pejabat itu naik di kursi pemerintahan. Karena hajatan politik kita butuh dana besar. Orang yang kau anggap kaya sekalipun akan sulit memenuhi biaya politik yang terlampui raksasa itu. Maka oligarki hadir untuk memberi solusi. Dan tentu saja tidak ada makan siang gratis. Pejabat yang memenangkan kontestasi politik dengan berbusa-busa membawa nama rakyat akhirnya menjadi pengkhianat juga. Rakyat dikangkangi dan karpet merah diberikan kepada oligarki. Transaksi di bawah meja menjadi hal biasa. Dan sebagai balasannya karena berhasil menaikkan si pejabat di kursi penguasa, rakyat diberikannya hadiah kenaikan pajak dan kenaikan harga-harga makanan dan kebutuhan lainnya. Tarif listrik, BBM naik. Iuran BPJS tidak mau kalah. Harga beras melesat terbang dan tidak mau turun lagi karena sudah enak di atas. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rakyat kemudian marah dan melakukan protes. Demo besar-besaran terjadi di seluruh daerah seperti yang terjadi akhir Agustus kemarin. Aparat diturunkan. Polisi diberikan tugas mengamankan kondisi. Eh, bablas malah menjadi pembunuh. Polisi kewalahan, militer siap siaga. Kalau militer sudah turun. Wassalam sudah. Bagaimana tidak. Mereka punya segala senjata dan kendaraan tempur. Mulai dari pistol sampai senjata otomatis. Mulai dari kuda sampai tank, mereka semua punya. Masih syukur kalau dengan kekuatan seperti itu mereka tidak membunuh. &#8220;Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain rakyat diperbodoh. Memberikan pendidikan yang benar kepada rakyat bukanlah sebuah kebutuhan, sebab kalau rakyatnya pintar akan susah untuk dibodohi. Maka beternak rakyat bodoh harus selalu tetap berjalan. Jadi tidak perlu terlalu serius membicarakan proyeksi pendidikan kita 100 tahun ke depan. Lebih menarik membicarakan proyeksi kekuasaan 100 tahun ke depan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan apa yang mau aku bilang lagi? Ingat-ingatlah selalu bagi yang berkuasa. Tekanlah terus rakyatmu sampai batas maksimal. Gas terus sampai mentok. Pelihara terus kemarahan rakyatmu. Jangan berikan pendidikan yang benar dan baik. Pelihara terus api revolusi. Dan tunggulah saatnya tiba. Ketika guillotine memenggal kepalamu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aksi Massa ditulis oleh Tan Malaka pada 1926 ketika berada di Singapura dan dalam status buron pemerintah kolonial. Ditengah himpitan hidup dan kesendirian, dia mampu melahirkan sebuah karya yang luar biasa. Dan apa yang ditulisnya hari itu, masih relate dengan kehidupan global hari ini wabil khusus kehidupan ekonomi dan politik Indonesia. Mencengangkan dan menohok. Itulah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1076","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1076","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1076"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1076\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1081,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1076\/revisions\/1081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1076"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1076"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/riunmunir.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1076"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}